Apa yang kau tunggu di pintu selain kabar dariku nun jauh dan gugur daun-daun yang ditinggal percik air? Tiap kesempatan matahari memalu kepala pejalan kaki kau selalu berharap akulah perindu purnama yang hilang. Selembar kertas di tanganmu ikut membatu ketika cahaya pasang di trotoar dan kau hanya melihat bayang-bayang kepulangan waktu terhuyung. Hitung-hitunganmu patah di tengah penantian bisik angin membuyarkan kamus yang telah kita tafsir; bahwa pulang adalah jalan lain menuju relung. selama musim kemarau lalu. Di perjumpaan terakhir kita, angin lari ke timur. Hujan gugur di tengah pelarian tahun almanak jadi jalur pendakian.