Menulis merupakan salah satu kegiatan yang mesti dilakukan sesempat mungkin, tidak terima alasan apa pun yang menghambat. Ungkapan tersebut menurutku hanya berlaku bagi ‘orang-orang terpilih' yang separuh napas hidupnya untuk menulis. Terlalu naif jika orang biasa sepertiku melakukannya. Menulis membutuhkan tenaga dan pikiran yang prima. Waktu dan ide. Kesiapan mewujudkan sesuatu abstrak menjadi sesuatu yang konkrit juga perlu menjadi perhatian.
Saat masih sebagai mahasiswa, waktu luang yang aku miliki cukup banyak. Peluangku untuk menulis lima puisi sehari masih memungkinkan. Sebab itu event antologi puisi bersama jarang terlewat. Aku selalu berusaha puisi-puisiku ikut bersaing dengan puisi lainnya. Tetapi lain hal dengan kondisi saat ini, memiliki kesempatan menulis seperti mendadak mendapat anugerah yang amat menyenangkan. Dan seperti menuntaskan lelah yang tertinggal.
Tidak hanya menulis puisi, misalnya menulis story wa atau lainnya, menurutku tanpa sadar ataupun disadari seseorang akan merasa lega. Entah tujuannya untuk mempengaruhi orang lain atau mempengaruhi diri sendiri. Menulis memiliki khasiat tersebut. Rasanya ketika kita menahan untuk tidak menuliskan suatu hal yang terpikir, seakan ada yang mengganjal, dan seringkali kita tidak tahan untuk tidak menulisnya. Demikian juga dengan cara aku menulis puisi.
Sebelum aku tahu apa yang akan ditulis, biasanya aku akan menghabiskan waktu berjam-jam untuk melihat postingan teman-teman di Instagram, Wa, dan Facebook. Cara ini cukup ampuh untuk menemukan ide dan gairah menulis. Terkadang seseorang membagi hal yang tidak pernah terpikirkan oleh kita, yang sebenarnya kita juga memiliki hal yang sama. Lebih sering lagi, aku tersadar memiliki kosa kata yang belum pernah digunakan dalam menulis. Padahal kata tersebut kerap diucap setiap hari.
Selain itu, postingan berupa gambar membantu menemukan apa yang harus aku tulis. Menulis dari gambar lebih mengasyikkan ketimbang mencari kata untuk menjadi puisi. Aku bisa bermain-main dengan pesan atau makna yang disampaikan dalam gambar tersebut. Kemudian barulah kata-kata bertugas untuk menyusunnya sedemikian rupa. Tetapi tidak semua postingan di media sosial bisa menggerakkan atau memberi ide, hanya sebagian saja. Namun itu sudah sangat lumayan bagiku yang kurang jalan-jalan.
Serangkaian kalimat awal atau larik awal pada puisiku biasanya diperoleh dari gambar atau aku lihat di media sosial. Kadangkala kata-kata muncu begitu saja, kadang pula kata-kata sulit ditemukan juga. Bagiku ide mesti dicari dengan cara apa pun, sebab aku tidak bisa menunggu ide datang sendiri, dan tampaknya juga mustahil sekali. Sampai tulisan ini dibuat, aku sudah menyimpan beberapa gambar dari media sosial. Entah akan menjadi puisi atau simpanan semata. Saat ide muncul, disaat itu pula aku harus menulis.
Serpihmimpi, 2021.
Comments
Post a Comment
Terima kasih atas apresiasinya.