Skip to main content

Hutangmu Hutangku Kepada Tuhan (Alih wahana Sajak Desember-Sapardi Djoko Damono)

Hutangmu Hutangku Kepada Tuhan

 (Alih wahana Sajak Desember-Sapardi Djoko Damono)


Bagian I
*musik mengalun lambat kemudian menghilang perlahan, lampu utama dan lampu kuning perlahan hidup.  di balik layar putih.
Marni : Pak, bangun. Sudah waktunya sholat subuh pak, ujar marni      membangunkan suaminya. Bangun, Pak. Tegas marni.
Sarip :  hmhm, ya, ya, ya, ya,... haaa,  Lihat Bu. Masih jam 4.45 menit. waktu subuh masih lama, bapak butuh istirahat yang cukup untuk seharian kerja. Sarip, kembali menarik selimutnya.
Marni : Astagfirullah ( menghela nafas). Ibu tahu, Pak. Bapak akan kerja seharian. Tapi, bapak tahukan kalau kewajiban itu tidak bisa dinanti-nanti?
Sarip : (kembali bangun menghadap istrinya) tahu apa kamu tentang kewajiban? Kamu mau, kalau saya tidak  mendapatkan uang banyak dan tidak bisa membayar hutang-hutang? Atau kamu mau menjadi tulang punggung?
Marni : Astagfirullah, istigfar pak ( marni menggelengkan kepala, mengusap dada) bukan maksud ibu menggurui bapak, ibu hanya mengingatkan, pak. Ibu tidak pernah memikirkan hutang-hutang itu akan terbayar atau tidak, ibu hanya memikirkan hutang-hutang pada Allah, pak. Ibu juga tahu bapak adalah tulang puggung yang baik, pekerja keras, tapi biarkan hutang-hutang manusia dibayar sama Allah, pak.
Sarip : Alaaaah ... tak usah bawa nama tuhan segala ! kalau memang tuhan mampu membayar hutang-hutang kita, mungkin sejak dulu kita tidak punya hutang menggunung. Bapak capeee bu, ibadah tepat waktu selama bertahun-tahun. Tapi, hutang tetap saja hutang. Dan sekarang, coba ibu lihat tetangga kita. Mereka tidak pernah ibadah, tidak pernah ke masjid, tapi mereka tidak pernah kekurang, rumah besar, harta berlimpah dan mereka tidak punya hutang sama siapapun. Ibu tahu ! mereka kerja siang-malam, tanpa halangan oleh apapun.
Marni : Istigfar pak,... istigfar.... tidak baik bicara seperti itu. Tetangga kita memang sudah ditakdirkan untuk menjadi kaya raya, mereka tidak ada bedanya dengan pengamen yang bersuara sumbang, pak. Tidak butuh waktu lama langsung dikasih uang. Tapi, sejatinya mereka itu tidak kebahagian dan kepuasan yang sesungguhnya pak, mereka melupakan Allah yang memberikan rizki. Suatu saat harta mereka pun akan diambil kembali jika mereka tidak segera mengingat Allah.... sudahlah pak, lebih baik sekarang kita sholat subuh berjamaah di masjid, sebentar lagi adzan pak.
Sarip : Hmm.. aaaah... ibu tidak denger tadi !!!, bapak mau istirahat. Pergi saja sendirian,
Marni :  Baiklah, pak.
*suara adzan mengalun  lampu perlahan redup, - musik  suasana santai  .... berganti latar taman, dan lampu utama dan berwarna hijau mengarah ke area taman  siang hari.
***

Bagian II
Sarip membawa karung untuk memulung, dan berdandan kucel dan lesuh.
Sarip : Haaaa (eluh sarip), aneh ko hasil mulung saya  hari ini lebih sedikit yah? Biasanya jam segini karung saya sudah penuh. Apa jangan-jangan manusia sudah insaf tidak membuang sampah sembarangan lagi ?atau pabrik-pabrik plastik sudah ditutup, atau jangan-jangan para koruptor sudah  menjadi seorang pemulung juga, karena negara jatuh miskin. Hahahaa. Mustahil. Haaaa ( eluh sarip).. tapi, kalau itu benar  ... pilihanku hanya dua,  membunuh para koruptor atau  menjadi koruptor agar  cepat kaya. Hahaha ... bukannya orang-orang pintar, orang-orang berdasi, dan para pemimpin paling suka dengan uang, uang yang seharusnya untuk  para si miskin. Hahaha... haaaa, sudahlah.

Tetangga sarip melintas di depannya, berdandan kantoran. Sarip melirik tetangganya  ia merasa dirinya terlalu miskin jika dibandingkan dengan yanto, sarip memperhtikan setiap pakaian yang dipakai yanto  sirik, dengki, dan rasanya ingin memiliki apa yang dimiliki yanto. Yanto berlaga mewah di hadapan sarip.
Yanto  : Bapak, pasti membutuhkan inikan ( yanto menunjukan botol aqua). hahaha, dan bapak akan mati kelaparankan? Kalau karung yang bapak bawa tidak penuh. Hahaha, Bapak itu sudah ditakdirkan MISKIN, jadi jangan berlaga ingin bersaing kekayaan dengan saya, (yanto melangkah meninggalkan sarip). Oh iya satu lagi, jangan lupa bayar hutang-hutang bapak, atau nanti istri saya akan membuat keributan dirumah bapak,
*Sarip kesal, ia merasa harga dirinya diinjak-injak. Sarip memandangi punggung yanto yang menjauhinya.
Sarip   : Aaaaaaaaah!! Kurang ajar!  lihat saja nanti. Akan aku penggal kepalanya,
Sarip pergi meninggalkan taman.




***


Bagian III
musik keras menggebulampu taman dimatikan perlahan. Beralih ke latar ruangkeluarga sarip, lampu kuning dan utama menyala terang.
Nurul : Bu, ibuuu, buu!!!, teriak nurul.
Marni keluar dari dalam kamar
Marni : Ada apa, Nak? Bukannya ucapkan salam dulu sebelum masuk,
Nurul : Bapak mana bu?
Marni : Bapak kamu, masih kerja. Nak, Marni duduk dikursi sebelah Nurul.
Nurul : Jam segini masih kerja??!!
Marni : emangnya ada apa sih, Nak?
Nurul : Begini yah, Bu. Tadi aku di kelas disuruh bayar hutang-hutang buku kuliah dan ditambah suruh beli buku lagi, terus pembayaran terakhirnya itu akhir desember. Ibu taukan akhir desember itu tinggal dua hari lagi. Dan nanti kalau aku enggak bayar dan beli buku, IPK aku bakal kecil bu!
Marni : Lalu, berapa jumblah hutang buku kamu totalnya, Nak?
Nurul : Pokoknya harga satu buku itu Rp. 80.000 X 10 buku mata kuliah, ibu itung aja sendiri.
Marni :Astagfirullah, Nak itu hampir satu juta.. Dari mana ibu dapat uang sebanyak itu,
Nurul : Ya ibu minta sama bap..pak..lah,
* tiba-tiba Ajeng ( Rentenir ) masuk kedalam rumah sarip. Tanpa permisi.
Ajeng  : Marniiiii!!!
Marni  : Sebentar yah, Nak. Marni keluar tapi Ajeng sudah masuk kedalam rumahnya terlebih dahulu.
*musik Keras menggebu  lampu merah menyala tajam.
Ajeng : Eh Miskin!!!(mendorong marni sampai jatuh). Kapan kamu bayar hutang! Ini sudah hampir akhir desember.  Nurul terkejut dan segera membantu ibunya.
Nurul : Eh Mba! Punya otak enggak sih?Sopan sedikit bisakan. Ini rumah orang!,
Ajeng : Diam kamu bocah !!!
Marni : Saya mohon, Mba. Beri saya waktu lagi. saya janji akan melunasi hutang-hutang akhir bulan ini, sujud marni di kaki ajeng.
Ajeng : Alaaaaaah, pembohong! Terus saja mengelak, ajeng menyingkirkan marni dari kakinya.
Nurul   : Kurang ajar, Kamu!!!
Ajeng : Mau apa, Ha ! dasar miskin! Menarik rambut Nurul.
Marni   : Sudah,Mbaa. Sudah... Saya janji insa allah akan saya bayar tepat waktu, Marni memohon dengan air mata yang berlinang. ajeng melepaskan rambut Nurul.
Ajeng : Baiklah, awas sajja kalau kamu berbohong, akan saya bakar rumah kamu,
_marni menagis dipundak Nurul  musik berganti mengalun sedih  lampu redup...dan padam.
Marni : Bapak... marni terkejut mendengar ketukan pintu.
Sari : haaaaaa...desus sarip melepas penat.
Marni   :  Mau minum apa pak?
Sarip  : Teh manis saja, bu
*Marni membuatkan teh manis  sarip meletakkan topi kemudian menghitung uang.
Marni :  Ini pak, tehnya.
Sarip : Iya, (sarip ,meminum teh). Ini bu, uang hasil hari ini.
Marni : Alhamdulilah.... Oh iyah, pak. Tadi, kata si eneng uang buku harus dilunasi akhir desember ini, pak , katanya kalau tidak segera dibayar eneng  akan mendapat Ip di bawah 3, pak.
Sarip : Haduuuh, perasaan hampir setiap semester beli buku. Padahal anak kitakan mendapatkan beasiswa tapi harus tetap membeli buku dari dosen-dosennya. Ya sudahlah,..
Marni : Dan, satu lagi pak. Tadi, mba Ajeng kesini.
Sarip : Siapa ? Ajeng. Istri yanto si pejabat.
Marni : I..iiya. pak. Mba Ajeng minta agar hutang-hutang kita lunas akhir desember ini pak, ia mengancam kalau kita tidak membayarnya bulan ini semua barang-barang yang kita miliki akan disita dan bisa-bisa ia akan membakar rumah kita ini pak.
Sarip : Braakkkkkkk (sarip memukul meja), memang keterlaluan mereka. Lihat saja akan saya bikin perhitungan dengan mereka.
Marni : Astagfirullah, pak. Istigfar... sabar pak.
Sarip : Apa ?? sabar... mau sampai kita sabar bu, harga diri kita sudah diinjak-injak oleh mereka, mereka tidak perlu diberi sabar lagi.

*Suara adzan Magrib...
Marni : Sudahlah pak, kita serahkan saja kepada Allah, ... lebih baik sekarang kita sholat magrib berjamaah dulu, yuk pak.
Sarip : Ibu saja sana, bapak tidak sedang bernafsu sholat.
Marni : Iya, pak. Neeeng, eneng... hayu siap-siap kita sholat magrib di masjid.
Nurul : Iyaaaaa....
***
Bagian IV
*Musik romantis mengalun lambat dan lampu menyala terang dan lampu warna biru (malam hari) di area pertamanan  Yanto dan Ajeng bermesraan, merayakan hari jadi pernikahannya.
Yanto : Gimana sayang, kamu suka enggak sama kalung emas ini? Aku, beli jauh- jauh dari amerika loooh.
Ajeng : Aku suka bangeett sayang, makasih yah. Aku janji deh nanti malem aku akan memberi yang terbaik buat kamu sayang.
Yanto : Janji ?
Ajeng : Iyah sayang, Aku janji deh, kapan sih aku bohong.
Yanto : Kamu memang istriku yang terrrcantik dan terbaik sayang,
Ajang : Iiiih bisa aja deh,.. oh iya sayang, aku punya sesuatu buat kamu..
Yanto : Sesuatu apa maksud kamu, sayang?
Ajeng ;  Sebentar yah, aku ambil dulu di mobil. Kamu tunggu di sini oke-oke,
Yanto : Iyah sayang
*setelah Ajeng pergi, Sarip yang telah menunggu lama akhirnya kesempatan yang dia inginkan terjadi, Sarip tanpa banyak kata ia langsung menikam Yanto  di belakang layar putih.
Sarip : Hey ! bangun bodoh.
Yanto : Aaa...apa.apa..aapaan, kamu?
Sarip : Hahaha, tenang saja. Tidak usah khawatir, tetanggaku yang kaya... hahaha
Yanto : Lepaskan aku! kamu jangan macam-macam dengan saya!
Sarip : Lepaskan katamu ? hahaha ... baiklah. Tapi, sebelum itu ... mana yang menurutmu  lebih enak rasanya untuk merobek daging-dagingmu...kanan (parang).. atau.. kiri (pisau).
Yanto : Lepaskan aku, sialan! Atau aku akan telepon polisi
Sarip : Silakan saja... setelaah...INI MENEMBUSMUU!! Sarip menusuk leher Yanto.
*sarip keluar menggunakan pakaian Yanto yang berlumur darah, dan duduk di kursi, menunggu Ajeng.
Ajeng : Sayang... ini dia buat kamu ( menunjukkan jam tangan)
Sarip : Terimakasih Sayang (sarip menoleh kebelakang)
Ajeng : Kamu??? Mana suami saya?
Sarip : Suami kamu? Dia sudah tenang di alam sana. Sayang.
Ajeng : Eh jaga ucapmu ! jangan main-main dengan saya!
Sarip : Hooo, Bermain katamu. Manarik, rasanya tubuhku juga ingin bermain denganmu, sayang. Sarip menyentuh tubuh Ajeng.
Ajeng : Kamu, jangan coba-coba  menyentuh tubuh saya.!
Sarip : BAIKLAH. Sarip menarik tangan Ajeng dan membawanya ke sebuah hutan.
Ajeng : Lepaskan akuuu, lepaskan !!! Tolong .. Tolong...Tolong...!!! LEPASKAN AKU !.
* kembali dibalik layar putih
Ajeng : Apa yang akan kamu perbuat!.. tolong... aku  mohon jangan lakukan... jangan...  aku mohon... jangan..JANGAN !!!
Sarip :  Brisiik!!!! Sarip menghantamkan kayu ke kepala Ajeng.
***











Bagian IV
*musik sedih  adegan dibalik layar putih. Nurul menggunakan seolah-olah menggunakan Narkoba jenis Suntik dan hisap.
Marni :  Neng, sebentar lagi jam 14.00 . kamu belum berangkat saja, nanti terlambat loh. Marni membersihkan meja makan dan sesekali memperhatikan jam  Neng... eneng... ini si eneng kemana?, dari tadi  dipanggil diam saja. Neng ... Neng...(Marni masuk  kemar Nurul)
Marni : Astagfirullah Neeeeeng... Neng kamu kenapa? Masya Allah... Neng banguun, Bangunn neng, ya Allah...TOLONG.. TOLONG... ya allah. Neng Sadar atuh Neng... - Marni menggotong Nurul ke luar dari kamarnya...
Nurul : Buuuu, ibuuuuuu...
Marni : Bertahanlah, Nak - Marni terjatuh menggotong Nurul..
Marni : Bertahan yah nak, ibu akan menelpon dokter.
Nurul : Jangan bu, jangaan. Ibu temani Nurul saja, buuu. Nurul Kesepian, Nurul Takut buuu.
Marni : Iyah sayang, ibu tidak akan kemana-mana. Tapi, kamu harus janji sama ibu, kamu  kuat  harus kuat, kamu jangan ninggalin ibu yaah,
Nurul : Bu, maafin nurul bu..
Marni : Tidak  nak, kamu tidak punya salah.
Nurul : Bu.. maafin Nurul yang selalu menuntut ibu, yang suka memarahi ibu, yang suka membentak ibu... Nurul enggak pantas hidup buu, Nurul hanya anak durhaka, sebenarnya, Uang yang ibu kasih untuk membeli buku, Nurul malah membeli obat-obatan ini buu, Nurul hanya menyusahkan ibu sama bapak...maafin Nurul buu..
*Sarip datang dan terkejut melihat anaknya sekarat.
Sarip :  Masya Allah, ... , kenapa si eneng bu ?
Marni : Nurul overdosis obat-obatan, Pak.
Sarip : Ibu jagain Nurul yah, bapak mau cari bantuan.
Nurul : Buuu, Nurul udah enggak kuat, buu
Marni : bertahanlah neng,  bapak sedang nyari bantuan buat kamu, neng.
Sarip : ituu pak, ituu.. cepat pak, bantu anak saya... cepat pak...
*Nurul dibawa ke rumah sakit  dalam perjSalanan meninggal.
Nurul : Bapak... Ibuu. Maafin Nurul.... Nurul meninggal dunia.
Sarip : TIIIIIIIIIIDAAAAAAAAAKKKKKKKKK!!!
***
Bagian IV
*Latar ruang keluarga  lampu hanya menggunakan lampu kuning, musik Sajak Desember
Marni : cuup.. cuup..cuup anakku sayang, kamu kurang yah susunya, sabar yah sayang, nanti ibu buatin lagi. Semoga kamu besar nanti jadi prempuan yang cantik, manis dan solehah. Kaya ibu... marni menganggap  Boneka mainan Nurul itu adalah anaknya.
*Sarip berjalan menyisiri setiap foto-foto kenangan dengan berjalan terhuyun-huyun, ia merasa hidupnya tidak lagi bermakna, warna yang ia kenal setelah kematian anaknya hanya hitam, hitam, dan hitam ... sarip melangkah menuju istrinya yang sedang menimang boneka.
Sarip : Buu,
Marni : Sii..siapa kamu ? pergi !!! pergi!!! Pergi sana!!! Kamu? Kamu pasti mau menculik anakkukan,? Sabar sayang, ini ada orang gila, jangan menangis.
Sarip :  Buuu, sadarlah
Marni :  Diam !! Kamu ... saya bilang Pergi ! PERGIIII!!!!
_Sarip meninggalkan marni, langkahnya masih terhuyun-huyun.
Sarip : mhehehehe, hahahaha, HAHAHAHa, ahahahaa, kenapa? Kenapa harus seperti ini ? Kenapa. Kau lihat? Siapa  aku? Kau tahu siapa aku. hehehehe, hahahaha, HAHAHAHa, ahahahaa,.... semua ini, ulah-Mu !!! kalau kau menakdirkan  aku orang kaya, aku tidak akan kehilangan anakku, aku tidak akan membunuh tetanggaku sendiri, dan seskarang kau membuat istriku menjadi gila, mhehehehe, hahahaha, HAHAHAHa, ahahahaa....
Nurul : Bapak,  Nurul sayang bapak
Sarip :  A..anakku.. Di mana kamu, Nak ? sarip melangkah mendekati Marni Bu, ibu dengarkan. Tadi ada suara anak kita.
Marni :  Diaaaaam !! Kamu ... ! PERGIIII!!!!
_Sarip meninggalkan marni, langkahnya masih terhuyun-huyun.
Sarip : Apa yang telah kuperbuat? Apaaa. Semua yang kumiliki hilang begitu saja, ..
izrail : Sarip kapan kamu akan melunasi hutangmu padaku!
Sarip : Siii,Siapa kamu?
Izrail :   Hahaha, Sombong sekali rupanya kamu. Apa kamu lupa? JANJIMU! Ketika bersujud malam pada tuhanku... hahahaha. Cepat !! Bayar hutang-hutangmu, atau Aku akan mengambil semua yang menjadi milikmu,
Sarip : Siapa kamu, heyy! Tunjukkan dirimu!
 *Sepuluh malaikat keluar dari dua arah masuk,,,
Sarip : Siapa kalian? Mau apa kalian ?.. janngan mendekat, ku bilang jangan mendekat !!! Pergiiiiiiiiiiiiiiii.. Sepuluh Malaikat mengelilingi Sarip, mengikatkan 4 tali ( Tangan & Kaki)... ssetelah itu mereka berpencar...
Sarip :  Apa ini ? apa yang akan kalian lakukan padaku?
Izrail :  Jangan Takut Sarip, lihat saja dan perhatikan baik-baik
Sarip :  Jangan,... Jangan ambil Barang-barang milikku....jangan.. HEY !!! jangan Kau sentuh foto anakku! Jangan... jangan kauambil foto annaku, Jangaaaaan!!!... Ampuni Aku, Aku mengaku berhutang pada-Mu, Aku berdosa padamu, aku mohon, Ampuni aku. Aku melalaikanmu, AKU YANG TIDAK PERNAH PEDULI DENGAN PERINTAH-PERINTAHMU,  maafkan aku. Aku berjanji padamu, tidak akan berdosa atau berhutang padamu... ku mohon maafkan aku serta hapuskan hutang-hutangku padamu..... apa yang akan kamu lakukan pada istriku?? Jangan .. jangan.....
Marni :  Pergi kalian, pergiii... kalian mau apa ? pergii kalian!!!
Sarip :   Jangan... jangan kauambil istriku.. Ambil saja aku... jangan... kubilang jangan, jangan!!!
Mari :  Tolong, tolong aku, Tolong aku, Pak
Sarip :   JANGAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAN
*Musik dan lampu perlahan redup dan hilang....
SELESAI
********


Comments

Popular posts from this blog

Analisis Buku Teks Bahasa Indonesia Kelas XI Kurikulum 2013

ANALISIS BUKU TEKS BAHASA INDONESIA KELAS XI KURIKULUM 2013 Diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah Telaah Kurikulum dan Buku Teks Dosen pengampu Slamet Triyadi S.Pd.,M.Pd. Disusun oleh: kelompok   (4D/ PBSI) Eni Nadia Pega 1610631080062 Irvan Syahril 1610631080093 Kiki Dwi Yulianti 1610631080100 Novia Windi Hastuti 1610631080142 Siska Krisnawati 1610631080191 Yulan Nurul Istiqomah 1610631080226 PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SINGAPERBANGSA KARAWANG 2018 KATA PENGANTAR Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas terselesaikannya makalah “Analisis Buku Teks Bahasa Indonesia Kelas XI Kurikulum 2013”. Semoga makalah ini menjadi makalah yang bermanfaat bagi orang-orang yang membacanya. Tidak lupa kami juga mengucapkan banyak terima kasih atas bantuan dari pihak yan...

ANTOLOGI PUISI MENCATAT DEMAM BERADA DI JALAN RAMAI

pada batas rasa kehilangan ini, aku biru. PUISI seperti sebuah arsip dari sesuatu yang abstrak ke bentuk yang konkret atau bentuk yang dapat menggugah indera. Sesuatu yang abstrak itu, kemudian dituliskan dengan rangkaian kata yang memiliki estetika bunyi dan bermakna. Penyair adalah seseorang yang menangkap keabstrakan tersebut, dan kemudian membawanya ke tengah pembaca sebagai sebuah tawaran menikmati sesuatu yang sudah ada maupun sesuatu yang baru. Keberangkatan awal penyair mencari sesuatu yang abstrak dimulai dari yang paling dekat dengan dirinya, yaitu diri sendiri. Kita mungkin pernah merasa kalau orang-orang di sekeliling tidak ada yang bisa memahami diri kita yang sedang putus asa, kecewa, dsb. Dari sanalah kita berperan memahami diri kita sendiri. Begitu pun penyair, ia berangkat dari dalam diri, lalu temuan-temuannya itu bisa dikaitkan dengan ikhwal di luar atau di dalam dirinya. Penyair hanya memilih beberapa temuan-temuannya dari sekian banyak temuan. Temuan yang p...

Kita Menua Bersama Puisi

Lampu kota terbangun ketika kita datang suara-suara roda pula klakson teriak di luar sana. Sementara kita menunggu pesanan datang; satu cinta untukmu dan satu rindu untuk dibawa pulang. Di atas meja. Matamu menikam degupku yang kurahasiakan darimu. Sesaat setelah matamu terbenam dalam mataku, mendadak luruh dan beterbangan puisi-puisi yang menyangga pertemuan kita. Malam ini kau adalah sajak yang meniduri pelupuk mataku, menepuk cintaku di ujung pintu. Kau seperti ombak yang meninggi dan segera menghempas dan aku batu karang yang akan menyambut ombak rasa sakitmu. Malam ini. Di atas meja bundar kau berkisah tentang kasih. Lalu, beberapa menit kemudian pesanan datang "Cinta ini, untuk siapa?" katamu ketus. "Untukmu dan rindu yang akan kau bawa pulang." Gumamku. Kau segala definisi dalam puisi yang kucintai, segala  waktu yang memeluk tubuhku  ketika menguraimu jadi kalimat indah. Ah kau. Mengapa lama-lama sekali? Peganglah tanganku dan kita ...