Skip to main content

Apakah Semesta Hanya Diisi Manusia yang Nyebelin?


Akhir-akhir ini Tuhan sedang menguji kekuatan mental hambanya yang mageran seperti gue. Dalam sepekan ada aja kejadian atau hal kecil yang bikin mood gue ilang mendadak, entah ketika lagi baca buku atau santai di ruang tamu. Ada aja orang yang engga ngerti kalau gue lagi ‘me time' di tengah keramaian, dan ada yang sok asik mendekati gue yang menyendiri (mungkin dia kira gue mahkluk lemah yang engga sanggup hidup dalam kesepian). 
 
Konon memang manusia adalah makhluk sosial. Manusia berkomunikasi dan bergotong royong dengan manusia lainnya untuk bertahan hidup. Interaksi yang terjalin membuat manusia menjadi kuat menghadapi segala hal bersama-sama. Namun bukan berarti manusia bisa berlaku seenaknya untuk  sebuah interaksi, iya kan? Dan bukan berarti kita bisa menerobos batas otoritas manusia lain demi sesuatu yang kita namai sebagai kebersamaan? Gue kadang berpikir apakah setiap orang pengen menjadi sosok yang superior atau memang mereka sudah kehilangan pengakuan, sehingga mereka melakukan hal-hal tersebut. 
 
Hampir setiap hari gue harus menghadapi orang nyebelin seperti itu, contohnya ada orang yang kadang memaksa kita untuk melakukan sesuatu atau mengikuti persepsi yang dimilikinya. Ada juga yang memaksa merespons/menanggapi sesuatu, padahal kita tidak punya kaitan apa pun. Dan atau ada orang yang memaksa miliki kesamaan atas nama solidaritas/keseragaman, padahal tidak berpengaruh dalam kehidupan kita, bahkan kadang sangat mengganggu. 
 
Bagi sebagian orang persoalan ini dianggap lebay dan gue si paling baperan, engga asik, kurang jauh maennya dan seterusnya. Menurut gue persoalan ini engga bisa dianggap enteng. Makin lama dalam suatu komunitas pertemanan atau lingkungan kerja sekali pun, jika dibiarkan maka akan menjadi lingkungan yang toxic. Orang-orang di dalamnya pun akan saling ingin mengendalikan satu dengan yang lain, dan rasa ingin mengendalikan itu akan terus menerus mengarah pada seseorang yang lemah. Pada akhirnya tanpa sadar kita menciptakan suatu dikotomi antara geng terkuat dengan geng terlemah. 
 
Sikap manusia yang kurang menerima perbedaan kebiasaan, adat, dan perilaku seseorang akan menjadi pemicu hubungan interaksi yang palsu. Segala komunikasi dan gotong royong hanya sebuah kewajiban yang perlu dilakukan sebagai manusia, bukan lagi menjadi cara bertahan hidup dengan mengutamakan simbiosis mutualisme. Karena itu, mungkin di antara kita (termasuk gue) selalu merasakan lelah berlebih setelah bertemu dengan orang banyak. Sebab sepanjang pertemuan itu kita hanya berpura-pura nyaman, tenang dan bahagia. Energi yang kita gunakan habis untuk menyenangkan orang lain, di saat orang lain melampaui batasan yang sudah kita tentukan. 
 
Manusia memang tidak dapat sepenuhnya ngendalikan segala sesuatu yang terjadi di luar dirinya, selain yang ada dalam diri sendiri. Sebab itu tidak aneh jika seseorang memilih jauh lebih baik menikmati kesendirian, dibanding dengan keramaian yang membuat perasaannya lelah atau terluka. Mencegah sesuatu yang tidak dapat dikendalikan adalah suatu kebodohan dan tidak rasional. Sampai di sini gue merasa kalau setiap manusia engga saling memahami satu dengan yang lain, selamanya semesta ini akan terasa dipenuhi manusia yang nyebelin. Akhirnya kita memiliki persepsi bahwa manusia diciptakan untuk nyebelin satu dengan yang lainya. 
 
serpihmimpi,2022


Comments

  1. Semangaatthh Pak Irvan.. Jejaknya masih ada di SMKN 2...☺

    ReplyDelete

Post a Comment

Terima kasih atas apresiasinya.

Popular posts from this blog

Analisis Buku Teks Bahasa Indonesia Kelas XI Kurikulum 2013

ANALISIS BUKU TEKS BAHASA INDONESIA KELAS XI KURIKULUM 2013 Diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah Telaah Kurikulum dan Buku Teks Dosen pengampu Slamet Triyadi S.Pd.,M.Pd. Disusun oleh: kelompok   (4D/ PBSI) Eni Nadia Pega 1610631080062 Irvan Syahril 1610631080093 Kiki Dwi Yulianti 1610631080100 Novia Windi Hastuti 1610631080142 Siska Krisnawati 1610631080191 Yulan Nurul Istiqomah 1610631080226 PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SINGAPERBANGSA KARAWANG 2018 KATA PENGANTAR Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas terselesaikannya makalah “Analisis Buku Teks Bahasa Indonesia Kelas XI Kurikulum 2013”. Semoga makalah ini menjadi makalah yang bermanfaat bagi orang-orang yang membacanya. Tidak lupa kami juga mengucapkan banyak terima kasih atas bantuan dari pihak yan...

ANTOLOGI PUISI MENCATAT DEMAM BERADA DI JALAN RAMAI

pada batas rasa kehilangan ini, aku biru. PUISI seperti sebuah arsip dari sesuatu yang abstrak ke bentuk yang konkret atau bentuk yang dapat menggugah indera. Sesuatu yang abstrak itu, kemudian dituliskan dengan rangkaian kata yang memiliki estetika bunyi dan bermakna. Penyair adalah seseorang yang menangkap keabstrakan tersebut, dan kemudian membawanya ke tengah pembaca sebagai sebuah tawaran menikmati sesuatu yang sudah ada maupun sesuatu yang baru. Keberangkatan awal penyair mencari sesuatu yang abstrak dimulai dari yang paling dekat dengan dirinya, yaitu diri sendiri. Kita mungkin pernah merasa kalau orang-orang di sekeliling tidak ada yang bisa memahami diri kita yang sedang putus asa, kecewa, dsb. Dari sanalah kita berperan memahami diri kita sendiri. Begitu pun penyair, ia berangkat dari dalam diri, lalu temuan-temuannya itu bisa dikaitkan dengan ikhwal di luar atau di dalam dirinya. Penyair hanya memilih beberapa temuan-temuannya dari sekian banyak temuan. Temuan yang p...

Kita Menua Bersama Puisi

Lampu kota terbangun ketika kita datang suara-suara roda pula klakson teriak di luar sana. Sementara kita menunggu pesanan datang; satu cinta untukmu dan satu rindu untuk dibawa pulang. Di atas meja. Matamu menikam degupku yang kurahasiakan darimu. Sesaat setelah matamu terbenam dalam mataku, mendadak luruh dan beterbangan puisi-puisi yang menyangga pertemuan kita. Malam ini kau adalah sajak yang meniduri pelupuk mataku, menepuk cintaku di ujung pintu. Kau seperti ombak yang meninggi dan segera menghempas dan aku batu karang yang akan menyambut ombak rasa sakitmu. Malam ini. Di atas meja bundar kau berkisah tentang kasih. Lalu, beberapa menit kemudian pesanan datang "Cinta ini, untuk siapa?" katamu ketus. "Untukmu dan rindu yang akan kau bawa pulang." Gumamku. Kau segala definisi dalam puisi yang kucintai, segala  waktu yang memeluk tubuhku  ketika menguraimu jadi kalimat indah. Ah kau. Mengapa lama-lama sekali? Peganglah tanganku dan kita ...