Skip to main content

Menanggapi Harapan yang Hancur


 

Pada usia yang tidak lagi memikirkan liburan atau tempat nongkrong setiap weekend, menyusun mimpi atau target tahunan yang kadang kurang rasional hanya buang-buang waktu. Semalaman setelah tahun baru biasanya kita termenung mengingat apa yang gagal dan apa yang berhasil dicapai. Semakin sedikit capaian yang berhasil, semakin kita menilai diri sendiri lebih buruk dari sebelumnya atau memberikan sugesti pada diri bahwa kita tidak bisa melakukan apa-apa. Pola Pikir seperti ini harusnya hanya berlaku ketika kita masih pada masa minta antar ambil raport sekolah. Ingat kita bukan lagi di fase yang membutuhkan ungkapan yang membesarkan diri, kita ada di fase seperti kata orang "Mau sedunia bilang semangat, tapi kalau aku capek, ya capek!"

Kita sudah melampaui banyak tragedi, kegagalan, dan patah hati yang membentuk cara berpikir. Bagaimana kehidupan akan terus berjalan ketika menerima segalanya, bukan tergantung orang lain untuk bergerak. Kita pun sadar bahwa pentingnya memiliki konsep hidup dan cara bersikap tidak berlebihan dalam keberhasilan atau pun kegagalan. Tanpa sadar dari pada menggantung mimpi di langit yang tinggi penuh bintang, lebih baik digantung di depan pintu kamar tidur agar kita tahu ke mana arah yang mesti dituju saat itu.

Kegagalan adalah keadaan di mana kita berpikir irasionalitas. Dari mana datangnya pikiran irasional? tentu dari media sosial yang kini menjadi tolok ukur kehidupan, bukan lagi tetangga kita yang setiap hari berkomentar. Sialnya kita mudah terjebak pada hal-hal yang irasional sampai tidak bisa tidur, menganggap 100% mampu melakukan hal yang sama dengan orang lain dengan berpegang teguh dengan pepatah "Kalau orang lain bisa, kenapa kita tidak". Inilah sebetulnya yang membuat hidup kita makin terasa semrawut, sebab sombong merasa bisa melakukan segala hal.

Lebih mengerikan ialah kebiasaan kita membandingkan kegagalan dengan keberhasilan orang lain. Hidup kita sebetulnya bahagia dan menyenangkan kok, kalau selama ini kita fokus pada diri melakukan hal kecil menuju hal besar, dan mengapresiasi setiap yang kamu lakukan. Segala yang terjadi sebagian besar di luar kendali kita, di luar kuasa kita, karena itu sekuat apa pun kita menolak dan/atau mengatur semua terasa lebih menyakitkan. Ada salah satu yang dapat kita kendalikan yaitu perasaan kita. Artinya jika segala sesuatu yang terjadi kita tangkap dengan perasaan sebagai hal wajar, kita akan baik-baik saja, dan sebaliknya. Kita bisa menjadi sangat hancur menerima kegagalan, ketika perasaan menangkap sebagai bencana.

Comments

Popular posts from this blog

Analisis Buku Teks Bahasa Indonesia Kelas XI Kurikulum 2013

ANALISIS BUKU TEKS BAHASA INDONESIA KELAS XI KURIKULUM 2013 Diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah Telaah Kurikulum dan Buku Teks Dosen pengampu Slamet Triyadi S.Pd.,M.Pd. Disusun oleh: kelompok   (4D/ PBSI) Eni Nadia Pega 1610631080062 Irvan Syahril 1610631080093 Kiki Dwi Yulianti 1610631080100 Novia Windi Hastuti 1610631080142 Siska Krisnawati 1610631080191 Yulan Nurul Istiqomah 1610631080226 PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SINGAPERBANGSA KARAWANG 2018 KATA PENGANTAR Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas terselesaikannya makalah “Analisis Buku Teks Bahasa Indonesia Kelas XI Kurikulum 2013”. Semoga makalah ini menjadi makalah yang bermanfaat bagi orang-orang yang membacanya. Tidak lupa kami juga mengucapkan banyak terima kasih atas bantuan dari pihak yan...

ANTOLOGI PUISI MENCATAT DEMAM BERADA DI JALAN RAMAI

pada batas rasa kehilangan ini, aku biru. PUISI seperti sebuah arsip dari sesuatu yang abstrak ke bentuk yang konkret atau bentuk yang dapat menggugah indera. Sesuatu yang abstrak itu, kemudian dituliskan dengan rangkaian kata yang memiliki estetika bunyi dan bermakna. Penyair adalah seseorang yang menangkap keabstrakan tersebut, dan kemudian membawanya ke tengah pembaca sebagai sebuah tawaran menikmati sesuatu yang sudah ada maupun sesuatu yang baru. Keberangkatan awal penyair mencari sesuatu yang abstrak dimulai dari yang paling dekat dengan dirinya, yaitu diri sendiri. Kita mungkin pernah merasa kalau orang-orang di sekeliling tidak ada yang bisa memahami diri kita yang sedang putus asa, kecewa, dsb. Dari sanalah kita berperan memahami diri kita sendiri. Begitu pun penyair, ia berangkat dari dalam diri, lalu temuan-temuannya itu bisa dikaitkan dengan ikhwal di luar atau di dalam dirinya. Penyair hanya memilih beberapa temuan-temuannya dari sekian banyak temuan. Temuan yang p...

Kita Menua Bersama Puisi

Lampu kota terbangun ketika kita datang suara-suara roda pula klakson teriak di luar sana. Sementara kita menunggu pesanan datang; satu cinta untukmu dan satu rindu untuk dibawa pulang. Di atas meja. Matamu menikam degupku yang kurahasiakan darimu. Sesaat setelah matamu terbenam dalam mataku, mendadak luruh dan beterbangan puisi-puisi yang menyangga pertemuan kita. Malam ini kau adalah sajak yang meniduri pelupuk mataku, menepuk cintaku di ujung pintu. Kau seperti ombak yang meninggi dan segera menghempas dan aku batu karang yang akan menyambut ombak rasa sakitmu. Malam ini. Di atas meja bundar kau berkisah tentang kasih. Lalu, beberapa menit kemudian pesanan datang "Cinta ini, untuk siapa?" katamu ketus. "Untukmu dan rindu yang akan kau bawa pulang." Gumamku. Kau segala definisi dalam puisi yang kucintai, segala  waktu yang memeluk tubuhku  ketika menguraimu jadi kalimat indah. Ah kau. Mengapa lama-lama sekali? Peganglah tanganku dan kita ...