Skip to main content

Momen Puisi

Saya rasa setiap orang pasti pernah memiliki momen tertentu. Misalnya momen ketika mendapatkan kado ulang tahun, momen kegembiraan kemenangan tim kesayangan (tapi belum pernah disayang) atau momen ketika kita menyatakan perasaan kepada seseorang (ingat bukan sedua orang) dan momen lainnya. Saat momen-momen itu terjadi pastinya ada sesuatu dari hati kita menggerakkan hal yang lain, seperti menangis, loncat-loncat, atau bahkan mungkin bunuh diri.  Lalu, mengapa ada momen puisi? 

Bagi saya, hal yang paling sulit adalah menemukan momen puisi. Momen puisi bagi saya adalah suatu keadaan yang dapat menimbulkan sesuatu dari dalam hati yang menggerakkan imajinasi bekerja (hahaha, anggap saja benar). Kadang untuk mendapatkan momen puisi saya mesti main bola, keliling rumah, cicipin masakan, ngelus-ngelus kucing, atau ngechat gebetan (bisa jadi sesekali saya hilaf, ya mantan). Jadi, kalau saya menemukan satu momen puisi, ya harus segera nulis tentang momen tersebut. Misal, daun jatuh, daun terinjak, kecolok pulpen, bahkan momen ketika saya sedang menulis puisi, ya ditulis jadi puisi.

Momen puisi merupakan modal dasar menulis dan dasar dari momen puisi adalah kepekaan. Saya pikir, seseorang sulit menulis puisi sehari 5 puisi (termasuk saya) menghiraukan segala yang ada di depan mata. Sebut saja Fernanda Retna (FR) penyair kelahiran Jakarta ini, berhasil menggambarkan momen-momen yang ada di stasiun Karawang dengan puisinya berjudul “Stasiun Karawang” yang termaktub dalam antologi puisi bersama Karawang Abadi dalam Puisi. FR dengan segala kepakaan yang dimiliki mengubah momen yang kadang kita lewatkan menjadi sesuatu yang bernilai. FR tidak hanya mengandalkan momen yang utuh tersebut tapi dia pun menggunakan citraan-citraan yang memperkuat suasana yang melingkup di puisinya. Sampai di sini, FR telah menunaikan pekerjaannya sebagai penyair yaitu menggambarkan satu momen puisi.

Dengan demikian, haruskah sebuah puisi menggambarkan hal yang sama dengan momen puisi itu? Tidak. Momen puisi hanya sebagai tolakan atau sentuhan pertama seseorang menulis puisi. Bisa jadi, FR dapat menulis puisi “Stasiun Karawang” ketika merasakan momen lain yang menggerakkan dia menulis puisi. Mungkin momen ketika dia minum kopi lalu melihat kepulan dari hangat kopi, tiba-tiba teringat kereta atau stasiun. Momen puisi dengan sesuatu yang dituliskam tidaklah harus sama. Carilah momen puisi sebanyak mungkin dengan syarat kepekaan tinggi, agar bisa menulis satu hari 5 puisi. Semangat.

*) Daftar Bacaan
Halim, Abdul. dkk. 2018. Karawang Abadi dalam Puisi. Frasa Media: Bandung.

Comments

Popular posts from this blog

Analisis Buku Teks Bahasa Indonesia Kelas XI Kurikulum 2013

ANALISIS BUKU TEKS BAHASA INDONESIA KELAS XI KURIKULUM 2013 Diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah Telaah Kurikulum dan Buku Teks Dosen pengampu Slamet Triyadi S.Pd.,M.Pd. Disusun oleh: kelompok   (4D/ PBSI) Eni Nadia Pega 1610631080062 Irvan Syahril 1610631080093 Kiki Dwi Yulianti 1610631080100 Novia Windi Hastuti 1610631080142 Siska Krisnawati 1610631080191 Yulan Nurul Istiqomah 1610631080226 PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SINGAPERBANGSA KARAWANG 2018 KATA PENGANTAR Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas terselesaikannya makalah “Analisis Buku Teks Bahasa Indonesia Kelas XI Kurikulum 2013”. Semoga makalah ini menjadi makalah yang bermanfaat bagi orang-orang yang membacanya. Tidak lupa kami juga mengucapkan banyak terima kasih atas bantuan dari pihak yan...

ANTOLOGI PUISI MENCATAT DEMAM BERADA DI JALAN RAMAI

pada batas rasa kehilangan ini, aku biru. PUISI seperti sebuah arsip dari sesuatu yang abstrak ke bentuk yang konkret atau bentuk yang dapat menggugah indera. Sesuatu yang abstrak itu, kemudian dituliskan dengan rangkaian kata yang memiliki estetika bunyi dan bermakna. Penyair adalah seseorang yang menangkap keabstrakan tersebut, dan kemudian membawanya ke tengah pembaca sebagai sebuah tawaran menikmati sesuatu yang sudah ada maupun sesuatu yang baru. Keberangkatan awal penyair mencari sesuatu yang abstrak dimulai dari yang paling dekat dengan dirinya, yaitu diri sendiri. Kita mungkin pernah merasa kalau orang-orang di sekeliling tidak ada yang bisa memahami diri kita yang sedang putus asa, kecewa, dsb. Dari sanalah kita berperan memahami diri kita sendiri. Begitu pun penyair, ia berangkat dari dalam diri, lalu temuan-temuannya itu bisa dikaitkan dengan ikhwal di luar atau di dalam dirinya. Penyair hanya memilih beberapa temuan-temuannya dari sekian banyak temuan. Temuan yang p...

Kita Menua Bersama Puisi

Lampu kota terbangun ketika kita datang suara-suara roda pula klakson teriak di luar sana. Sementara kita menunggu pesanan datang; satu cinta untukmu dan satu rindu untuk dibawa pulang. Di atas meja. Matamu menikam degupku yang kurahasiakan darimu. Sesaat setelah matamu terbenam dalam mataku, mendadak luruh dan beterbangan puisi-puisi yang menyangga pertemuan kita. Malam ini kau adalah sajak yang meniduri pelupuk mataku, menepuk cintaku di ujung pintu. Kau seperti ombak yang meninggi dan segera menghempas dan aku batu karang yang akan menyambut ombak rasa sakitmu. Malam ini. Di atas meja bundar kau berkisah tentang kasih. Lalu, beberapa menit kemudian pesanan datang "Cinta ini, untuk siapa?" katamu ketus. "Untukmu dan rindu yang akan kau bawa pulang." Gumamku. Kau segala definisi dalam puisi yang kucintai, segala  waktu yang memeluk tubuhku  ketika menguraimu jadi kalimat indah. Ah kau. Mengapa lama-lama sekali? Peganglah tanganku dan kita ...