Semakin hari dunia semakin tidak beres. Apa pun yang sedang atau yang akan kita lakukan harus dilakukan dan diselesaikan dengan cepat. Tidak boleh tidak. Lambat sedikit dibilang pemalas, tidak bertanggung jawab, lemot, kurang disiplin, dan lainnya. Tempo kehidupan yang serba cepat ini seolah memaksa kita tidak memaafkan keterlambatan sedikit pun.
Era 4.0 membangun konsep hidup manusia dari yang membutuhkan proses menjadi siap saji dalam segala hal. Instan. Hidup seperti diburu-buru sesuatu yang kita sendiri tidak tahu. Alih-alih mengefisienkan waktu agar bisa melakukan hal lain selanjutnya, kita hanya mempersiapkan hidup yang setengah matang.
Kehidupan yang menuntut kecepatan ini di satu sisi membebani kita. Sebab waktu seolah tidak sepenuhnya kita miliki. Kesempatan menikmati proses hidup pun seakan amat mustahil. Misalnya begini, dalam suatu kesempatan saat kita sedang menikmati sebatang rokok, musik favorit, atau momen saat sedang merasakan nikmatnya menyendiri. Tiba-tiba ada pesan masuk dan memerintahkan kita untuk cepat menyelesaikan hal yang diminta dengan pelbagai alasan yang menyertainya. Hari yang kita susun pada waktu tersebut jadi berantakan. Dan pada saat yang sama hari tersebut kita anggap sebagai hari yang menyebalkan.
Bukan persoalan banyak atau sedikitnya pekerjaan yang mesti diselesaikan, melainkan keharusan menyelesaikannya dengan cepat. Itulah yang terkadang membuat kita semakin stres dan tertekan. Kecepatan manusia disamakan dengan kecepatan digitalisasi dan robot buatan. Konsep yang keliru tapi dipaksakan lumrah. Mari kita bayangkan akan dituntut seberapa cepat manusia dalam segala hal pada masa yang akan datang.
Saking tidak bisa terhindarnya kita dari kehidupan yang serba cepat ini. Kita pun menjadi bagian dari pelaku penuntut keserbacepatan. Dulu kita sangat menikmati jaringan H dan amat senang sekali saat jaring G. Tapi sekarang kita amat benci pada keduanya. Jaringan yang sempurna adalah 4G. Di antara tempat makan dengan label cepat saji dengan tempat makan tanpa label, kita memilih cepat saji. Betapa kurang ajarnya kehidupan ketika kita menerima sedetik keterlambatan.
Lambat bukan suatu hal yang wajar dan lumrah. Keterlambatan ibarat aib yang tidak boleh diketahui orang lain. Pemakluman kita terhadap hal-hal yang lambat sudah tidak ada, dan bukan zamannya. Alhasil kita seperti memiliki trauma mendengar keserbacepatan pada waktu-waktu tertentu, ingin rasanya menghindar dan kembali dalam hidup yang bertempo pelan-sedang. Tapi di sisi lain segala hal yang serba cepat ini adalah mimpi kita di masa lalu.
Serpihmimpi, 2021.
Comments
Post a Comment
Terima kasih atas apresiasinya.