Skip to main content

Posts

Showing posts from September, 2016

Aku Pulang

Ya Robbi, mataku terce lik kebesaran-Mu Embun khalis penyejuk hati Nadi berdenyut ku iris mati Izinkan aku di Nirwana-Mu nanti      Sepucuk amal berdebu kutaruhkan      Angin kematian akan menghadang      Rebahkan aku di atas kesempurnaan      Angkat aku dengan sejuta senyuman      Hamba pulang kepadamu Tuhan    

Kerinduan

Di mana dirimu tertelan bumi? Ombak gerus suaramu Karang tutup senyumu Rintih hujan obat rindu    Nyanyian angin berdesir    Menerpa daun-daun gurat tua    Tak satupun bicara    Sampai daun gugur muda Ku termenung sendu harap dirimu Bertanya butiran pasir merayu Rumput melambai sayu menipu Di antara jejak langkahmu    Dirimu sayat imaji hati    Sinaran senja terlantar buai    Kisah usang terpancar landai    Warna tergambar di garis pantai Ini mungkin suratan Tangan tuhan tembus warna suram Hati merana runcing dalam Gersang tulus kasih sayang    Akan ku kasi pesan setangkai    Kepada kicau burung bersahutan    Apa kabarmu,sayang?    Hatiku diranai rindu dalam .

Engkau Pahlawan Bangsaku

  Tiga ratus lima puluh tahun Engkau membela negriku Berjuang tanpa henti untuk Indonesiaku Engkau pahlawan bangsaku       Bambu runcing ter-genggam erat       Bendera Merah Putih ter-ikat kuat       Jiwa ragamu ter-aluri semangat       Demi Indonesia menjadi ter-hormat "Merdeka !" kau teriakan lantang Bendera Merah Putih berkibar dimedan perang Satu suara, satu tekad, satu tujuan Membinasakan merela yang haus kekuasaan        Engkau, Koyahkan bendera biru        Yang terjahit di bawah bendera Merah Putih        Engkau, ledakan kendaraan perang        Hanya dengan sebilah bambu Kecintaanmu kepada Indonesia  Pengabdianmu Kepada Indonesia Pengorbananmu Kepada Indonesia Akan terus Ter-ukir, tak mungkin hilang       Tak akan aku biarkan Indonesia kembali di duduki       Jiwa ragamu yang telah...

Aku Sampah

Tuhan ampuni Aku Yang abaikan kepada-Mu Yang sombong kepada-Mu Yang angkuh perintah-Mu    Aku sampah jalan berlubang    Tak berarti    Tak bermakna    Hanya kaleng rongsok terbuang Maksiat mendarah hebat Kebohongan menjamur kuat Dosa kuhasilkan menggunung berpuncak Kujadikan penghargaan tercatat    Tuhan ampuni Aku    Aku bangun disiram air surga    Aku sadar,mata lelap dosa    Hanya engkau mahakuasa dunia   Tegur aku, jika aku salah    Hukum aku, jika aku mendua    Maafkan aku, jika aku berdosa    Panggil aku, jika aku tetap menjadi sampah dunia

Pesan Cinta

Andai perasaan cinta kasat mata Andai yang punya mata melihat yang mencintainya Mungkin tak harusku menunggu lama Untuk mendapatkan cinta darinya    Dirimu laksana mutiara di dasar lautan    Sangat berharga dan sulit di dapat    Karena aku bukanlah penyelam    Penyelam dalam hatimu yang sesak masa lalu Apalah daya ingin memeluk gunung Namun tangan tak sampai Dirimu dan sejuta cerita Menggores setiap jengkal ingatan ku    Dirimu hanya bagian kecil hidupku    Rasaku yang tak pernah sampai    Rasaku yang tak pernah terlihat    Rasaku yang tak pernah terbalas Dunia tak selebar daun kelor Semut tak hanya seekor Patah tumbuh hilang berganti Dirimu akan hilang terkikis wanita pengganti

Sebatang Coklat

Apalah arti sebatang coklat Hanya rasa manis yang melekat Ada selembar pesan singkat Yang tersurat     Sebatang bungkus coklat     Bukan hanya rasa manis yang melekat     Perasaanku kepada penerima coklat     Ikut melekat kuat

Pelita Hati

Betapa bahagianya hati Berjumpa sang dambaan hati Yang tlah lama kumenanti Jauh dimata,dekat dihati     Kau membuatku jatuh hati     Rasa rindu setengah mati     Ketika kujauh darimu nanti     Hanya suaramu pengobat sepi hati Percayalah, Seberapa jauh kumelangkah nanti Hanya kau yang tersimpan dihati Kau pelita hati yang tak pernah terganti

Manusia Mimpi

Aku manusia mimpi Gunung ku remas Laut ku kuras Aku tak mati satu mimpi Toga terpasang ujung kepala nanti Aku tak lapuk panas Aku tak rapuh hujan Kaki kecilku lapis emas karat Terjang serbu lorong gelap Khayal tak lagi kias Mimpi tak lagi bias Suntik semangat kudosis luar batas Wujudku sudah tak waras Bermimpi terus mimpi Mimpi karena mimpi Mimpi di atas memimpi Memimpi karena bermimpi Kelak, aku bagai titik merah Mata panah melesat ramai Menyeret giur bak air sungai Imaji surga mata rantai Aku tak mati satu mimpi Toga kulempar setinggi bumi Sampai meruntuhkan mimpi-mimpi Aku manusia mimpi bukan bermimpi

Langit Bintang

Indahnya langit malam Bintang berserak penuh kilau Andai kau tahu cintaku tlah lampau Sesak tulus kasih bukan gurau Bintang sergap langit hitam Ramai gelap penuh sirat Warna terurai lalap gelap Langit bintang bunuh luapan raut Langit di paku bintang Tak hilang oleh desiran hampa harapan Berdesir angin rindu kelam malam Hati senyap sunyi landa jiwa Andai kudapat belah langit hitam Bintang berserak penuh kilau Bercap kecup kukirim seutas rindu Hanya kepadamu wanita pujaanku Kau, aku, dan gudang kenangan Tak sama seperti langit bintang Disatukan tangan tuhan Tak pisah, berdampingan dan berkilau    

Dibalik layarku

Dimana aku sekarang Tempat apa ini yang kupijak Banyak orang berpendidikan berlalu-lalang Namun entah apa yang mereka kerjakan    Dimana aku sekarang    Tempat apa ini yg kupijak    Apakah aku bagian dari mereka     Mereka yang berpendidikan Dimana aku sekarang Tak satu pun peduli padaku Tak satu pun mengulurkan tangan Apakah benar mereka berpendidikan    Dimana aku sekarang    Inginku teriak sekeras mungkin    Meluapkan isi dihatiku    Tentang kesengsaraan kemelaratanku    Namun hati mereka mati Dimana aku sekarang Banyak orang memancing dalam belanga Aku bak sibuta kehilangan tongkat Aku hanya mampu mengusap dada    Dimana aku sekarang    Meminta kepedulian uluran tangan mereka    Bak meminta minum pada orang kikir    Apakah benar mereka berpendidikan Dimana aku sekarang Tempat apa ini yang kupi...