Skip to main content

NEPOTISME: Melihat Orang Dalam Bekerja

 Nepotisme sudah menjadi budaya di tengah masyarakat bukan lagi suatu rahasia umum. Tindakan nepotisme tidak perlu lagi ditutup-tutupi, bahkan tindakan yang perlu dan harus dilakukan dalam mempertahankan kedudukan. Secara terbuka kita pun menerima sebagai kewajaran. Fenomena yang biasa terjadi.


Menyebut terang nepotisme rasanya terdengar seperti tindak kejahatan yang amat berdosa. Maka agar mendapat persepsi yang bernilai positif, dan dianggap suatu hal 'baik', sebagaimana seminar-seminar yang kadangkala mencantumkan keuntungan peserta yakni mendapat relasi, kiita mengganti istilah 'nepotisme' dengan 'relasi'. Pasti kita semua tidak asing lagi istilah tersebut. Kendati konsepnya agak berbeda, tapi cara kerja keduanya memiliki kesamaan. 


Dewasa ini istilah 'relasi' erat kaitannya dengan dunia kerja, baik di pemerintahan ataupun bukan. Tujuan 'relasi' barangkali didasari untuk menjaga kestabilan mutu dan kinerja suatu perusahaan, lembaga, atau instansi, dengan cara merekomendasikan seseorang yang dipercayai memiliki kemampuan yang setara atau lebih dibanding dengan lainnya. Perlahan perspektif 'relasi' justru bukan pada tujuan tersebut, melainkan bentuk upaya untuk mempertahankan dan keberlanjutan kedudukan. Sehingga di lingkaran pekerjaan kita mendapati satu jalinan keluarga besar ada di dalamnya. Yang acap kali kita sebut sebagai 'dinasti'.


Praktik mengutamakan 'relasi' menciptakan situasi mencari kerja makin runyam. Negara dengan berbagai upaya mengusung program untuk masyarakat  mudah mendapat pekerjaan, dan di daerah-daerah mengumumkan lowongan kerja, hanya menjadi solusi yang tak berpihak semata. Mencari kerja bukan lagi suatu ajang mengadu kemampuan dan kemahiran seseorang, tapi mengadu kekuatan pengaruh orang yang merekomendasikan seseorang tersebut. Memang bukan hal yang mustahil mendapat pekerjaan tanpa memiliki 'relasi', tapi perlu usaha ekstra calon pekerja mampu menang bersaing. Bersaing melawan kuantitas yang lebih banyak 'relasi' lebih sulit, ketimbang bersaing mengandalkan pengetahuan dan kemampuan masing-masing. 


Budaya nepotisme yang kuat ini turut menyeret kita, bukan hanya sebagai orang yang direkomendasikan, justru kita sewaktu-waktu adalah pelaku utama. Contohnya, ketika ada lowongan pekerjaan di suatu tempat kita bekerja, sudah tentu yang akan kita ajak yaitu sanak saudara. Lowongan akan kita sebar setelah sudah dipastikan tidak ada satu pun sanak saudara yang menerima. Dan itu pun tidak langsung ke khalayak umum, tetapi pada sahabat, teman dekat terlebih dahulu. 


Tidak bisa kita menutup mata dan tidak bisa pula dengan idealisme melawan akar budaya yang kuat semacam ini. Ibarat berada di atas perahu, kita akan lebih mudah mencapai dermaga dengan mengikuti arusnya. Sampai sini dapat kita rumuskan bahwa keberuntungan ialah adanya kemampuan, kesempatan, dan relasi. 


2021.










Comments

Popular posts from this blog

Analisis Buku Teks Bahasa Indonesia Kelas XI Kurikulum 2013

ANALISIS BUKU TEKS BAHASA INDONESIA KELAS XI KURIKULUM 2013 Diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah Telaah Kurikulum dan Buku Teks Dosen pengampu Slamet Triyadi S.Pd.,M.Pd. Disusun oleh: kelompok   (4D/ PBSI) Eni Nadia Pega 1610631080062 Irvan Syahril 1610631080093 Kiki Dwi Yulianti 1610631080100 Novia Windi Hastuti 1610631080142 Siska Krisnawati 1610631080191 Yulan Nurul Istiqomah 1610631080226 PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SINGAPERBANGSA KARAWANG 2018 KATA PENGANTAR Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas terselesaikannya makalah “Analisis Buku Teks Bahasa Indonesia Kelas XI Kurikulum 2013”. Semoga makalah ini menjadi makalah yang bermanfaat bagi orang-orang yang membacanya. Tidak lupa kami juga mengucapkan banyak terima kasih atas bantuan dari pihak yan...

ANTOLOGI PUISI MENCATAT DEMAM BERADA DI JALAN RAMAI

pada batas rasa kehilangan ini, aku biru. PUISI seperti sebuah arsip dari sesuatu yang abstrak ke bentuk yang konkret atau bentuk yang dapat menggugah indera. Sesuatu yang abstrak itu, kemudian dituliskan dengan rangkaian kata yang memiliki estetika bunyi dan bermakna. Penyair adalah seseorang yang menangkap keabstrakan tersebut, dan kemudian membawanya ke tengah pembaca sebagai sebuah tawaran menikmati sesuatu yang sudah ada maupun sesuatu yang baru. Keberangkatan awal penyair mencari sesuatu yang abstrak dimulai dari yang paling dekat dengan dirinya, yaitu diri sendiri. Kita mungkin pernah merasa kalau orang-orang di sekeliling tidak ada yang bisa memahami diri kita yang sedang putus asa, kecewa, dsb. Dari sanalah kita berperan memahami diri kita sendiri. Begitu pun penyair, ia berangkat dari dalam diri, lalu temuan-temuannya itu bisa dikaitkan dengan ikhwal di luar atau di dalam dirinya. Penyair hanya memilih beberapa temuan-temuannya dari sekian banyak temuan. Temuan yang p...

Kita Menua Bersama Puisi

Lampu kota terbangun ketika kita datang suara-suara roda pula klakson teriak di luar sana. Sementara kita menunggu pesanan datang; satu cinta untukmu dan satu rindu untuk dibawa pulang. Di atas meja. Matamu menikam degupku yang kurahasiakan darimu. Sesaat setelah matamu terbenam dalam mataku, mendadak luruh dan beterbangan puisi-puisi yang menyangga pertemuan kita. Malam ini kau adalah sajak yang meniduri pelupuk mataku, menepuk cintaku di ujung pintu. Kau seperti ombak yang meninggi dan segera menghempas dan aku batu karang yang akan menyambut ombak rasa sakitmu. Malam ini. Di atas meja bundar kau berkisah tentang kasih. Lalu, beberapa menit kemudian pesanan datang "Cinta ini, untuk siapa?" katamu ketus. "Untukmu dan rindu yang akan kau bawa pulang." Gumamku. Kau segala definisi dalam puisi yang kucintai, segala  waktu yang memeluk tubuhku  ketika menguraimu jadi kalimat indah. Ah kau. Mengapa lama-lama sekali? Peganglah tanganku dan kita ...