Sepertiga Malam
merupakan sebuah pentas monolog babak
atau monolog yang berfragmen-fragmen yang diaktori oleh Hendri Pramono, dan
ditulis oleh Salim Putra Ladianu. Pentas tersebut secara garis besar mengangkat
isu perbedaan agama. Dalam masyarakat agama merupakan hal yang sangat vital,
dan sangat mempengaruhi kehidupan berumahtangga. Manusia akan mencari pasangan
yang satu keyakinan, ini merupakan realita yang terjadi di kalangan muda maupun
tua. Seolah-olah manusia tidak bisa hidup berdampingan dengan agama lain atau
manusia hanya ingin hidup dalam hal yang sama. Begitu pun dalam keluarga, anak
akan mengikuti agama yang diyakini oleh kedua orangtuanya, hingga munculnya
istilah “Agamaku, agama orangtuaku”. Sejatinya anak ketika berumur 17 Tahun,
memilih agamanya sendiri tanpa adanya diskriminasi ataupun hukum masyarakat.
Dari isu perbedaan
agama itulah naskah “Sepertiga Malam” ditulis sebagai konteks sudut pandang penulis naskah terhadap masyarakat.
Pertunjukan dimulai dengan siluet tari topeng Kelana kemudian muncul dari balik
layar. Tari topeng Kelana menjadi petanda tokoh yang akan diperankan,
penandanya ialah jiwa seorang pemuda yang sangat menggebu-gebu, selalu berontak, tanpa pikir panjang, dan
jiwa yang ingin bersenang-senang. Pengiramaan
tari topeng Kelana pun demikian, kadang sangat menggebu, kadang mendayu-dayu,
kadang pula hilang ini pun membawa memberi tanda bahwa hidup hanyalah prihal
bagaimana manusia menikmati kehidupannya.
Kamudian setelah itu
fragmen adegan pertama, si aktor berperan sebagai anak yang telah dilahirkan
dari keluarga yang berbeda agama. Posisi tokoh yang berada di pojok kiri dan
lampu merah redup, penggambaran suasana yang sedang terhimpit dan tertekan.
Tokoh bercerita penderita-penderitannya soal berbedaan agama kedua orangtuanya yang telah meninggal
dan umpatan-umpatan terhadap Tuhan yang tidak lagi menurunkan rahmat di waktu
sepertiga malam, yang biasanya waktu itu adalah waktu paling baik untuk berdoa
serta cahaya-cahaya kebenaran dijatuhkan secara percuma-cuma.
Baginya sepertiga malam
yang sering diceritakan oleh ibunya hanyalah siksa, sebab hanya mendengar suara
cicak dan jarum jam yang seperti menghukumnya dengan ingatan-ingatan
pertengkaran, dusta dan kekerasan yang ia lihat, tersebab agama yang tidak
pernah akur.
Fragmen kedua, si aktor
berganti peran menjadi seorang nenek
tua. Dalam fragmen ini bercerita tentang kekhawatiran orang tua yang akan
ditinggal oleh anak-anaknya. Pula kekhawatiran ibu terhadap anaknya yang akan
memilih agama setelah genap 17 tahun, pada masa mengandung anaknya itu si ibu
selalu mendapat gujingan dari orang lain bahwa anaknya adalah anak haram dan
patut dibakar.
Sebagaimana yang
dicerita tersebut sosok ibu adalah makhluk hidup yang akan menerima anaknya
bagaimanapun keadaanya. Ibu selalu menguarkan doa-doanya ketika anak-anaknya
tidur pulas di sepertiga malam. Dan, ibu akan selalu kehilangan anak-anaknya.
fragmen ke tiga, aktor
berganti menjadi seorang ibu hamil. Fragmen ini bercerita saat si tokoh dalam
fragmen pertama masih dalam kandungan da saat di mana ayah dari anak itu pergi.
Kasih sayang, perjuangan, dan kecintaan seorang ibu digambarkan.
Fragmen ke empat, si
aktor berganti menjadi seorang ayah. Adegan hanya terlihat siluet, ada dua
tokoh dalam siluet tersebut ayah dan ibu dari seorang anak atau peran tokoh
pada fragmen pertama. Di fragmen inilah puncak percekcokan mengenai agama yang
berbeda antara tokoh ayah dan ibu.
Pada fragmen ini pula
merupakan fragmen di mana sang anak tidak boleh dipaksa, dirayu dengan
dongeng-dongeng tentang agama agar si anak memeluk salah satu agama dari
orangtuanya. Kedua orangtua tidak boleh pula mengikat anaknya dengan apapun
biarkan anak yang memilih. Kemudian di sini pun terjadi peristiwa perpisahan ke
duanya.
Fragmen ke lima atau fragmen terakhir, si
aktor berubah menjadi tokoh si ayah ketika masih muda. Pertemuan si bakal ayah
dan ibu saat masih muda. Mereka bercita tanpa memandang agama yang saling
mereka anut. Segalanya bahagia, cinta, pandangan pertama dan lain hal
sebagainya, mereka berdua hiraukan sampai mereka berdua memutuskan menikah.
Dalam pementasannya,
setiap perubahan fragmen ke fragmen lain tidak langsung berjalan. Melainkan,
aktor selalu menjadi tokoh yang di luar teks untuk berinteraksi dengan penonton
setiap berlanjut ke fragmen berikutnya. Penonton
sering terkecoh dengan tokoh tambahan yang hadir di atas panggung, yang
berfungsi untuk mengakhiri perfragmen dengan lelucon.
“Si aktor menjadi tokoh
aktor” mungkin begitu kiranya. Sebab, walaupun terlihat si aktor tidak menjadi
apa-apa dalam perubahan fragmen, tapi si aktor selalu memposisikan dirinya
menjadi tokoh aktor yang mengkritisi pertunjukan yang sedag ditunjukan dan
keadaan sosial yang terjadi. Jeda fragmen pertama dengan ke dua , tokoh aktor
membahas isu soal sepertiga malam yang tidak lagi digunakan untuk bertaubat,
berdoa, dan memohon petunjuk. Melainkan digunakan untuk hal-hal yang tidak
perlu atau tidak penting. Sepertiga
malam, malam di mana segala kebaikan bintang-bintang dan bulan menjatuhkan
cahayanya secara cuma-cuma.
Jeda fragmen ke dua
dengan ke tiga berikutnya, ia mengkritisi si penulis naskah yang menulis naskah
yang sangat melankolis, dan ia menganggap bahwa semua penulis adalah orang gila
yang menghalalkan segalanya di atas panggung, tidak terkecuali yang melanggar
norma-norma agama dan masyarakat. ... “Apa bedanya panggung sama kamar hotel,
apa bedanya panggung sama jalanan, apa bedanya panggung sama tempat
kriminal?”.... semua aktor itu sudah menjadi gila sebab telah banyak menjadi orang
lain. Ia mengkritisi kalau aktor adalah mereka-mereka yang telah lupa dengan
diri sendiri akibat berperan sebagai orang lain.
Jeda fragmen ke tiga dengan ke empat, tokoh aktor mengutarakan
kemuakannya tentang naskah-naskah yang ditujukan kepada para aktor tanpa
berpikir panjang. Baginya aktor tidak hanya menerima naskah dan berperan tidak
semudah mengehembuskan nafas. Terkadang para penulis-penulis sudah frustasi dan
aktor merupakan objek sasaran kefrustasiansi penulis. Aktor pula mestinya
berdiri di atas panggung dengan tangan kaki yang utuh pula otak yang utuh bukan
menjadi kubangan muntahan kata-kata penulis. Dari sini, masalah yang ada ialah
aktor tidak bisa menjadi dirinya sendiri, tidak bisa menjadi utuh, dan hanya
bergerak sebatas naskah yang diberikannya.
Aktor hanyalah korban dari pelaku penulis yang seenak menulis naskahnya.
Jeda fragmen ke empat
dengan ke lima, tokoh aktor manarik satu penonton perempuan untuk menjadi lawan
mainnya. Tapi tetap tak tertinggal, ia tetap mengkritisi jalnnya pertunjukan
yang ia tunjukan, yang dianggapnya sebagai pembodohan terhadap penonton dan
aktor menjadi sangat gila. Namun, di jeda fragmen ini aktor berusaha meyakini
penonton bahwa yang akan terjadi di fragmen terkahir adalah hal yang benar
terjadi dan ada. Bahwa ada jeda di mana aktor bisa menjadi diri seutuhnya.
Pentas monolog
“Sepertiga Malam” menggunakan latar yang tetap artinya setiap perubahan fragmen
tidak ada pendekorasian ulang latar. Di tengah panggung hanya ada layar putih
dan beberapa properti di belakangnya. Pemanfaatan layar putih di beberapa
fragmen seperti pembuka dan fragmen
empat, menjadi pentas siluet merupakan peminimalisir latar yang banyak. Kemudian di pojok kanan hanya ada meja dengan
satu lilin dan di pojok kiri hanya ada lemari besar.
Seting latar yang
sangat sederhana tersebut memiliki kekurangan dan kelebihan. Kekurangannya ialah seting sederhana untuk
penonton yang tingkat sekolah menengah menjadi tidak menarik, sebab tingkat
sekolah menengah merupakan masa seorang anak menyukai hal-hal yang ramai dan
bervariasi.
Kelebihannya, segala
konsep latar yang banyak dapat disiasati tanpa adanya lalu-lalang
yang bertugas mengganti latar seperti pada fragmen terakhir yaitu latar
taman dan kafe, dapat diganti dengan adegan perusakan tokoh-tokoh tambahan,
latar ke tiga penvisualisasikan keadaan sang tokoh yang masih dalam kandungan
berhasil ditampilkann hanya dengan kain putih di tengah panggung . Hal ini
dapat membuat penonton menikmati pertunjukan tanpa harus terpotong
konsentrasinya.
Terlepas dari latar,
yang saya pahami pementasan tersebut
merupakan pementasan monolog yang beralur mundur. Jika kita melihat sususan
fragmennya mungkin akan terlihat rumit dan tidak mudah menangkap maksud,
tujua,dan isu yang diangkat dalam pementasan “Sepertiga Malam”. Namun, jika
kita ubah susuna fragmen 1-2-3-4-5 menjadi 5-4-3-2-1, maka ini akan menjadi
alur maju dan akan terlihat jelas maksud, tujuan,dan isu yang diangkat. Secara
ringkas menjadi seperti ini.
Seorang
dua seorang anak remaja yang sedang mencari jati diri dan menikmati jatuh cinta
kepada orang lain tanpa berpikir apa-apa.
Masa pacaran mereka begitu sangat bahagia, segalanya sempurna. Makan,
jalan-jalan, bermesraan dan lain sebagainya berlalu-hari.
Pada
akhirnya, mereka memutuskan untuk menjadi sepasang suami istri. Pernikahan
baik-baik saja sampai sang istri mengandung. Perbedaan agama dari keduanya
adalah sebab utama mereka bertengkar.sang suami ingin anaknya nanti memilih
bebas agamanya sedang istri ingin anaknya memilih agamanya. Hingga pada suatu
malam mereka bertengkar hebat soal agama yang tak pernah selesai, idealisme,
keyakinan dan agama mereka berdua tidak bis bersatu.Mereka pun berpisah sebab
hal itu.
Sang
ibu yang mengandung mengalami digunjing dan diumpat oleh masyarakat sekitar.
Bahwa anak yang dikandungnya ialah anak haram dan anak yang patut dibakar.
Penderitaan ibu semakin berat kian hari. Dan di setiap sepertiga malam, sang
ibu selalu berpasrahkepada Yang Maha Kuasa. Sepertiga malamnya ia gunakan
sebaik-baiknya karena Cuma Yang Maha Kuasa yang hanya mampu membantunya.
Anaknya
beranjak dewasa dan sang ibu semakin tua. ketika umur anaknya hampigenap 17
Tahun sang ibu khawatir akan terulangannya kembali kejadian dirinya dengan
suaminya yang berbeda agama pula ia takut anaknya tidak bisa memilih agamanya. Sang
ibu memberikan harapan, doa, dan umpatanya ketika sang anak terlelap tertidur
di sepertiga malam yang mulai.
Saat
ibunya meninggal, sang anaklah yang menanggung hidup yang terasingkan dari
masyarakat. Sang anak depresi tidak memiliki siapapun juga agama yang ia
yakinin. Umpata-umpatan masyarakat terus menekannya. Ia merasa sepertiga
malamnya hanya menambah hukuman baginya lagi, tidak seperti ketika sang ibu
masih ada. Tuhan yang dierikan ibu tidak lagi hadir dalam di sepertiga malamku.
Untuk memahami pentas
teater monolog berfragmen, si aktor bisa menjelma siapa saja di setiap fragmen.
Meniktikberatkan pada kekritisan penonton, daya tankap dan pengalaman penonton.
Secara inplinsit tema yang diangakat ialah Ketuhanan dan isu yang dingkat ialah
perbedaan agama. Secara tersirat pentas monolog “Sepertiga Malam” memberikan
pesan bahwa bagi mereka yang menganut agama yang berkeyakinan spertiga malam
adalah waktu yang paling sempurna dan mulia digunakan sebaik-baiknya bukan malah
mengabaikannya dengan hal-hal yang tidak perlu.
Pada zaman sekarang ini
agama seperti persoalan yang mudah dilupakan dan diabaikan oleh penganutnya.
Padahal jika agama ia rusak dan singgung barulah marah tapi jika tidak ada
masalah apa-apa penganut hanya diam dan melupakan. Perbedaan agama tidak dapat
membuat sesuatu yang harmonis jika tidak saling memahami dan mengerti,
perbedaan idealisme tidak akan menyatukan jika tingkat egoisentris tinggi dan
tidak dapat direda.
Realita ataupun bukan,
di atas panggung semuanya bisa direka dan seolah-olah nyata. Namun, adanya
karya ataupun pemantasan pasti selalu ada konteks yang mempengaruhinya menjadi
ada dan seperti nyata. Di panggung ataupun bukan masalah sosial atau isu-isu dalam
masyarakat harus dimunculkan agar adanya
kesadaran pembaca ataupun penikmat pertunjukan.
Tujuan pementasan “Sepertiga Malam” tak lain
yaitu untuk menyadarkan kaum melankolis yang terpaku waktu dunia. Tujuan
tersebut sampai ataupun tidak kepada penikmat pertunjukan tergantung pada cara
pandang juga kepekaannya juga sang aktor yang sebagai pembawa pesan. Pementeasan
monolog “Sepertiga Malam” merupakan salah satu upaya untuk menyadarkan kita.

Terimakasih atas ulasan nya
ReplyDeleteTerimakasih atas ulasan nya
ReplyDelete