Skip to main content

Posts

Showing posts from October, 2016

Baret

Kala bom rindu berseru Tiap hentakan waktu Membawa aku sedu Terhenyak sepi pilu Meledak hilang Kau tak mampu hentikan Bom rindu Ranjau darat tertebar luas Tertutup hamparan pasir cinta Tanda batas wilayah Tak sudi direbut penjajah Tak kecuali kau Jauh diam di sana Tak kembali dalam mata Kau kepala baret Pandai runtuhkan kendaraan perang Pandai sembunyi di antara ilalang Pandai mengatur rencana perang Tapi, tak pandai Melunakan rindu membatu Menampung airmata sembilu

Kerangka Cinta

Suara ayumu Merasuk gendang telinga Menjelma partitur lagu Indah setiap notnya Helaian benang saraf Bergetar, berirama rindu Jantung berdegup maraton Di rendam irama itu Memburu garis akhir penantianmu Uraian rambutmu Terhempas angin jalang Menggoda bola mata Tanpa arah pandangan Terpanah, terbuai Helaian rambutmu. Oh, Sayang. Kerangka tubuh melunak Pundak, dibelai uraian rambutmu Bibir tipismu Begitu mempesona Warna merah muda Membalut sempurna Lontaran senyumu Membakar hasrat jiwa Menggebu penuh cinta Tenggelam di dasar asmara Garis tipis pemisah bibirmu Setipis jarak diriku dan dirimu.

Pendusta Cinta : Kau

Biarkan perasaan ini membangkai Mengeluarkan lendir dan bau busuk Sehingga kau, Benar-benar tak sudi Untuk meraih, apalagi memiliki Biarkan perasaan ini musnah Dilahap belatung mungil Agar tak seorang pun Meraih dan memiliki Perasaan yang kau dustai Aku, Hanyalah serpihan kenangan Tersapu ribuan ijuk runcing Terbuang di antara ruang ingatan Terbakar hangus Oleh terik, dekap perasaan. Kau, kenapa harus kau? Pembunuh darah dingin Bertopeng ketulusan Bersenjata kesetiaan Berjubah kemesraan Sial. Aku terkunci Diruang kebodohan Tersesat di antara rajutan cinta Menantimu atau kembali pulang.

Aku Datang : Malam Minggu

Malam ini Aku datang kembali Bersama ratapan jemu,pelancong hati. Matakaca dan kerut dahi Seolah si joli memadu kasih Yang menanggalkan kenangan Di depan pintu gurat pedih Ketika aku datang Jalanan sepi dan pepohonan rindang Di huni manusia, saling memuja kasih. Pencari jatidiri, mengayunkan tangan Menjamah senar gitar, irama tak karuan. Sampai minum yang tak dihalalkan Kalau sudah begini Kadang Aku tak mau datang Walau hanya satu detik, tak sudi. Aku tak mau Manusia terlena olehku Apalagi, jika mereka memujaku Yah, Aku penyumbang dosa Aku dermawan, membagikan manusia Ke dalam dasar Neraka Jika Tuhan murka Mengganti Jum'at dengan Aku Sebagai akhir dunia Lihatlah bulan itu Hanya tergantung di ufuk selatan Dia merintih, kusam. Walau sinarnya terang Dia ingin meledakan diri Jika terus menerangi dosa tanpa henti.

Ayah Bersama Waktu

Ayah, Kemana engkau? Jarum berputar Tanpa nafsu Mencari titik waktu Membelah siangmalam Ayah, Jika detik itu runtuh Menimpa tubuhku Lalu, Aku menangis Di hunus rindu Maukah engkau datang? Membawa dada hangatmu Ayah, Suara detak silih berganti Merusak saraf gendang telingaku Nyanyian kelabu Hiasi ruang kosong Sunyi tanpa deringanmu Ayah, Haruskah kuhentikan waktu? Haruskah kupisahkan rangkaian jarum? Haruskah kurubah susunan angka? Haruskah kubuang dayanya? Agar engkau, tak terlalu jauh berlalu. Ayah, Kurela membuang tungkai Kurela berjalan dengan tangan Demi menatap tubuhmu Tujuh lapis langit Kuremuk jadi satu Ayah, Jarum,detik,waktu Tak punya arti Tanpa sosok engkau Dalam sisa waktuku

Su

Bagaimana tak tercengang Rembulan tertancap diatas siung Silaunya pudar dijilat kumbang Danau tertawa bahak Sampai buih hasrat meluap Runtuhkan saka alam penuh noktah ... Kunang-kunang lelah menyinari bintang Bintang tumbuh di hamparan danau Daging terbungkus kulit berderet gelisah Menjaga rembulan, tak dicuri mega durjana Rakit menepi mencari mangsa Moncongnya menghendus puspa kelana ... Orkes lolongan jangkrik Berpadu siulan gagak Tembang karma menanti penoda Gunung-gunung menari samba Riuhan angin berpesta pora ... Kelabu hangus di belenggu rembulan Katak berenang mengitari danau Mencari serpihan rembulan Hilang terpahat garis khatulistiwa Rembulan kumal, Tak usah di rendam mata

Balada 29 Juni

Balada 29 Juni Hati bergetar di guncang monitor Urat mata tegang di sorot jajaran kata Jantung berdentum dasyat bagai bom hirosima nagasaki Nyali jemari di renggut prasangka hati Dua puluh sembilan Juni Aku mencengkram dunia ... Goresan tinta membekas di seuntai kertas Panorama mimpi tergambar jelas Pena hanya tertawa puas Melihat aku, Menggores mimpi di wajah seuntai kertas Mimpi luar batas, tak terjangkau manusia waras ... Dua puluh sembilan Juni Mimpi kakiku menginjak tanah sarjana Mataku penuh bangunan menjulang hebat Serta pundakku berat wawasan dunia Itu menembus khayal nyata Maafkan aku kertas, Aku kembali menggoresmu ... Dua puluh sembilan Juni Aku takkan berhenti karenamu Guncangan monitor Sorot jajaran kata Dentum dasyat bom hirosima nagasaki Nyali jemari di renggut prasangka hati Akan kuhadapi berkali-kali ... Kau, Dua puluh sembilan Juni Aku jadikan kau raja mimpi Prajuritmu akan kuhadirkan nanti.

Ngadap Ngalih

Pedang terik sayat pori Kutelungkup di bawah pena Bola itu 'kan kuremuk Menjadi receh tak guna Marahkh dia? Kutantang gulat di dasar toba Kulitku mendidih meronta Haus angin pembawa badut Lalu, kemanakah dia melancong? Daratan mana dia labrak? Daratan salju Daratan air Daratan tanpa darat Daratan manusia Pedang terik itu tumpul Di tabur semerbak keringat dada Bola itu tersipu merona Melihat aku tegak diantara Ranting dunia Tak usah kau dari timur! Barat pun aku tak canggung Pena bertuahku berkuasa Bala mimpi merayap pasti Enyah kau Dari terang Tak usah muncul Jika hanya penanda waktu Aku gerang di guyur semu

Hujan

Suara denting mencibir hati Dentum gemuruh mengugah gundah Rintik hujan turun berjuta Basahi kenangan tak berpola Angin membelai ranting Menikam helaian senyum semu Kerut kening menunggu layu Tanpa rona raut cintamu Hujan, kau banjiri telaga rindu Tiap rintikmu bagai jarum waktu Tiap ritikmu bagai butir cintaku Raut ayumu elok terlukis di telaga rindu Hujan di mana kau sembunyikan dia? Di balik tirai rintik tak ada Kubangan lara hanya melirik dada Dasar telaga juga tak punya Hujan kenapa kau tenggelamkan dia? Hanyut bersama benang sensara Rindu terbelah menganga Tepat di atas cinta bara Hujan, genggam dia Kering mataku senyum menggoda Hampa bibir pipi merona Hilang rinduku dekap dia mempesona

Karawang Dalam Kaleng

Aku berdiri di himpit pencakar langit Tubuh beton itu makin menjepit Kekuasaan timbun kemilau pangan  Pucuk padi tumbuh di antara ilalang Bualan melayang mencari tuan Keluar dari corong besar menjulang Mega meringis di kepul asap Jerit karawang hantap kemewahan Tangan-tangan tengadah panjang Kaki melepuh si miskin kelaparan Receh tutup nanah darah Makmur hanya surga tak pasti Musafir sikut kerasnya aspal Kaleng kecil hias lampu jalan Harap tangan turun datang Lelah tiada, demi sebutir padi Aku tau tugu terpampang itu Tugu tangan genggam padi Aku tak tahu arti Aku tahu arti kaleng kau beri Kau Karawang Amplop harapan kenapa kau tukar kaleng? Kaleng terukir urat saraf Sungguh indah, dimana kau beli? Karenamu Karawang Aku datang, punya kaleng indah Karenamu Karawang Air mataku kering tak sisa