Skip to main content

Posts

Showing posts from November, 2016

Memeluk Jarak

Rindu memelukku; jarak memutar tubuh. Bayang dan kenang menyala Meringkuk dan diringkus rasa; sama seperti rindu pertama bergelayut. Aku dan kata kembali bertuah. Rindu: kau sebut cinta Bila cinta tak sama dirasakan rindu. Aku kembali bertanya pada kata: "Lalu, siapakah yang memutarku?" Rindu hilang, mata terpejam Siluet nyata kembali bertuan; aku dan kata tak lagi bertuah. Rindu ada, mata terbuka. Jarak membentang: cerita dan cinta terpisah. Mungkin, aku harus segera melipat jarak. Agar ruang kosong kembali rapih; cerita dan cinta. Kau dan Aku: membeci jarak. Menyesatkan, Melukai, Merindukan mengganti sesuatu yang dicintakan; dengan bayang dan kenang.

Hilang Kembali Ada

Kau hadir Setelah kami berpisah Dia dibalik beton-beton Aku dibalik anyaman bilik-bilik Jiwa yang terbaring Di bawah laci langit Bersama cinta dan dusta Kau menggentarkan raga Membawa berita Bahwa cinta hidup kembali Tanpa status aku penjilat ludah Kau lipat beribu sangka Yang hadir di atas waktu dan cerita Kami tak mungkin berpisah Jika kau menjilat rasa

Yunpiana Relief Sukabumi

Untuk P.Y Inikah tanah yang kupijak Dan langit dijunjung Memenjara tapak kaki Relief tanah Sukabumi Tanah bersaka rindu jelumat Beratap bayang Hamburan gunung perkasa Hanya pajangan dinding Beton yang lentur Entah pintu keberapa Yang kumasuki Penuh hias Sampai kunci-kunci Kubuang kesemak-semak bayang Kupunggungi beraturan Tanah yang kusebut rantau Menyuguhkan hujan-hujan Berjilid keindahan Tampak merona; bubuhi hati Penuh luka-luka Kurasa waktu harus berhenti Agar tapak-tapak kakiku Memenuhi ladag-ladang Aku harus rebah lebih lama Agar hujan-hujan  Meluapkan luka-luka Putuskan rantai-rantai lirih Namun, jika hatiku Berhasrat memeluk gunung Memindai kenangan Aku harus kembali Meninggalkan hujan-hujan Agar Sukabumi tersenyum Melihatku memahat relief baru

Hujan Berpayung

Gelegar mencuat Di ranah cakrawala Kilat bercabang Hiasi dan putihkan Siapa yang memandang Tutup telinga atau dengarkan Cinta atau derita Mega mendung bertubuh gempal Tutupi penyinaran Manusia-manusia lari Ke tepi sudut Mencari kehangatan Yang habis terjual Butir kenangan jatuh Lembabkan darat Luapkan laut Lunturkan kenang baru Ingatkan kenang lama Kecuali, dia yang berpayung Tegar Atau tidak ingin kenyataan. Semua berharap  Hujan berhenti Perjalanan masih jauh Tak ingin lelap Dalam menanti atau Terjun ke lekuk Biarkan kenangan Teman langkah kaki.

Bala Hitam

Lagi, Padang biru hilang Bala hitam berperisai Menahan sepasang mata Penuh lara mendera Menanti indahnya asmara. Lagi,  Rintik kacau berserak Berirama hilang pola Basahi partitur cinta Not bahagia dan ceria Hilang tak bernada Lagi, Gemuruh kilat Menyambar kenangan rindang Menyayat telapak tangan Tak indah tanpa genggaman Lembut penuh kasih, oh sayang. Lagi, Kulukiskan rautmu Dalam cawan berisi harapan Hangat tiap tegukan ruang Buih menempel di bibir Tak ku tak hilang juang Lagi,  Penaku habis.

Sumpah Jagat Nusantara

Waktu belum tertidur Jasad masih meronta Mata menyala Tangan cengkram merdeka Darah muda Benih senjata bangsa Amunisi penembus lara Berderet di padang Nusantara Bentangkan sayap garuda Bertengger di dahan dunia Tundukkan kepala Sumpah satu rasa Tenggelamkan Himalaya Surutkan Samudera Leyapkan noda Buang dari darah Nusantara Wahai, darah muda. Kuncupkan dunia Tutup dengan rajutan Merah Putih Koyakkan ragu Teguhkan mimpi Hari ini Sumpah satu suara Mengaung di jagat Nusantara "Sumpah Pemuda Indonesia"