Skip to main content

Posts

Showing posts from July, 2018

Kedatangan Kangen

Kangen mengetuk pintu kamar lalu kubiarkan dia duduk di kursi kosong dulu tempat kau dan aku menyulam cinta pada suatu malam. Dia bosan duduk lama-lama di kursi dan hanya sedikit bicara denganku berjalan dari bingkai ke bingkai yang lain menatap wajahku dan wajahmu. "Aku kira kau sudah lupa dengannya," Tidak. Aku sedang kangen. Walaupun dia sudah lama tenggelam di kalender aku masih mencintainya sama seperti ketika masih hijau dan lugu. Dia kembali duduk di kursi itu kali ini termangu ditikam jentik waktu merunut segala kenang yang hambar di selembar kertas tanpa gambar. Di matanya ada mataku dan matamu di hitam kelopaknya ada tangisku dan tangismu di kelu bibirnya ada bibirku dan bibirmu beradu di kapal dadanya ada penantianku tanpa penantianmu. Sampai di situ aku tahu kita sudah saling tipu-menipu

Momen Puisi

Saya rasa setiap orang pasti pernah memiliki momen tertentu. Misalnya momen ketika mendapatkan kado ulang tahun, momen kegembiraan kemenangan tim kesayangan (tapi belum pernah disayang) atau momen ketika kita menyatakan perasaan kepada seseorang (ingat bukan sedua orang) dan momen lainnya. Saat momen-momen itu terjadi pastinya ada sesuatu dari hati kita menggerakkan hal yang lain, seperti menangis, loncat-loncat, atau bahkan mungkin bunuh diri.  Lalu, mengapa ada momen puisi?  Bagi saya, hal yang paling sulit adalah menemukan momen puisi. Momen puisi bagi saya adalah suatu keadaan yang dapat menimbulkan sesuatu dari dalam hati yang menggerakkan imajinasi bekerja (hahaha, anggap saja benar). Kadang untuk mendapatkan momen puisi saya mesti main bola, keliling rumah, cicipin masakan, ngelus-ngelus kucing, atau ngechat gebetan (bisa jadi sesekali saya hilaf, ya mantan). Jadi, kalau saya menemukan satu momen puisi, ya harus segera nulis tentang momen tersebut. Misal, daun jatu...

Sajak Meja dan Waktu

Bahkan di meja yang kesekian ini kita tak mengakhiri apa-apa segala berulang dengan cepat waktu semacam dirinya ingin tetap utuh. Percakapan juga tak melerai sepi sehabis pertemuan selepas kopi kita hanya saling melupakan wajah-wajah yang pernah dicintai. Meja tetap meja tak pernah menjelma monumen apapun. Walau mata walau tangis pernah jatuh bersamaan kitalah batang-batang kecil pada jam selalu terlewat dan lupa dibetulkan.

Adakah Jawabannya

Masih adakah pertemuan-pertemuan yang bertebar debar ketika matamu mampir ke mataku dan mataku menyambut betapa manisnya matamu diterpa bintik cahaya lampu kota? Masih adakah percakapan-percakapan yang sederhana di suatu meja tempat berpaling dari segala resah menujum sebuah rencana-rencana kehidupan yang terlihat fana dan biasa? Masih adakah  rasa yang mengintai detik-detik tengah malam saat rindu menjelma dingin menyusup ke celah-celah udara dan tiba-tiba dinding kamarku menjelma sebuah ruang hatimu? Masih adakah waktu untuk kami menganulir hati dari prasangka yang buruk soal kematian yang khusyuk dan di sana cinta terbaring lalu mata dan hati mengolami wajah-wajah kami terapung dan selesai?