Skip to main content

Posts

Showing posts from December, 2017

Ketika Kalimat Bicara pada Kita

Kata Kalimat Harus Begini Pada suatu malam gerimis menjenguk tubuhku dan induk kalimat aku sendiri terkapar di ranjang.Ia ketuk jendela kaca dengan kata-kata yang lumer lalu luber ke celah-celah mendadak ngilu jari-jari tanganku. Gerimis berbisik "Hati-hati dengan rindu sebentar lagi induk kalimat melahirkannya." "Kapan dan seperti apa?" Aku ketar-ketir sementara induk kalimat melebarkan selangkangan. "Saat kau ciuman terakhir dengan kekasihmu. Seperti musim gugur saat hujan." Di luar jadi  becek kata-kata. Gerimis melamun. Menungguku keluar dan minum tubuhnya. Aku dan induk kalimat bertengkar, tingkahnya jadi ketus. Sementara anak kalimat merengek diberi konjungsi karena  kita tak lekas bicara. Sajakku malah  compang-camping sebelum dewasa gerimis disekap hening.

Kita Menua Bersama Puisi

Lampu kota terbangun ketika kita datang suara-suara roda pula klakson teriak di luar sana. Sementara kita menunggu pesanan datang; satu cinta untukmu dan satu rindu untuk dibawa pulang. Di atas meja. Matamu menikam degupku yang kurahasiakan darimu. Sesaat setelah matamu terbenam dalam mataku, mendadak luruh dan beterbangan puisi-puisi yang menyangga pertemuan kita. Malam ini kau adalah sajak yang meniduri pelupuk mataku, menepuk cintaku di ujung pintu. Kau seperti ombak yang meninggi dan segera menghempas dan aku batu karang yang akan menyambut ombak rasa sakitmu. Malam ini. Di atas meja bundar kau berkisah tentang kasih. Lalu, beberapa menit kemudian pesanan datang "Cinta ini, untuk siapa?" katamu ketus. "Untukmu dan rindu yang akan kau bawa pulang." Gumamku. Kau segala definisi dalam puisi yang kucintai, segala  waktu yang memeluk tubuhku  ketika menguraimu jadi kalimat indah. Ah kau. Mengapa lama-lama sekali? Peganglah tanganku dan kita ...

Apresiasi Puisi Indonesia “Seperti Mandi Yang Terakhir Kali” Karya Hasan Aspahani

Kematian yang Dipuisikan  Seperti Mandi Yang Terakhir Kali /1/ DIA akhirnya bisa juga menidurkan diri, setelah sukses menjadi satu-satunya pembicara dalam seminar sehari: “Cara Praktis dan Mudah Menyelenggarakan jenazah. Bukan Jenazah Sendiri”. Kepada panitia, dia tak minta honor apa-apa. Kecuali beberapa hadiah sponsor: segulung kafan langsung dari pabrik kain; kupon diskon 50 persen toko keranda; gratis mobil jenazah kapan saja perlunya; dan kavling kuburan di taman pemakaman. “Lumayan,” katanya. Sebelum terpejam. “Sekarang aku tinggal memikirkan, kapan saat yang paling tepat untuk ditalkinkan....” /2/ DIA akhirnya juga bisa menidurkan diri. Lelap sesekali. Di tengah tidurnya, tiba-tiba ada mimpi menginterupsi. “Tunggu, Suadara! Kamu udah mati?” “Belum,” katanya. “Memangnya kau tak dengar dengkurku yang khusyuk dan syahdu ini?” /3/ DIA akhirnya bisa juga menidurkan diri. Lalu, terbangun subuh hari. Dan terus mandi. di sumur tua, yang belum juga...

Aku Ingin Mencintaimu

Aku ingin membaca lukamu yang belum kering dari ke dua bibir yang sering  meletup-meletup. Aku ingin membaca kesendirianmu dari ke dua matamu yang sering mengerdip menolak luka mengetuk retina. Aku ingin mencintaimu dari luka di bibirmu dan kesendirian di dua matamu yang hampa tanpa suara

Catatan Untuk Perempuan

Perempuan adalah lautan dengan ombak-ombaknya, semilir dan badainya, ikan-ikan dan batu karangnya, serta jalan pulang segala air yang turun dari atas gunung. Dan hatinya adalah rumah di ujung pulau, tunggu ia di pintu. Ketika gerak pertama putaran kunci katakan aku mencintaimu.