Seseorang pernah bilang di mana pun kita berada, kita akan berperan menjadi orang lain. Diri kita di tempat kerja atau di tongkrongan adalah sosok yang lain. Kita tak pernah menunjukan diri kita yang sebenarnya kepada siapa pun. Peran yang kita mainkan selama kurang dari 24 jam tersebut adalah suatu keharusan. Tidak boleh tidak. Sebab siapa pun tidak bisa memaksakan jati diri yang asli dipaksakan beradaptasi di lingkungan sesuai keperluannya.
Ibarat setiap pagi selesai mandi, kita memilih pakaian mana yang cocok untuk hari ini. Warna apa yang sesuai dari ujung kaki sampai ujung kepala. Model rambut seperti apa, sisir ke kanan atau sisir ke kiri, rambut terurai atau diikat, dan lain sebagainya. Pemilihan karakter, cara bicara, menyapa, bersalaman, menatap, itu pun kita lakukan sebetulnya setiap hari ini, sesaat sebelum melangkah ke luar rumah.
Dalam keseharian setelah kita nemilih kostum apa yang tepat tersebut, banyak hal yang jauh dari keinginan kita melakukannya. Jauh sekali. Kita pasti pernah melakukan hal yang tidak ingin kita lakukan terpaksa dilakukan. Alasannya, mayoritas dari lingkaran pertemanan atau tempat kerja melakukan itu. Kita tidak ingin menjadi sosok yang tertinggal dari kawanan. Suka tidak suka. Dan kita tidak bisa melakukan sesuatu berlawanan dengan hal tersebut.
Contoh sederhananya, misal ada seseorang yang jarang sekali bercerita, pemurung di rumahnya. Ketika dia berada di tempat kerja atau di tongkrongan menjadi sosok yang asik dan suka bicara. Nyambung cerita ini, cerita itu. Dia bukan sedang beradaptasi atau bisa beradaptasi dengan lingkungan, melainkan dia sedang melakukan sesuatu yang sifatnya hanya formalitas saja. Dia sedang berperan sesuai apa yang sudah direncanakan.
Ketika segala aktifitas di luar rumah selesai. Pertemuan demi pertemuan sudah berlangsung. Kita akan kembali menjadi diri yang sebenarnya. Terkadang yang membuat kita lelah, bukan suatu tuntutan yang mesti diselesaikan. Tetapi lelah berperan menjadi orang lain. Begah. Makanya sering kali kita mendengar ungkapan Kok dia beda banget kalau di rumah atau dia beda banget ya pas kumpul sama kita. Seseorang akan terlihat berbeda di suatu tempat yang berbeda pula.
Ini bukan perkara munafik atau tidak. Tapi persoalan seseorang memilih peran yang dimaikan sepanjang hari. Persoalan bagaimana setiap orang menjalankan formalitas-formalitas yang mesti dilakukan. Tidak ada salahnya jika ada omongan dia mah formalitas doang, karena masing-masing dari diri kita menjalankan keformalitasan tersebut. Untuk menjadi seseorang yang diterima di lingkungan, pilihlah peran atau karakter yang sesuai dengan keperluan, seperti memilih pakaian yang mesti mecing.
Serpihmimpi, 2021.
Comments
Post a Comment
Terima kasih atas apresiasinya.