Skip to main content

HIDUP KOK FORMALITAS SIH?!


Seseorang pernah bilang di mana pun kita berada, kita akan berperan menjadi orang lain. Diri kita di tempat kerja atau di tongkrongan adalah sosok yang lain. Kita tak pernah menunjukan diri kita yang sebenarnya kepada siapa pun. Peran yang kita mainkan selama kurang dari 24 jam tersebut adalah suatu keharusan. Tidak boleh tidak. Sebab siapa pun tidak bisa memaksakan jati diri yang asli dipaksakan beradaptasi di lingkungan sesuai keperluannya. 

Ibarat setiap pagi selesai mandi, kita memilih pakaian mana yang cocok untuk hari ini. Warna apa yang sesuai dari ujung kaki sampai ujung kepala. Model rambut seperti apa, sisir ke kanan atau sisir ke kiri, rambut terurai atau diikat, dan lain sebagainya. Pemilihan karakter, cara bicara, menyapa, bersalaman, menatap, itu pun kita lakukan sebetulnya setiap hari ini, sesaat sebelum melangkah ke luar rumah. 

Dalam keseharian setelah kita nemilih kostum apa yang tepat tersebut, banyak hal yang jauh dari keinginan kita melakukannya. Jauh sekali. Kita pasti pernah melakukan hal yang tidak ingin kita lakukan terpaksa dilakukan. Alasannya, mayoritas dari lingkaran pertemanan atau tempat kerja melakukan itu. Kita tidak ingin menjadi sosok yang tertinggal dari kawanan. Suka tidak suka. Dan kita tidak bisa melakukan sesuatu berlawanan dengan hal tersebut. 

Contoh sederhananya, misal ada seseorang yang jarang sekali bercerita, pemurung di rumahnya. Ketika dia berada di tempat kerja atau di tongkrongan menjadi sosok yang asik dan suka bicara. Nyambung cerita ini, cerita itu. Dia bukan sedang beradaptasi atau bisa beradaptasi dengan lingkungan, melainkan dia sedang melakukan sesuatu yang sifatnya hanya formalitas saja. Dia sedang berperan sesuai apa yang sudah direncanakan.

Ketika segala aktifitas di luar rumah selesai. Pertemuan demi pertemuan sudah berlangsung. Kita akan kembali menjadi diri yang sebenarnya. Terkadang yang membuat kita lelah, bukan suatu tuntutan yang mesti diselesaikan. Tetapi lelah berperan menjadi orang lain. Begah. Makanya sering kali kita mendengar ungkapan Kok dia beda banget kalau di rumah atau dia beda banget ya pas kumpul sama kita.  Seseorang akan terlihat berbeda di suatu tempat yang berbeda pula.

Ini bukan perkara munafik atau tidak. Tapi persoalan seseorang memilih peran yang dimaikan sepanjang hari. Persoalan bagaimana setiap orang menjalankan formalitas-formalitas yang mesti dilakukan. Tidak ada salahnya jika ada omongan dia mah formalitas doang,  karena masing-masing dari diri kita menjalankan keformalitasan tersebut. Untuk menjadi seseorang yang diterima di lingkungan, pilihlah peran atau karakter yang sesuai dengan keperluan, seperti memilih pakaian yang mesti mecing.


Serpihmimpi, 2021.









Comments

Popular posts from this blog

Analisis Buku Teks Bahasa Indonesia Kelas XI Kurikulum 2013

ANALISIS BUKU TEKS BAHASA INDONESIA KELAS XI KURIKULUM 2013 Diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah Telaah Kurikulum dan Buku Teks Dosen pengampu Slamet Triyadi S.Pd.,M.Pd. Disusun oleh: kelompok   (4D/ PBSI) Eni Nadia Pega 1610631080062 Irvan Syahril 1610631080093 Kiki Dwi Yulianti 1610631080100 Novia Windi Hastuti 1610631080142 Siska Krisnawati 1610631080191 Yulan Nurul Istiqomah 1610631080226 PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SINGAPERBANGSA KARAWANG 2018 KATA PENGANTAR Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas terselesaikannya makalah “Analisis Buku Teks Bahasa Indonesia Kelas XI Kurikulum 2013”. Semoga makalah ini menjadi makalah yang bermanfaat bagi orang-orang yang membacanya. Tidak lupa kami juga mengucapkan banyak terima kasih atas bantuan dari pihak yan...

ANTOLOGI PUISI MENCATAT DEMAM BERADA DI JALAN RAMAI

pada batas rasa kehilangan ini, aku biru. PUISI seperti sebuah arsip dari sesuatu yang abstrak ke bentuk yang konkret atau bentuk yang dapat menggugah indera. Sesuatu yang abstrak itu, kemudian dituliskan dengan rangkaian kata yang memiliki estetika bunyi dan bermakna. Penyair adalah seseorang yang menangkap keabstrakan tersebut, dan kemudian membawanya ke tengah pembaca sebagai sebuah tawaran menikmati sesuatu yang sudah ada maupun sesuatu yang baru. Keberangkatan awal penyair mencari sesuatu yang abstrak dimulai dari yang paling dekat dengan dirinya, yaitu diri sendiri. Kita mungkin pernah merasa kalau orang-orang di sekeliling tidak ada yang bisa memahami diri kita yang sedang putus asa, kecewa, dsb. Dari sanalah kita berperan memahami diri kita sendiri. Begitu pun penyair, ia berangkat dari dalam diri, lalu temuan-temuannya itu bisa dikaitkan dengan ikhwal di luar atau di dalam dirinya. Penyair hanya memilih beberapa temuan-temuannya dari sekian banyak temuan. Temuan yang p...

Kita Menua Bersama Puisi

Lampu kota terbangun ketika kita datang suara-suara roda pula klakson teriak di luar sana. Sementara kita menunggu pesanan datang; satu cinta untukmu dan satu rindu untuk dibawa pulang. Di atas meja. Matamu menikam degupku yang kurahasiakan darimu. Sesaat setelah matamu terbenam dalam mataku, mendadak luruh dan beterbangan puisi-puisi yang menyangga pertemuan kita. Malam ini kau adalah sajak yang meniduri pelupuk mataku, menepuk cintaku di ujung pintu. Kau seperti ombak yang meninggi dan segera menghempas dan aku batu karang yang akan menyambut ombak rasa sakitmu. Malam ini. Di atas meja bundar kau berkisah tentang kasih. Lalu, beberapa menit kemudian pesanan datang "Cinta ini, untuk siapa?" katamu ketus. "Untukmu dan rindu yang akan kau bawa pulang." Gumamku. Kau segala definisi dalam puisi yang kucintai, segala  waktu yang memeluk tubuhku  ketika menguraimu jadi kalimat indah. Ah kau. Mengapa lama-lama sekali? Peganglah tanganku dan kita ...