Aku berdiri di himpit pencakar langit
Tubuh beton itu makin menjepit
Kekuasaan timbun kemilau pangan
Pucuk padi tumbuh di antara ilalang
Bualan melayang mencari tuan
Keluar dari corong besar menjulang
Mega meringis di kepul asap
Jerit karawang hantap kemewahan
Tangan-tangan tengadah panjang
Kaki melepuh si miskin kelaparan
Receh tutup nanah darah
Makmur hanya surga tak pasti
Musafir sikut kerasnya aspal
Kaleng kecil hias lampu jalan
Harap tangan turun datang
Lelah tiada, demi sebutir padi
Aku tau tugu terpampang itu
Tugu tangan genggam padi
Aku tak tahu arti
Aku tahu arti kaleng kau beri
Kau Karawang
Amplop harapan kenapa kau tukar kaleng?
Kaleng terukir urat saraf
Sungguh indah, dimana kau beli?
Karenamu Karawang
Aku datang, punya kaleng indah
Karenamu Karawang
Air mataku kering tak sisa
Comments
Post a Comment
Terima kasih atas apresiasinya.