Skip to main content

Posts

Showing posts from March, 2018

Melarat

Cintaku begitu melarat kepadamu, cuma ada sabuk, baju, celana dan beberapa sempak yang jarang aku cuci. Begitulah kekasih jika kau berpacaran dengan penyair belum tenar, apalagi sekarang aku diserang komentar nahas kau tak aku perhatikan kembali. Maukah kekasih jika aku lamar dirimu mas kawin seperangkat alat menulis puisi dan beberapa honor dari redaksi untuk sewa hiburan dan makan (Itu pun jika puisiku tak bikin mules) Semelaratnya cintaku padamu kekasih tak akan aku biarkan kamu kedinginan kelaparan menjual puisiku ke jalan dan menangis kekeringan uang. Kekasih mencintaimu butuh kesabaran dan keteguhan diterpa badai persaingan sebab bagiku mencintaimu adalah puisi yang panjang kadang sansai.

Mencari Isu Kehidupan dalam Pentas Monolog “Sepertiga Malam” karya Salim Putra Ladiamu

Sepertiga Malam merupakan sebuah   pentas monolog babak atau monolog yang berfragmen-fragmen yang diaktori oleh Hendri Pramono, dan ditulis oleh Salim Putra Ladianu. Pentas tersebut secara garis besar mengangkat isu perbedaan agama. Dalam masyarakat agama merupakan hal yang sangat vital, dan sangat mempengaruhi kehidupan berumahtangga. Manusia akan mencari pasangan yang satu keyakinan, ini merupakan realita yang terjadi di kalangan muda maupun tua. Seolah-olah manusia tidak bisa hidup berdampingan dengan agama lain atau manusia hanya ingin hidup dalam hal yang sama. Begitu pun dalam keluarga, anak akan mengikuti agama yang diyakini oleh kedua orangtuanya, hingga munculnya istilah “Agamaku, agama orangtuaku”. Sejatinya anak ketika berumur 17 Tahun, memilih agamanya sendiri tanpa adanya diskriminasi ataupun hukum masyarakat. Dari isu perbedaan agama itulah naskah “Sepertiga Malam” ditulis sebagai konteks sudut pandang   penulis naskah terhadap masyarakat. Pertunjukan d...

Hal-hal yang Mudah Dihafal

Batu. Jika engkau marah, lempar batu hatiku ke arah mata hatimu. Engkau akan mendengar dengung yang tak asing pernah masuk kupingmu. Cinta. Setelah umur remaja engkau akan merasakan cinta tak seenak gorengan kantin. Banyak minyak dan engkau air yang hanya ingin berdampingan. Hujan. Masuk angin bermula engkau hujan-hujanan. Lalu, ibumu marah. Malamnya engkau minta dikerok, dan jadilah selukisan air hujan dan kenangan di punggungmu. Mata. Sakit mata itu sumpah tidak enak. Apalagi engkau sengaja menyakiti mata dengan pura-pura jujur dari dua matamu. Rambut. Tak ada urusannya gondrong dengan etika bobrok. Gondrong masih boleh mengucap salam dan sholat, sebab gondrong adalah kebebasan tanpa sia-sia.

Selepas Kau Pergi

Sebelum matahari mengambang kau datang kepadaku dan mengetuk pintu hari ini kau benar-benar pergi dengan ransel besar dan setumpuk jadwal latihan; cita-citamu sebagai pemain teater sungguhan, segera dimulai. Kepada kerinduanku yang berkecambah selepas punggungmu menjadi latar di mataku kau berpamitan juga kepada kesunyian kau menitipkan aku supaya menenung di mana kita akan berpelukan setelah memperkirakan perpisahan berikutnya. Sisa jingga sendirian di depan halaman kepak gereja yang buru-buru dan kabarmu yang mungkin nyangkut gawaiku sepi bayanganmu menepi. Mengingat langkahmu tadi pagi adalah cara lain untuk bertembung yang sekaligus menuntunku bahwa cinta kadang perlu sendiri.

Matamu Menaklukkan Aku

Wajahku memantul di hitam mata teduhmu menyimpan hening yang tenang, tiada penghujan yang panjang di sana, hanya musim gugur daunan sakura menyambut kedatanganku melangkah meminang cintamu dan kamu sudah bergaun sewarna terang di dadaku. Pada suatu waktu matamu menuangkan sore yang indah bagi burung-burung rindu dalam kandang. Lalu, aku merekam warna senja menempel di antara dua sayapnya. Agar kelak jika ingatanku rubuh aku masih bisa mengenangmu dalam keremangan yang tak berkesudahan itu. Perempuanku, tiada selain matamu yang menaklukkan aku, tiada selain darahku yang ingin kudagingkan kepadamu.