Skip to main content

Posts

Showing posts from December, 2016

Kursi Merah-Marun

Cukup untuk tiga puluh-lima menit Ruang makan bernuansa tanah Jawa Kursi merah-marun didekor sempurna Peluh luluh tersiur aroma hidangan Pandang menyelasar asal aroma Tiada waktu bercerita kelam Ruangan ini telah diatur kedap pengecualian Menyeka harta kemudian kasta Ventilasi, bahagia menyeruak Hilir-mudik melaluinya. Tiga puluh pasang mata Menatap lamat-lamat meja penyajian Menunggu yang dipesan Sebuah kepastian dari ruang perapian Menit pertama, hening. Menunggu pemimpin melakukan tugas. Menit kedua dan dua puluh-delapan menit berikutnya Terendam kenikmatan santapan Peramu saji melekatkan Keramah-tamah di atas tampan Suara bengis roda-roda kendaraan Melucuti separuh pendengaran Kami lupa menutup pintu jati itu Prismatis mulai masuk, di menit akhir. Tidak semua yang indah dimulai huruf A Masih ada dua puluh-enam di belakang Dan, kami keempat dari h...

Bidak

Kupandang miniatur lengkap dengan warna catur. Pion-pion berjalan membuka jalan. Semua sepakat tutur peraturan tersebut. Siasat diasah, serupa pedang atau parang. Mata memaku pergulatan bidak. Mencari simpangan untuk Menyelusup jantung pertahanan. Salah perhitungan, kau salah. Jika kau picik, aku mengalah. Ingatlah, bidak itu hanya 700 gram. Mengapa kau taruhkan semua, sampai mematung. Mana yang kau sebut serupa manusia. Pion, kuda, gajah, benteng, ratu, atau raja. Atau kau tak pernah tau, Siapa sebenarnya kau dalam peran. Perhatikan rajamu, beri dia jalan. SKAK ; Kau berakhir.

Mantel

Lipat kemudian gulung pakaianmu, layaknya backpacker memuja daratan. Susun rapih : anggap dunia tak menghamburkan nanti. Bawalah kamus dan rumus. Simpan di depan, supaya kau paham ketaksaan pohon merelakan daun. Melangkah secukupnya, pijak sekuat pengharapan. Angin akan terus berusaha menghempasmu. Dalam ngarai belum sempat kau rumus dan bahasa belum sempat kau bahas Hiruk dan lekuk peraduan angin. Tanggalkan tapak keluh. Hujan mengurai setelah kau berteduh. Kencangkankan keteguhan : badai datang. Bahkan kawanan burung Kembali dalam naungan. Liliti diri dengan mantel ibumu. Hangatnya membeku. Seolah dia tahu badai itu. Sebelum kau kemasi pikiran Dari yang menjatuhkan. Tunggu apalagi, badai reda. Dia telah menunggu Ikutlah disampingku. Sekali lagi, kencangkan keteguhanmu...