Skip to main content

Posts

Showing posts from November, 2017

Estimasi

Apa yang kau tunggu di pintu selain kabar dariku nun jauh dan gugur daun-daun yang ditinggal percik air? Tiap kesempatan  matahari memalu kepala pejalan kaki kau selalu berharap akulah perindu purnama yang hilang. Selembar kertas di tanganmu ikut membatu ketika cahaya pasang di trotoar dan kau hanya melihat bayang-bayang kepulangan waktu terhuyung. Hitung-hitunganmu patah di tengah penantian bisik angin membuyarkan kamus yang telah kita tafsir; bahwa pulang adalah jalan lain menuju relung. selama musim kemarau lalu.  Di perjumpaan terakhir kita, angin lari ke timur. Hujan gugur di tengah pelarian tahun almanak jadi jalur pendakian.

Hutangmu Hutangku Kepada Tuhan (Alih wahana Sajak Desember-Sapardi Djoko Damono)

Hutangmu Hutangku Kepada Tuhan  (Alih wahana Sajak Desember-Sapardi Djoko Damono) Bagian I *musik mengalun lambat kemudian menghilang perlahan, lampu utama dan lampu kuning perlahan hidup.  di balik layar putih. Marni : Pak, bangun. Sudah waktunya sholat subuh pak, ujar marni      membangunkan suaminya. Bangun, Pak. Tegas marni. Sarip :  hmhm, ya, ya, ya, ya,... haaa,  Lihat Bu. Masih jam 4.45 menit. waktu subuh masih lama, bapak butuh istirahat yang cukup untuk seharian kerja. Sarip, kembali menarik selimutnya. Marni : Astagfirullah ( menghela nafas). Ibu tahu, Pak. Bapak akan kerja seharian. Tapi, bapak tahukan kalau kewajiban itu tidak bisa dinanti-nanti? Sarip : (kembali bangun menghadap istrinya) tahu apa kamu tentang kewajiban? Kamu mau, kalau saya tidak  mendapatkan uang banyak dan tidak bisa membayar hutang-hutang? Atau kamu mau menjadi tulang punggung? Marni : Astagfirullah, istigfar pak ( marni menggelengkan kepala, mengusa...