Skip to main content

Bambu Setengah Runcing

 

Bambu Setengah Runcing
 (Ekranisasi Puisi “Karawang Bekasi” karya Chairil Anwar)


SETING PANGGUNG SEPI, LENGANG DAN HANYA ADA SATU AKTOR YANG SEDANG BERPANTOMIM MENGHORMAT KEPADA SANG SAKA MERAH PUTIH SEPERTI KHUSYUK MENYANYIKAN LAGU GUGUR BUNGA. LALU TIBA-TIBA ADA SESEORANG YANG MENEMBAK KE ARAHNYA-LAMPU PADAM DAN KEMBALI HENING.

Ajudan
Di luar sana banyak sedang mencarimu, Pak.  Apakah kau tidak ingin segera bersembunyi dan menyelamatkan seluruh anggota keluargamu?

Pahlawan
Kita merdeka itu butuh keberanian. Saya tidak akan lari, rakyatku lebih berharga dari isi dadaku, Ajudan. Walaupu saya sendiri belum yakin jika setelah kita merdeka nanti, anak-cucu kita mengenali harum darah para pahlawannya. Apalagi sampai hapal nama-nama yang tak pernah tersebut dalam sejarah. Kau sendiri mengapa tetap menemi aku, Ajudan?

Ajudan
Saya hanya ingi melihat kemerdekaan dengan mataku, Pak. Walaupun saya juga takut nama saya tidak tercantum dalam buku sejarah. Kedengarannya seperti sia-sia. Tapi tidak ada yang bisa aku impikan selain kemerdekaan untuk bangsaku sendiri.

Pahlawan
Hanya itu mimpimu?

Ajudan
Itu sudah cukup, Pak.

Pahlawan
Bagaimana dengan Anak dan Istrimu?

Ajudan
Mereka juga hanya ingin kita merdeka.


Pahlawan
Walau namamu tidak dikenang?

Ajudan
Tidak apa-apa, Pak. Saya siap perang.

Pahlawan
Merdeka butuh orang-orang yang keras kepala dan kita sudah memiliki itu. Kita akan menyerang, Ajudan.

Ajudan
Siap, Pak!

AKTOR YANG TELAH DITEMBAK OLEH SESEORANG KEMBALI BERDIRI TERHUYUNG-HUYUNG LALU MENGHORMAT KEMBALI KE SANG SAKA MERAH PUTIH SEPERTI KHUSYUK MENYANYIKAN LAGU GUGUR BUNGA. NAMUN, SEKARANG IA TIDAK SENDIRIAN IA DITEMANI OLEH BEBERAPA AKTOR LAINNYA, DAN BERSAMA-SAMA MENYANYI. LALU MEREKA SEMUA DITEMBAK KEMBALI.

Warga 1
Telah gugur pahlawanku... tunai sudah janji bakti...
(ditembak sebelum mencapai sang saka merahputih)

Warga 2
Gugur satu tumbuh seribu... tanah  air jaya...
(ditembak sebelum mencapai sang saka merahputih)

Kompeni
Hahahaha, payah! Kalau mati ya mati saja. Mana mungkin mati satu tumbuh seribu, paling juga mati satu takut seribu, hahahaha ... busuk juga darah pribumi, hueek, lain kali saya pakai masker saja.

Komandan Kompeni
Pasukan?! Mana pahlawan? Sudah kau bunuh?!

Kompeni
Belum, Sir. Warga tidak mau memberi tahu di mana pahlawan bermukim.

Komandan Kompeni
Kalau begitu seret semua penduduk, bawa mereka ke sini. Hidup atau mati!

Kompeni
Siap, Sir
 DI ATAS PANGGUNG KEADAAN GADUH, PENDUDUK DISERET ANAK-ANAK, ORANGTUA, REMAJA, BAYI SEMUA DISERET SAMPAI TITIK KUMPUL. MENANGIS-HISTERIS, TAKUT, GEMETAR JADI SATU. LALU ADA BEBERAPA WARGA YANG DITEMBAK KARENA BERUSAHA MELARIKAN DIRI, KEADAAN TERSEBUT MENJADI SEMAKIN MENCEKAM.

Komandan Kompeni
Serahan pahlawan kalian, Cepat!!!

Akal Baik
Mau apa kau dengan pahlawan kami ?! Mau mati? Hahahaha...
(Akal Baik langsung ditembak mati oleh para kompeni)

Komandan Kompeni
Pasukan bunuh semua para laki-laki yang ada di sini! Kubur mereka di satu lubang.

PARA KOMPENI MEMBABI-BUTA MEMBUNUH PARA LAKI-LAKI, YANG TERSISA HANYALAH PARA JANDA DAN ANAK PEREMPUAN YANG KEHILANGAN AYAHNYA. AJUDAN TAK KUASA MELIHAT PEMANDANGAN ITU DARI SEMAK-SEMAK. IA MARAH, KESAL DAN INGIN SEGERA MEMBUNUH PARA KOMPENI.

Pahlawan
Rakyat semakin habis, saya tak lagi mempunyai apa-apa. Selain istri, anak dan satu ajudan. Saya tak mungkin menyerahkan bangsa ini ke tangan mereka. Bendera ini adalah selimut tubuh ketika saya merasa kedingan diterpa badai penjajahan. Harus seperti apa ini? Ke mana aku harus mencari bantuan. Saya tak mau dikenal sebagai pahlawan yang gagal memerdekakan bangsa.

Istri Pahlawan
Suamiku, aku mau ikut berperang melawan kompeni itu.

Pahlawan
Jangan! Kau adalah istri kesayanganku. Cukup masalah bangsa ini hanya ada di kepalaku.

Istri Pahlawan
Tidak suamiku, masalah bangsa ini adalah masalah kita semua.

Anak Pahlawan
Benar, Yah. Aku juga akan ikut berperang. Aku dan Ibu sudah merencanakan sesuatu.

Pahlawan
Baiklah, akan aku turuti mau kalian. Kita berperang. Tapi, kalian jangan sampai mati sia-sia.

KEESOKAN HARINYA ISTRI PAHLAWAN MENYAMAR MENJADI PRIBUMI, IA DISATUKAN DENGAN PARA JANDA. DIPERLAKUKAN KASAR, SEPATU MELAYANG DAN LEBAB DI DUA PIPI. MALAM INI, GILIRAN ISTRI PAHLAWAN MEMUASKAN HASRAT PARA KOMPENI-TANPA MENOLAK IA MAU.

Kompeni 2
Kemarilah nyai, aku ingin tenggelam bersama tubuh mulusmu dan dada besarmu itu! Ah, ternyata kau seperti masih gadis saja nyai, bola matamu membuat gairahku naik nyai.

Istri Pahlawan
Silakan saja kalau kau mampu memperkosa aku, Pak.

Kompeni 2
Aku suka dengan wanita yang menantang sepertimu, Nyai. Sepertinya adegan ranjang kita akan sangat panas. Siap-siaplah...

NYANYI MELAWAN KOMPENI, MEREKA BERTARUNG. NYAI BERHASIL MENINJU KEMALUAN KOMPENI 2 DAN MELANCARKAN SERANGAN-SERANGAN BERIKUTYA. SATU KOMPENI MATI. NYAI KELUAR SEOLAH TAK TERJADI APA-APA. DI LUAR ANAK PAHLAWAN, AJUDAN DAN PAHLAWAN SUDAH JUGA MELAKUKAN PENYERGAPAN. TINGGAL SISA KOMPENI YANG ADA DI DALAM RUMAH YANG SEDANG MEMPERKOSA PARA JANDA. DENGAN SIGAP MEREKA MEMBUNUH SEMUANYA.

Komandan Kompeni
Ada apa kau Nyai? Malam-malam begini kau masuk ke kamarku tanpa permisi. Mari kita bermain-main sebentar.

KOMANDAN KOMPENI MELUCUTI BAJU ISTRI PAHLAWAN, DAN MEMPERKOSANYA. NAMUN, ISTRI PAHLAWAN LENGAH DAN IA DI BUNUH. PAHLAWAN MARAH DAN LANGSUNG MENDOBRAK PINTU BERSAMA AJUDANNYA.

Pahlawan
Sialan!!!!!!

PAHLAWAN DAN AJUDAN DITEMBAK. TAPI DENGAN SEKUAT TENAGA MEREKA BERDUA MELAWAN KOMANDAN KOMPENI. DUA PELURU BERSARANG DI DADA PAHLAWAN DAN AJUDAN. DAN TIBA-TIBA ANAK PAHLAWAN MELOMPAT MASUK DARI JENDELA. MENIKAM DAN MENUSUK KOMANDAN KOMPENI.

Anak Pahlawan
Ayah, Paman. Kalian bertahan, aku akan mencari bantuan.
Pahlawan
Cukup, Nak, Kerja kita selesai. Bangsa kita merdeka sekarang. Kibarkan setinggi-tingginya.

Anak Pahlawan
Ayaaaaaaaah!

ANAK PAHLAWAN MENENUNG DI TENGAH PANGGUNG, DENGAN MEMEGANG BENDERA SANG SAKA MERAH PUTIH. IA MENANGIS. SERAYA KHUSYUK MENYANYIKAN LAGU GUGUR BUNGA. HENING, LENGANG DAN TANPA AKSEN PANGGUNG.

Anak Pahlawan
Ayahku sudah meninggal, dan kalian hanya bisa menonton kematian para pahlawan. Kalian hanya bisa mengrikitik kami yang lambat memerdekakan bangsa ini. Dan sekarang kalian pasti sedang bertanya, kenapa aku ini? Aaah! Biadab. Kalian hanya biasa menganyun-ayunkan kaki saja, dan kami terlupakan. Hahahahaha. Bodoh! Aku sudah tak punya lagi siapa-siapa, cinta pun aku tak punya. Semuanya sudah menjadi mayat! Mayat! Mayat! Dan tak berguna sama sekali.

SETING PANGGUNG SEPI, ANAK PAHLAWAN MENGIBARKAN SANG SAKA MERAH PUTIH. SERAYA KHUSYUK MENYANYIKAN LAGU GUGUR BUNGA. HENING, LENGANG DAN TANPA AKSEN PANGGUNG. LALU TIBA-TIBA ADA YANG MENEMBAKNYA. SEMUA MAYAT.

TAMAT












Comments

Popular posts from this blog

Analisis Buku Teks Bahasa Indonesia Kelas XI Kurikulum 2013

ANALISIS BUKU TEKS BAHASA INDONESIA KELAS XI KURIKULUM 2013 Diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah Telaah Kurikulum dan Buku Teks Dosen pengampu Slamet Triyadi S.Pd.,M.Pd. Disusun oleh: kelompok   (4D/ PBSI) Eni Nadia Pega 1610631080062 Irvan Syahril 1610631080093 Kiki Dwi Yulianti 1610631080100 Novia Windi Hastuti 1610631080142 Siska Krisnawati 1610631080191 Yulan Nurul Istiqomah 1610631080226 PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SINGAPERBANGSA KARAWANG 2018 KATA PENGANTAR Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas terselesaikannya makalah “Analisis Buku Teks Bahasa Indonesia Kelas XI Kurikulum 2013”. Semoga makalah ini menjadi makalah yang bermanfaat bagi orang-orang yang membacanya. Tidak lupa kami juga mengucapkan banyak terima kasih atas bantuan dari pihak yan...

ANTOLOGI PUISI MENCATAT DEMAM BERADA DI JALAN RAMAI

pada batas rasa kehilangan ini, aku biru. PUISI seperti sebuah arsip dari sesuatu yang abstrak ke bentuk yang konkret atau bentuk yang dapat menggugah indera. Sesuatu yang abstrak itu, kemudian dituliskan dengan rangkaian kata yang memiliki estetika bunyi dan bermakna. Penyair adalah seseorang yang menangkap keabstrakan tersebut, dan kemudian membawanya ke tengah pembaca sebagai sebuah tawaran menikmati sesuatu yang sudah ada maupun sesuatu yang baru. Keberangkatan awal penyair mencari sesuatu yang abstrak dimulai dari yang paling dekat dengan dirinya, yaitu diri sendiri. Kita mungkin pernah merasa kalau orang-orang di sekeliling tidak ada yang bisa memahami diri kita yang sedang putus asa, kecewa, dsb. Dari sanalah kita berperan memahami diri kita sendiri. Begitu pun penyair, ia berangkat dari dalam diri, lalu temuan-temuannya itu bisa dikaitkan dengan ikhwal di luar atau di dalam dirinya. Penyair hanya memilih beberapa temuan-temuannya dari sekian banyak temuan. Temuan yang p...

Kita Menua Bersama Puisi

Lampu kota terbangun ketika kita datang suara-suara roda pula klakson teriak di luar sana. Sementara kita menunggu pesanan datang; satu cinta untukmu dan satu rindu untuk dibawa pulang. Di atas meja. Matamu menikam degupku yang kurahasiakan darimu. Sesaat setelah matamu terbenam dalam mataku, mendadak luruh dan beterbangan puisi-puisi yang menyangga pertemuan kita. Malam ini kau adalah sajak yang meniduri pelupuk mataku, menepuk cintaku di ujung pintu. Kau seperti ombak yang meninggi dan segera menghempas dan aku batu karang yang akan menyambut ombak rasa sakitmu. Malam ini. Di atas meja bundar kau berkisah tentang kasih. Lalu, beberapa menit kemudian pesanan datang "Cinta ini, untuk siapa?" katamu ketus. "Untukmu dan rindu yang akan kau bawa pulang." Gumamku. Kau segala definisi dalam puisi yang kucintai, segala  waktu yang memeluk tubuhku  ketika menguraimu jadi kalimat indah. Ah kau. Mengapa lama-lama sekali? Peganglah tanganku dan kita ...