Semenjak notifikasi plagiarisme muncul lagi di berbagai media sosial pada beberapa minggu lalu, timbul pertanyaan “Kenapa seseorang memilih untuk menjiplak ketimbang mikir?”. Saya sempat punya ide bagaimana kalau seseorang yang melakukan plagiat tersebut diberi panggung untuk membicarakan proses ketidakkreatifannya. Layaknya seseorang yang berhasil menjuarai event menulis kreatif atau berhasil tembus di media cetak atau online paling tersohor. Setidaknya kita bisa tahu bagaimana cara membangun rasa percaya diri dengan membawa karya orang lain.
Satu hal yang saya yakini bahwa sang plagiator adalah orang yang “cerdas” dan bisa jadi suka membaca. Hal ini terlihat dari cara plagiator memilih karya yang tidak sembarangan. Artinya, sebelum melakukan penjiplakan ada proses memilih dan membaca, dari proses itu plagiator tahu karya mana saja yang dapat mendongkrak popularitasnya. Misalnya saja Chairil Anwar, penyair yang karyanya kerap kali dipilih untuk diplagiat. Kasusnya plagiarisme atas karya Chairil Anwar pernah terjadi di salah satu media cetak nasional. Dari mana plagiator tahu nama tersebut? jelas dari pengalaman membaca. Entah itu dari kebiasaannya membaca, atau membaca selintas dari media sosial.
Alasan paling dasar seseorang melakukan plagiarisme ialah menginginkan popularitas, rasa ingin diakui keberadaannya, dan tidak pungkiri keinginan punya cuan banyak. Klasik. Tapi memang itu keinginan yang universal—populer, diakui, dan cuan—meskipun menulis bukan pilihan yang sangat dianjurkan untuk mendapat ketiga hal tersebut.
Semakin banyaknya plagiarisme karya sastra atau genre tulisan yang lain, seperti sedang menguatkan perspektif bahwa menjadi penulis atau diakui sebagai penulis lebih keren, daripada pengusaha batu bara, investor, dan pejabat. Mari kita banyangkan di satu tempat tongkrongan tiba-tiba ada yang menyebut kita penulis “Wih, ada penulis” atau “Eh buset, ada Bapak sastrawan kita ini, Bos!”, terlebih lagi kalau ada yang bilang “Hebat ya, Lu, namanya udah ada di Google.”. Nikmat mana lagi yang ingin kaudustakan, iya kan? Selain keren, menjadi penulis dan diakui se-antero pertongkrongan dunia nyata dan maya, seseorang akan lebih terlihat berintelektual dan sedikit romantis.
Sayangnya, terkadang seseorang tidak mempersiapkan langkah-langkah menjadi keren melalui jalur menulis. Dan tidak mempersiapkan diri jika sewaktu-waktu kebelet populer sebagai penulis. Alhasil, tindakan plagiat menjadi jalan pintas dan menjadi keharusan yang dilakukan. Satu sisi plagiarisme merupakan tindakan yang tidak bisa dibiarkan, tapi di sisi lain publik apalagi korban plagiarisme tidak bisa berbuat banyak, sebab hukum di negeri ini sudah terlalu sibuk. Hal yang dapat kita lakukan untuk plagiator tidak lain seperti memberi hukuman sosial, memaksa plagiator klarifikasi, dan mendoakan hal-hal baik.
Padahal menjadi keren dengan menulis tidak mesti menulis hal luar biasa panjang lebar yang mampu menyihir banyak orang. Ada tips sederhana yakni cobalah memanfaatkan media sosial seperti Insagram, Facebook, dan lainnya, untuk menggunggah satu sampai dua kalimat pendek berupa kata-kata bijak ala-ala anak senja. Lakukan itu serutin mungkin. Jika itu tidak berhasil, segeralah cari jalan lain untuk menjadi keren dan banyak cuan.
Serpihmimpi, 2021.
Comments
Post a Comment
Terima kasih atas apresiasinya.