Lampu kota terbangun ketika kita datang
suara-suara roda pula klakson teriak
di luar sana. Sementara kita menunggu
pesanan datang; satu cinta untukmu
dan satu rindu untuk dibawa pulang.
Di atas meja. Matamu menikam degupku
yang kurahasiakan darimu.
Sesaat setelah matamu
terbenam dalam mataku, mendadak luruh
dan beterbangan puisi-puisi yang menyangga
pertemuan kita. Malam ini kau adalah sajak yang meniduri
pelupuk mataku, menepuk cintaku di ujung pintu.
Kau seperti ombak yang meninggi dan segera menghempas
dan aku batu karang yang akan menyambut ombak
rasa sakitmu. Malam ini. Di atas meja bundar kau berkisah
tentang kasih. Lalu, beberapa menit kemudian
pesanan datang "Cinta ini, untuk siapa?" katamu ketus.
"Untukmu dan rindu yang akan kau bawa pulang." Gumamku.
Kau segala definisi dalam puisi yang kucintai, segala waktu
yang memeluk tubuhku ketika menguraimu
jadi kalimat indah. Ah kau. Mengapa lama-lama sekali?
Peganglah tanganku dan kita menua bersama puisi.
Comments
Post a Comment
Terima kasih atas apresiasinya.