Skip to main content

Relasi Lebih Penting daripada Prestasi untuk Mendapatkan Pekerjaan

 



SUDAH menjadi rahasia umum salah satu faktor keberhasilan untuk mendapatkan pekerjaan adalah relasi. Kondisi seperti ini tentu menguntungkan bagian sebagian orang yang diwarisi relasi oleh keluarga atau mereka yang membangun relasi sejak duduk di bangku sekolah/kuliah. Mereka yang memiliki relasi memiliki harapan dan peluang yang lebih besar dan terjamin.

Jika dilihat sekilas semua pelamar kerja memiliki kesempatan yang sama besar, tetapi hal ini tidak berlaku bagi mereka yang telah lebih dulu mencuri start yaitu memiliki relasi dalam perusahaan/instansi yang bersangkutan. Misal ada dua orang yang melamar pada perusahaan yang sama, tetapi salah satu di antara mereka memiliki relasi di dalam perusahaan tersebut. Pemenang dari kedua pelamar tersebut sudah pasti yaitu orang yang memiliki relasi. Sekali pun perusahaan mengadakan tes seleksi, hal tersebut hanya suatu formalitas belaka.

Lalu bagaimana jika semua pelamar dalam satu perusahaan memiliki relasi dan perusahaan hanya bisa menerima satu dua orang saja? Cara perusahaan menentukannya ialah siapa di antara mereka yang relasinya memiliki kekuatan/jasa/pengaruh besar dalam perkembangan perusahaan. Pendidikan dan kemampuan akan menjadi tolok ukur jika relasi yang mereka sama-sama berpengaruh.

Maaf mas/mba punya kenalan siapa di dalam perusahaan/instansi ini? Kalimat semacam itu seperti hal yang lumrah bagi pelamar kerja ulung. Terlebih yang menjengkelkan ialah ketika dianjurkan untuk membawa pulang lagi berkas lamaran kerja karena tidak memiliki relasi. Alih-alih ingin merasakan tes seleksi kerja pada kenyataan hanya terhenti di pintu pos satpam. Adanya fenomena semacam ini turut membuat runyam para pencari kerja, apalagi bagi mereka yang baru saja luluh dari bangku sekolah maupun kuliah.

Mereka yang tidak mempunyai relasi bukan mustahil untuk mendapatkan pekerjaan, melainkan mereka harus lebih berusaha lebih keras melatih kemampuan dan pengetahuan. Sebab tidak ada yang tahu pasti di perusahaan atau instansi mana yang yang tidak mengutamakan kerelasian. Hal tersebut pula yang mengharuskan pelamar tanpa relasi pintar-pintar mencari informasi tentang seluk-beluk perusahaan atau instansi.

Tidak terbendungnya fenomena relasi sebagi kunci keberhasilan mendapatkan pekerjaan, maka dalam proses menempuh pendidikan di jenjang sekolah atau kuliah sebaiknya kita jangan terlalu ngoyo untuk memperoleh prestasi akademik yang spektakuler. Sejatinya kita merupakan makhluk sosial yang membutuhkan manusia lain untuk bisa bertahan hidup, karena itu kita perlu menyeimbangkan antara akademik dengan interaksi sosial di luar kegiatan akademik.

Salah satu faktor yang menyebab seseorang tidak tahu arah tujuan hidup setelah lepas dari dunia akademik yaitu ketidaktahuan harus berelasi dengan siapa agar pengetahuan dan kemampuannya bisa menopang keberlangsungan sandang, pangan dan papan. Karena itu sekecil apa pun relasi yang kita miliki harus dipertahankan dan diperluas di mana pun, mengingat fenomena semacam itu tidak akan bisa dibendung dan akan semakin menyebar ke berbagai jenis pekerjaan.

Mulailah bangun relasi dengan guru atau dosen yang terdekat dengan kita, relasi dengan satpam atau penjaga warung sekalipun. Lalu cobalah di mana pun tempat kita bekerja membentuk relasi. Setidaknya jika keluarga kita tidak memberikan warisan relasi, kita lah yang menciptakan relasi sendiri, dan tidak hanya harta yang kita warisankan tetapi juga mewariskan relasi.

Subang, 2023

 

 

Comments

Popular posts from this blog

Analisis Buku Teks Bahasa Indonesia Kelas XI Kurikulum 2013

ANALISIS BUKU TEKS BAHASA INDONESIA KELAS XI KURIKULUM 2013 Diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah Telaah Kurikulum dan Buku Teks Dosen pengampu Slamet Triyadi S.Pd.,M.Pd. Disusun oleh: kelompok   (4D/ PBSI) Eni Nadia Pega 1610631080062 Irvan Syahril 1610631080093 Kiki Dwi Yulianti 1610631080100 Novia Windi Hastuti 1610631080142 Siska Krisnawati 1610631080191 Yulan Nurul Istiqomah 1610631080226 PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SINGAPERBANGSA KARAWANG 2018 KATA PENGANTAR Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas terselesaikannya makalah “Analisis Buku Teks Bahasa Indonesia Kelas XI Kurikulum 2013”. Semoga makalah ini menjadi makalah yang bermanfaat bagi orang-orang yang membacanya. Tidak lupa kami juga mengucapkan banyak terima kasih atas bantuan dari pihak yan...

ANTOLOGI PUISI MENCATAT DEMAM BERADA DI JALAN RAMAI

pada batas rasa kehilangan ini, aku biru. PUISI seperti sebuah arsip dari sesuatu yang abstrak ke bentuk yang konkret atau bentuk yang dapat menggugah indera. Sesuatu yang abstrak itu, kemudian dituliskan dengan rangkaian kata yang memiliki estetika bunyi dan bermakna. Penyair adalah seseorang yang menangkap keabstrakan tersebut, dan kemudian membawanya ke tengah pembaca sebagai sebuah tawaran menikmati sesuatu yang sudah ada maupun sesuatu yang baru. Keberangkatan awal penyair mencari sesuatu yang abstrak dimulai dari yang paling dekat dengan dirinya, yaitu diri sendiri. Kita mungkin pernah merasa kalau orang-orang di sekeliling tidak ada yang bisa memahami diri kita yang sedang putus asa, kecewa, dsb. Dari sanalah kita berperan memahami diri kita sendiri. Begitu pun penyair, ia berangkat dari dalam diri, lalu temuan-temuannya itu bisa dikaitkan dengan ikhwal di luar atau di dalam dirinya. Penyair hanya memilih beberapa temuan-temuannya dari sekian banyak temuan. Temuan yang p...

Kita Menua Bersama Puisi

Lampu kota terbangun ketika kita datang suara-suara roda pula klakson teriak di luar sana. Sementara kita menunggu pesanan datang; satu cinta untukmu dan satu rindu untuk dibawa pulang. Di atas meja. Matamu menikam degupku yang kurahasiakan darimu. Sesaat setelah matamu terbenam dalam mataku, mendadak luruh dan beterbangan puisi-puisi yang menyangga pertemuan kita. Malam ini kau adalah sajak yang meniduri pelupuk mataku, menepuk cintaku di ujung pintu. Kau seperti ombak yang meninggi dan segera menghempas dan aku batu karang yang akan menyambut ombak rasa sakitmu. Malam ini. Di atas meja bundar kau berkisah tentang kasih. Lalu, beberapa menit kemudian pesanan datang "Cinta ini, untuk siapa?" katamu ketus. "Untukmu dan rindu yang akan kau bawa pulang." Gumamku. Kau segala definisi dalam puisi yang kucintai, segala  waktu yang memeluk tubuhku  ketika menguraimu jadi kalimat indah. Ah kau. Mengapa lama-lama sekali? Peganglah tanganku dan kita ...