Semenjak notifikasi plagiarisme muncul lagi di berbagai media sosial pada beberapa minggu lalu, timbul pertanyaan “Kenapa seseorang memilih untuk menjiplak ketimbang mikir?”. Saya sempat punya ide bagaimana kalau seseorang yang melakukan plagiat tersebut diberi panggung untuk membicarakan proses ketidakkreatifannya. Layaknya seseorang yang berhasil menjuarai event menulis kreatif atau berhasil tembus di media cetak atau online paling tersohor. Setidaknya kita bisa tahu bagaimana cara membangun rasa percaya diri dengan membawa karya orang lain. Satu hal yang saya yakini bahwa sang plagiator adalah orang yang “cerdas” dan bisa jadi suka membaca. Hal ini terlihat dari cara plagiator memilih karya yang tidak sembarangan. Artinya, sebelum melakukan penjiplakan ada proses memilih dan membaca, dari proses itu plagiator tahu karya mana saja yang dapat mendongkrak popularitasnya. Misalnya saja Chairil Anwar, penyair yang karyanya kerap kali dipilih untuk diplagiat. Kasusn...