Kematian yang Dipuisikan
Seperti Mandi Yang Terakhir Kali
/1/
DIA akhirnya bisa juga menidurkan diri, setelah
sukses menjadi satu-satunya pembicara
dalam seminar sehari: “Cara Praktis dan Mudah
Menyelenggarakan jenazah. Bukan Jenazah Sendiri”.
Kepada panitia, dia tak minta honor apa-apa.
Kecuali beberapa hadiah sponsor:
segulung kafan langsung dari pabrik kain;
kupon diskon 50 persen toko keranda;
gratis mobil jenazah kapan saja perlunya;
dan kavling kuburan di taman pemakaman.
“Lumayan,” katanya. Sebelum terpejam.
“Sekarang aku tinggal memikirkan, kapan
saat yang paling tepat untuk ditalkinkan....”
/2/
DIA akhirnya juga bisa menidurkan diri. Lelap
sesekali. Di tengah tidurnya, tiba-tiba ada mimpi
menginterupsi. “Tunggu, Suadara! Kamu udah mati?”
“Belum,” katanya. “Memangnya kau tak dengar
dengkurku yang khusyuk dan syahdu ini?”
/3/
DIA akhirnya bisa juga menidurkan diri. Lalu,
terbangun subuh hari. Dan terus mandi.
di sumur tua, yang belum juga bisa
menimba airnya sendiri, ia menikmati
tiap guyuran air di tubuhnya.
Seperti sedang menikmati mandi
untuk yang
terakhir
kali
Bagi saya penikmat puisi, puisi adalah suatu hal yang baru dalam kehidupan dan selalu memiliki suatu kejutan yang tidak bisa diterka-terka dengan kasat mata. Saya baru berkenalan dengan puisi ketika menginjak bangku perkuliahan di Universitas Singaperbangsa Karawang. Maklum saja, selama sekolah 12 tahun saya termasuk orang yang kurang minat baca.
Sebab itu pulalah, ketika awal memasuki bangku perkuliahan saya sangat buta dengan puisi.
Hanya bisa diam jika ditanya mengenai karya-karya puisi. Dan, baru bersentuhan dengan puisi pada saat mengikuti lomba puisi hari jadi kota Indramayu. Judul puisi saya yang pertama di bangku perkuliahan adalah Cimanuk Raksasa Papandayan.
Semenjak itu saya mulai meningkatkan minat baca terhadap buku khususnya puisi, walaupun sampai sekarang buku puisi yang baru saya baca hanya 10 buku saja. Tapi, saya pastikan tidak akan berhenti di angka tersebut sebab pengalaman membaca akan mempengaruhi karakter seseorang juga memudahkan memahami isi serta kaya akan wawasan.
Antologi puisi “Pena Sudah Diangkat Kertas Sudah Mengering” karya Hasan Aspahani, merupakan buku bacaan saya yang ke-10. Antologi tersebut bisa dibilang buku yang saya salah beli. Mengapa? karena ketika membeli buku saya sedang mencari buku tentang percintaan atau sebuah petualangan. Saya terpikat oleh penggalan puisi yang ada di bagaian belakang buku.
Termasuk buku-buku lain yang saya beli di Gramedia seperti Buku Tentang Ruang karya Avianti Armand, Di Hadapan Rahasia karya Adimas Immanuel, dan Hujan Bulan Juni karya Sapardi Djoko Damono. Di antara buku-buku tersebut memiliki kata kunci yang hampir sama yaitu Tuhan, maut, dan dosa.
Awal membaca puisi “Seperti Mandi Yang Terakhir Kali” saya merasa terheran-heran, ternyata ada puisi yang kemasannya seperti kita sedang membaca berita dalam koran. Hal ini juga membuat saya ingin cepat-cepat membaca habis isinya.
Sebagai pembuka buku puisi, bagi saya sangat berhasil untuk mengikat pembaca untuk mengikutidan dan juga adalah hal yang paling menariknya.
Karena, bahasa yang digunakan dalam puisi seperti bahasa sehari-hari yang diucapkan, juga ada kata-kata yang tidak biasa ada dalam puisi seperti “Persen” dan “Sponsor”. Bagi saya meletakkan puisi tersebut dibagian awal sebagai gambaran bahwa Hasan Aspahani adalah seorang pemuisi yang berani mencampuradukkan kata-kata yang tidak biasa di temukan dalam puisi, menunjukan kebebasan bahasa.
Cara penulisannya dalam puisi tersebut memiliki kesamaan dengan karya-karya Sapardi Djoko Damono dalam antologi “Hujan Bulan Juni”. Penceritaan tokoh “Dia” yang selalu hadir di larik awal, ujaran tokoh yang rahasia identitasnya, dan penulisan mengerucut di bait terakhir hingga satu larik memiliki satu kata.
Bahasa yang digunakan renyah, untuk orang awam tidak akan kaget dengan bahasa atau diksi yang dipilih oleh pemuisi biasanya sangat berat dan aneh atau belum terbiasa.
Jika dibandingkan dengan puisi Adimas Immanuel sangat berbeda jauh kerenyahannya. Adimas cenderung lebih mengutamakan diksi yang amat ambiguitis sehingga mungkin pembaca yang awam akan enggan membaca sampai habis, sama dengan Avianti Armand yang bagi saya sendiri beliau adalah pemuisi yang paling menyebalkan karena penggunaan bahasa yang rumit juga terkadang puisi yang ditulisnya hanya 2 larik saja.
Berbanding terbalik dengan Hasan Aspahani yang Penginterpretasian maknanya pun bisa dibilang mudah seperti,
Kecuali beberapa hadiah sponsor:
segulung kafan langsung dari pabrik kain;
kupon diskon 50 persen toko keranda;
gratis mobil jenazah kapan saja perlunya;
dan kavling kuburan di taman pemakaman.
Maknanya bisa saja bahwa itu adalah sesuatu yang fakta. Misalkan orang yang meninggal dalam rumah sakit. Ia akan langsung dikafani jika tidak ada urusan lain di rumah sakit, kemudian keranda adalah fasilitas yang ada dalam rumah sakit, setiap yang meninggal berhak menggunakan keranda tersebut, mobil jenazah memang akan mengantarkan jasad ke mana saja dan kapan saja, dan kuburan adalah tempat terkahir manusia dan itu milik bumi.
Dari sekian larik yang ada ada satu larik yang paling saya sukai dan berhasil mengingatkan saya terhadap maut adalah
“Sekarang aku tinggal memikirkan, kapan
saat yang paling tepat untuk ditalkinkan....”
Dari larik ini saya mendapatkan makna bahwa seseorang yang telah melakukan segalanya seperti doa, dosa, dan usaha, pasti akan mati pula dan tinggal hanya mempersiapkan dirinya saja ketika nanti ajal mengadap.
Namun, di balik makna tersebut ada sisi uniknya yaitu sifat manusia yang ada di dalamnya seolah-olah seperti tuhan, atau orang yang memiliki kemampuan yang sama dengan Tuhan. Sebab, ada kata “Tinggal memikirkan” jika memang manusia dalam puisi itu adalah Tuhan maka mestinya penulisan “aku” kapital. Yang jadi masalah Tuhan itu tidak mati.
Seperti sedang menikmati mandi
untuk yang
terakhir
kali
Larik-larik di atas bagi saya adalah pesan inti yang disampaikan oleh Hasan Aspahani. Bahwa manusia sudah sepatutnya mengingat kematiannya sendiri sebelum masa penyesalan datang. Manusia tidak dapat hidup berlama-lama dalam dunia ini, dan setiap orang akan sampai pada batas hidupnya.
Dan, puisi tersebut adalah puisi kamar dan diafan, artinya puisi tersebut memiliki keindahan rima jika dibaca perlahan atau diri sendiri juga memiliki diksiatau bahasa yang cenderung tidak terlalu gelap makna ataupun terlalu terang makna.
Puisi merupakan salah satu karya sastra yang makna disampaikan secara implinsit, tidak hanya sekali baca kemudian paham. Berikut juga dengan puisi “Seperti Mandi Yang Terakhir Kali” dan puisi-puisi lainnya dalam antologi “Pena Sudah Diangkat Kertas Sudah Mengering” mesti dibaca berulang kemudian perenungan yang dalam.
Seperti yang pernah dikatakan oleh Candra Malik dalam tulisan akun media sosial Facebook bahwa puisi adalah sebuah perenungan yang tiada ujungnya, tentang keresahanya dengan Tuhan, manusia, diri sendiri dan lingkungan dia hidup.
Walaupun puisi-puisi Hasan Aspahani menggunakan bahasa yang renyah, mudah dipahami, juga pemilihannya yang tidak terlalu gelam makna. Tetap harus dibaca dan dikaji agar mendapat kepuasan yang lebih terhadap isi yang ada. Terbukti dalam puisi awal dalam antologinya, larik-larik yang ada selalu memilki makna ganda juga memiliki keindahan rima yang jika dibaca dalam kamar.
Daftar Pustaka
Aspahani, Hasan. 2016. Pena Sudah Diangkat Kertas Sudah Mengering. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
Seperti Mandi Yang Terakhir Kali
/1/
DIA akhirnya bisa juga menidurkan diri, setelah
sukses menjadi satu-satunya pembicara
dalam seminar sehari: “Cara Praktis dan Mudah
Menyelenggarakan jenazah. Bukan Jenazah Sendiri”.
Kepada panitia, dia tak minta honor apa-apa.
Kecuali beberapa hadiah sponsor:
segulung kafan langsung dari pabrik kain;
kupon diskon 50 persen toko keranda;
gratis mobil jenazah kapan saja perlunya;
dan kavling kuburan di taman pemakaman.
“Lumayan,” katanya. Sebelum terpejam.
“Sekarang aku tinggal memikirkan, kapan
saat yang paling tepat untuk ditalkinkan....”
/2/
DIA akhirnya juga bisa menidurkan diri. Lelap
sesekali. Di tengah tidurnya, tiba-tiba ada mimpi
menginterupsi. “Tunggu, Suadara! Kamu udah mati?”
“Belum,” katanya. “Memangnya kau tak dengar
dengkurku yang khusyuk dan syahdu ini?”
/3/
DIA akhirnya bisa juga menidurkan diri. Lalu,
terbangun subuh hari. Dan terus mandi.
di sumur tua, yang belum juga bisa
menimba airnya sendiri, ia menikmati
tiap guyuran air di tubuhnya.
Seperti sedang menikmati mandi
untuk yang
terakhir
kali
Bagi saya penikmat puisi, puisi adalah suatu hal yang baru dalam kehidupan dan selalu memiliki suatu kejutan yang tidak bisa diterka-terka dengan kasat mata. Saya baru berkenalan dengan puisi ketika menginjak bangku perkuliahan di Universitas Singaperbangsa Karawang. Maklum saja, selama sekolah 12 tahun saya termasuk orang yang kurang minat baca.
Sebab itu pulalah, ketika awal memasuki bangku perkuliahan saya sangat buta dengan puisi.
Hanya bisa diam jika ditanya mengenai karya-karya puisi. Dan, baru bersentuhan dengan puisi pada saat mengikuti lomba puisi hari jadi kota Indramayu. Judul puisi saya yang pertama di bangku perkuliahan adalah Cimanuk Raksasa Papandayan.
Semenjak itu saya mulai meningkatkan minat baca terhadap buku khususnya puisi, walaupun sampai sekarang buku puisi yang baru saya baca hanya 10 buku saja. Tapi, saya pastikan tidak akan berhenti di angka tersebut sebab pengalaman membaca akan mempengaruhi karakter seseorang juga memudahkan memahami isi serta kaya akan wawasan.
Antologi puisi “Pena Sudah Diangkat Kertas Sudah Mengering” karya Hasan Aspahani, merupakan buku bacaan saya yang ke-10. Antologi tersebut bisa dibilang buku yang saya salah beli. Mengapa? karena ketika membeli buku saya sedang mencari buku tentang percintaan atau sebuah petualangan. Saya terpikat oleh penggalan puisi yang ada di bagaian belakang buku.
Termasuk buku-buku lain yang saya beli di Gramedia seperti Buku Tentang Ruang karya Avianti Armand, Di Hadapan Rahasia karya Adimas Immanuel, dan Hujan Bulan Juni karya Sapardi Djoko Damono. Di antara buku-buku tersebut memiliki kata kunci yang hampir sama yaitu Tuhan, maut, dan dosa.
Awal membaca puisi “Seperti Mandi Yang Terakhir Kali” saya merasa terheran-heran, ternyata ada puisi yang kemasannya seperti kita sedang membaca berita dalam koran. Hal ini juga membuat saya ingin cepat-cepat membaca habis isinya.
Sebagai pembuka buku puisi, bagi saya sangat berhasil untuk mengikat pembaca untuk mengikutidan dan juga adalah hal yang paling menariknya.
Karena, bahasa yang digunakan dalam puisi seperti bahasa sehari-hari yang diucapkan, juga ada kata-kata yang tidak biasa ada dalam puisi seperti “Persen” dan “Sponsor”. Bagi saya meletakkan puisi tersebut dibagian awal sebagai gambaran bahwa Hasan Aspahani adalah seorang pemuisi yang berani mencampuradukkan kata-kata yang tidak biasa di temukan dalam puisi, menunjukan kebebasan bahasa.
Cara penulisannya dalam puisi tersebut memiliki kesamaan dengan karya-karya Sapardi Djoko Damono dalam antologi “Hujan Bulan Juni”. Penceritaan tokoh “Dia” yang selalu hadir di larik awal, ujaran tokoh yang rahasia identitasnya, dan penulisan mengerucut di bait terakhir hingga satu larik memiliki satu kata.
Bahasa yang digunakan renyah, untuk orang awam tidak akan kaget dengan bahasa atau diksi yang dipilih oleh pemuisi biasanya sangat berat dan aneh atau belum terbiasa.
Jika dibandingkan dengan puisi Adimas Immanuel sangat berbeda jauh kerenyahannya. Adimas cenderung lebih mengutamakan diksi yang amat ambiguitis sehingga mungkin pembaca yang awam akan enggan membaca sampai habis, sama dengan Avianti Armand yang bagi saya sendiri beliau adalah pemuisi yang paling menyebalkan karena penggunaan bahasa yang rumit juga terkadang puisi yang ditulisnya hanya 2 larik saja.
Berbanding terbalik dengan Hasan Aspahani yang Penginterpretasian maknanya pun bisa dibilang mudah seperti,
Kecuali beberapa hadiah sponsor:
segulung kafan langsung dari pabrik kain;
kupon diskon 50 persen toko keranda;
gratis mobil jenazah kapan saja perlunya;
dan kavling kuburan di taman pemakaman.
Maknanya bisa saja bahwa itu adalah sesuatu yang fakta. Misalkan orang yang meninggal dalam rumah sakit. Ia akan langsung dikafani jika tidak ada urusan lain di rumah sakit, kemudian keranda adalah fasilitas yang ada dalam rumah sakit, setiap yang meninggal berhak menggunakan keranda tersebut, mobil jenazah memang akan mengantarkan jasad ke mana saja dan kapan saja, dan kuburan adalah tempat terkahir manusia dan itu milik bumi.
Dari sekian larik yang ada ada satu larik yang paling saya sukai dan berhasil mengingatkan saya terhadap maut adalah
“Sekarang aku tinggal memikirkan, kapan
saat yang paling tepat untuk ditalkinkan....”
Dari larik ini saya mendapatkan makna bahwa seseorang yang telah melakukan segalanya seperti doa, dosa, dan usaha, pasti akan mati pula dan tinggal hanya mempersiapkan dirinya saja ketika nanti ajal mengadap.
Namun, di balik makna tersebut ada sisi uniknya yaitu sifat manusia yang ada di dalamnya seolah-olah seperti tuhan, atau orang yang memiliki kemampuan yang sama dengan Tuhan. Sebab, ada kata “Tinggal memikirkan” jika memang manusia dalam puisi itu adalah Tuhan maka mestinya penulisan “aku” kapital. Yang jadi masalah Tuhan itu tidak mati.
Seperti sedang menikmati mandi
untuk yang
terakhir
kali
Larik-larik di atas bagi saya adalah pesan inti yang disampaikan oleh Hasan Aspahani. Bahwa manusia sudah sepatutnya mengingat kematiannya sendiri sebelum masa penyesalan datang. Manusia tidak dapat hidup berlama-lama dalam dunia ini, dan setiap orang akan sampai pada batas hidupnya.
Dan, puisi tersebut adalah puisi kamar dan diafan, artinya puisi tersebut memiliki keindahan rima jika dibaca perlahan atau diri sendiri juga memiliki diksiatau bahasa yang cenderung tidak terlalu gelap makna ataupun terlalu terang makna.
Puisi merupakan salah satu karya sastra yang makna disampaikan secara implinsit, tidak hanya sekali baca kemudian paham. Berikut juga dengan puisi “Seperti Mandi Yang Terakhir Kali” dan puisi-puisi lainnya dalam antologi “Pena Sudah Diangkat Kertas Sudah Mengering” mesti dibaca berulang kemudian perenungan yang dalam.
Seperti yang pernah dikatakan oleh Candra Malik dalam tulisan akun media sosial Facebook bahwa puisi adalah sebuah perenungan yang tiada ujungnya, tentang keresahanya dengan Tuhan, manusia, diri sendiri dan lingkungan dia hidup.
Walaupun puisi-puisi Hasan Aspahani menggunakan bahasa yang renyah, mudah dipahami, juga pemilihannya yang tidak terlalu gelam makna. Tetap harus dibaca dan dikaji agar mendapat kepuasan yang lebih terhadap isi yang ada. Terbukti dalam puisi awal dalam antologinya, larik-larik yang ada selalu memilki makna ganda juga memiliki keindahan rima yang jika dibaca dalam kamar.
Daftar Pustaka
Aspahani, Hasan. 2016. Pena Sudah Diangkat Kertas Sudah Mengering. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
Comments
Post a Comment
Terima kasih atas apresiasinya.