Skip to main content

Posts

Relasi Lebih Penting daripada Prestasi untuk Mendapatkan Pekerjaan

  SUDAH menjadi rahasia umum salah satu faktor keberhasilan untuk mendapatkan pekerjaan adalah relasi. Kondisi seperti ini tentu menguntungkan bagian sebagian orang yang diwarisi relasi oleh keluarga atau mereka yang membangun relasi sejak duduk di bangku sekolah/kuliah. Mereka yang memiliki relasi memiliki harapan dan peluang yang lebih besar dan terjamin. Jika dilihat sekilas semua pelamar kerja memiliki kesempatan yang sama besar, tetapi hal ini tidak berlaku bagi mereka yang telah lebih dulu mencuri start yaitu memiliki relasi dalam perusahaan/instansi yang bersangkutan. Misal ada dua orang yang melamar pada perusahaan yang sama, tetapi salah satu di antara mereka memiliki relasi di dalam perusahaan tersebut. Pemenang dari kedua pelamar tersebut sudah pasti yaitu orang yang memiliki relasi. Sekali pun perusahaan mengadakan tes seleksi, hal tersebut hanya suatu formalitas belaka. Lalu bagaimana jika semua pelamar dalam satu perusahaan memiliki relasi dan perusahaan ha...
Recent posts

Menanggapi Harapan yang Hancur

  Pada usia yang tidak lagi memikirkan liburan atau tempat nongkrong setiap weekend , menyusun mimpi atau target tahunan yang kadang kurang rasional hanya buang-buang waktu. Semalaman setelah tahun baru biasanya kita termenung mengingat apa yang gagal dan apa yang berhasil dicapai. Semakin sedikit capaian yang berhasil, semakin kita menilai diri sendiri lebih buruk dari sebelumnya atau memberikan sugesti pada diri bahwa kita tidak bisa melakukan apa-apa. Pola Pikir seperti ini harusnya hanya berlaku ketika kita masih pada masa minta antar ambil raport sekolah. Ingat kita bukan lagi di fase yang membutuhkan ungkapan yang membesarkan diri, kita ada di fase seperti kata orang "Mau sedunia bilang semangat, tapi kalau aku capek, ya capek!" Kita sudah melampaui banyak tragedi, kegagalan, dan patah hati yang membentuk cara berpikir. Bagaimana kehidupan akan terus berjalan ketika menerima segalanya, bukan tergantung orang lain untuk bergerak. Kita pun sadar bahwa pentingnya memiliki ...

Apakah Semesta Hanya Diisi Manusia yang Nyebelin?

Akhir-akhir ini Tuhan sedang menguji kekuatan mental hambanya yang mageran seperti gue. Dalam sepekan ada aja kejadian atau hal kecil yang bikin mood gue ilang mendadak, entah ketika lagi baca buku atau santai di ruang tamu. Ada aja orang yang engga ngerti kalau gue lagi ‘me time' di tengah keramaian, dan ada yang sok asik mendekati gue yang menyendiri (mungkin dia kira gue mahkluk lemah yang engga sanggup hidup dalam kesepian).    Konon memang manusia adalah makhluk sosial. Manusia berkomunikasi dan bergotong royong dengan manusia lainnya untuk bertahan hidup. Interaksi yang terjalin membuat manusia menjadi kuat menghadapi segala hal bersama-sama. Namun bukan berarti manusia bisa berlaku seenaknya untuk  sebuah interaksi, iya kan? Dan bukan berarti kita bisa menerobos batas otoritas manusia lain demi sesuatu yang kita namai sebagai kebersamaan? Gue kadang berpikir apakah setiap orang pengen menjadi sosok yang superior atau memang mereka sudah kehilangan pengakuan, sehing...

NEPOTISME: Melihat Orang Dalam Bekerja

 Nepotisme sudah menjadi budaya di tengah masyarakat bukan lagi suatu rahasia umum. Tindakan nepotisme tidak perlu lagi ditutup-tutupi, bahkan tindakan yang perlu dan harus dilakukan dalam mempertahankan kedudukan. Secara terbuka kita pun menerima sebagai kewajaran. Fenomena yang biasa terjadi. Menyebut terang nepotisme rasanya terdengar seperti tindak kejahatan yang amat berdosa. Maka agar mendapat persepsi yang bernilai positif, dan dianggap suatu hal 'baik', sebagaimana seminar-seminar yang kadangkala mencantumkan keuntungan peserta yakni mendapat relasi, kiita mengganti istilah 'nepotisme' dengan 'relasi'. Pasti kita semua tidak asing lagi istilah tersebut. Kendati konsepnya agak berbeda, tapi cara kerja keduanya memiliki kesamaan.  Dewasa ini istilah 'relasi' erat kaitannya dengan dunia kerja, baik di pemerintahan ataupun bukan. Tujuan 'relasi' barangkali didasari untuk menjaga kestabilan mutu dan kinerja suatu perusahaan, lembaga, atau inst...

HIDUP KOK FORMALITAS SIH?!

Seseorang pernah bilang di mana pun kita berada, kita akan berperan menjadi orang lain. Diri kita di tempat kerja atau di tongkrongan adalah sosok yang lain. Kita tak pernah menunjukan diri kita yang sebenarnya kepada siapa pun. Peran yang kita mainkan selama kurang dari 24 jam tersebut adalah suatu keharusan. Tidak boleh tidak. Sebab siapa pun tidak bisa memaksakan jati diri yang asli dipaksakan beradaptasi di lingkungan sesuai keperluannya.  Ibarat setiap pagi selesai mandi, kita memilih pakaian mana yang cocok untuk hari ini. Warna apa yang sesuai dari ujung kaki sampai ujung kepala. Model rambut seperti apa, sisir ke kanan atau sisir ke kiri, rambut terurai atau diikat, dan lain sebagainya. Pemilihan karakter, cara bicara, menyapa, bersalaman, menatap, itu pun kita lakukan sebetulnya setiap hari ini, sesaat sebelum melangkah ke luar rumah.  Dalam keseharian setelah kita nemilih kostum apa yang tepat tersebut, banyak hal yang jauh dari keinginan kita melakukannya. Jauh seka...

APAKAH KITA BOLEH LAMBAT DI HIDUP YANG SERBA CEPAT?

  Semakin hari dunia semakin tidak beres. Apa pun yang sedang atau yang akan kita lakukan harus dilakukan dan diselesaikan dengan cepat. Tidak boleh tidak. Lambat sedikit dibilang pemalas, tidak bertanggung jawab, lemot, kurang disiplin, dan lainnya. Tempo kehidupan yang serba cepat ini seolah memaksa kita tidak memaafkan keterlambatan sedikit pun.  Era 4.0 membangun konsep hidup manusia dari yang membutuhkan proses menjadi siap saji dalam segala hal. Instan. Hidup seperti diburu-buru sesuatu yang kita sendiri tidak tahu. Alih-alih mengefisienkan waktu agar bisa melakukan hal lain selanjutnya, kita hanya mempersiapkan hidup yang setengah matang.  Kehidupan yang menuntut kecepatan ini di satu sisi membebani kita. Sebab waktu seolah tidak sepenuhnya kita miliki. Kesempatan menikmati proses hidup pun seakan amat mustahil. Misalnya begini, dalam suatu kesempatan saat kita sedang menikmati sebatang rokok,  musik favorit, atau momen saat sedang merasakan nikmatnya menyendi...