Kangen mengetuk pintu kamar lalu kubiarkan dia duduk di kursi kosong dulu tempat kau dan aku menyulam cinta pada suatu malam. Dia bosan duduk lama-lama di kursi dan hanya sedikit bicara denganku berjalan dari bingkai ke bingkai yang lain menatap wajahku dan wajahmu. "Aku kira kau sudah lupa dengannya," Tidak. Aku sedang kangen. Walaupun dia sudah lama tenggelam di kalender aku masih mencintainya sama seperti ketika masih hijau dan lugu. Dia kembali duduk di kursi itu kali ini termangu ditikam jentik waktu merunut segala kenang yang hambar di selembar kertas tanpa gambar. Di matanya ada mataku dan matamu di hitam kelopaknya ada tangisku dan tangismu di kelu bibirnya ada bibirku dan bibirmu beradu di kapal dadanya ada penantianku tanpa penantianmu. Sampai di situ aku tahu kita sudah saling tipu-menipu