Skip to main content

ANTARA SKRIPSI DAN PUISI

 


Menulis merupakan kegiatan yang menguras pikiran dan bikin cepat lapar. Seringkali ketika daya kreatif belum habis, perut sudah keroncongan. Terkadang sebaliknya, perut masih kenyang, tapi daya kreatif lebih dahulu terkuras. Menciptakan momen keduanya berjalan seiringan ialah hal yang cukup sulit dan langka. Alhasil tulisan hanya berakhir pada paragraf pertama, atau bahkan berakhir dalam angan-angan semata.

Pada saat penyusunan skripsi semester delapan lalu, menulis seperti kegiatan yang tidak boleh putus. Pagi hari sampai malam, terbangun hingga begadang. Mengapa demikian? Karena satu hari atau lebih tidak menulis kita akan kehilangan jalur dan momentum. Segalanya terasa berat bahkan untuk memulai kalimat pertama. Menjaga jalur dan momentum, berarti menjaga pula daya kreatif dan kondisi perut yang stabil. Saya rasa itulah salah satu kunci sederhana menjadi mahasiswa semester akhir.

Masa penyusunan skripsi memaksa saya untuk mengurangi intensitas menulis puisi. Sebab hampir setiap hari saya mesti mencari teori-teori untuk memperdalam hasil penelitian. Membaca jurnal ilmah dari satu repository ke repository yang lain, hingga membeli buku-buku penunjang—yang terkadang saya tidak tahu untuk apa. Membaca puisi menjadi kegiatan selingan kala buntu dan bosan merevisi itu melulu, bahkan sering tidak membaca puisi atau genre sastra lainnya. Masa tersebut merupakan masa suka tidak suka mengejar setoran gelar sarjana. Tidak ada pilihan selain menjauhi puisi untuk sementara waktu. Meneliti dengan menulis kreatif merupakan kegiatan yang berlawan arah.

Kurangnya intensitas membaca buku-buku puisi, perlahan mengikis keluasan menulis puisi. Selama beberapa bulan—hampir 1 tahun—saya hanya menulis beberapa puisi, itu pun saya lakukan untuk mengejar event antologi puisi bersama. Puisi mendadak menjelma kawan lama yang baru bertemu kembali, canggung dan bingung ingin membicarakan apa. Saya dengan puisi merasa tidak ada ikatan, kami tidak lagi saling mengenal. Menulis satu puisi membutuhkan waktu yang lama dan menghabiskan banyak uang untuk mengisi perut. Terlebih lagi, saya lebih banyak gagal menuliskan sebuah puisi.

Kehabisan kata, kurangnya pembendaharaan kata, dan tidak tahu ingin mengucapkan apa, serta tidak tahu bagaimana mengucapkannya merupakan buntut panjang intensitas kurang membaca puisi. Akhirnya pada masa kritis kreativitas menulis puisi tersebut, saya memilih tidak menulis puisi selepas semua event selesai, dan fokus menyusun piramid skripsi. Alasannya sungguh klasik yaitu saya harus lulus tepat waktu!

Delapan bulan kemudian saya berhasil menyelesaikan skripsi setebal satu rim. Melewati 1 jam lebih sidang skripsi. Dan hasil sidang yang memuaskan. Lega. Masa babak belur revisi selesai, bisa tidur sepanjang waktu. Namun, selesainya skripsi seperti selesai pula kreativitas saya berpuisi. Pasalnya, selepas menyelesaikan skripsi saya belum berhasil menuliskan satu puisi pun. Beberapa bulan ke belakang, hingga tulisan ini dibuat saya masih sedang meraba-raba menulis puisi kembali, meskipun masih gagal dan hanya berakhir pada dua tiga kata.

Saya sadar, antara saya dan puisi sudah terlampau jauh. Sempat terpikir bahwa masa saya menulis puisi sudah selesai. Tutup buku. Saya seperti sedang mendaki puncak yang tidak akan pernah saya capai. Masalah terbesarnya bukan terletak pada kesulitan mencari kata atau memulai menuliskan kata, tetapi terletak pada buku-buku puisi yang saya baca belum mampu menggerakkan untuk menulis puisi.

Buku-buku lama seperti Kematian Kecil Kartosoerwirjo karya Triyanto Triwikromo, Fragmen Sajak-sajak Baru karya Goenawan Mohamad, Keterampilan Membaca Laut karya Ama Achmad, atau bahkan buku-buku karya Sapardi Djoko Damono, pun belum menggerakkan saya menulis. Padahal dari sejumlah buku tersebutlah sebelumya sumber kekuatan menulis puisi. Saya hanya bisa berasumsi bahwa buku tersebut sudah berbeda masanya, saya mesti mencari yang lain. Ibaratkan tebu yang sudah diambil sari-sari manisnya.

Sampai di titik ini bagi saya buku puisi terbaik bukan buku yang memenangkan atau meraih penghargaan, tetapi buku yang mampu menggerakan batin seseorang menulis. Dan hingga tulisan ini berakhir, saya masih memiliki keyakinan akan bertemu jalan menulis puisi. Selagi saya tetap menulis apapun selain puisi seperti tulisan ini. Siapa tahu setelah membereskan tulisan ini, saya kembali bersama puisi.

Masa semester 8 adalah masa yang terasa lebih dekat berjalan ke garis menyerah, ketimbang garis finish. Masa itu sudah lewat, saya harus segera mencari jalan berpuisi.

 

Serpihmimpi, 2021.


 


Comments

Popular posts from this blog

Analisis Buku Teks Bahasa Indonesia Kelas XI Kurikulum 2013

ANALISIS BUKU TEKS BAHASA INDONESIA KELAS XI KURIKULUM 2013 Diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah Telaah Kurikulum dan Buku Teks Dosen pengampu Slamet Triyadi S.Pd.,M.Pd. Disusun oleh: kelompok   (4D/ PBSI) Eni Nadia Pega 1610631080062 Irvan Syahril 1610631080093 Kiki Dwi Yulianti 1610631080100 Novia Windi Hastuti 1610631080142 Siska Krisnawati 1610631080191 Yulan Nurul Istiqomah 1610631080226 PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SINGAPERBANGSA KARAWANG 2018 KATA PENGANTAR Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas terselesaikannya makalah “Analisis Buku Teks Bahasa Indonesia Kelas XI Kurikulum 2013”. Semoga makalah ini menjadi makalah yang bermanfaat bagi orang-orang yang membacanya. Tidak lupa kami juga mengucapkan banyak terima kasih atas bantuan dari pihak yan...

ANTOLOGI PUISI MENCATAT DEMAM BERADA DI JALAN RAMAI

pada batas rasa kehilangan ini, aku biru. PUISI seperti sebuah arsip dari sesuatu yang abstrak ke bentuk yang konkret atau bentuk yang dapat menggugah indera. Sesuatu yang abstrak itu, kemudian dituliskan dengan rangkaian kata yang memiliki estetika bunyi dan bermakna. Penyair adalah seseorang yang menangkap keabstrakan tersebut, dan kemudian membawanya ke tengah pembaca sebagai sebuah tawaran menikmati sesuatu yang sudah ada maupun sesuatu yang baru. Keberangkatan awal penyair mencari sesuatu yang abstrak dimulai dari yang paling dekat dengan dirinya, yaitu diri sendiri. Kita mungkin pernah merasa kalau orang-orang di sekeliling tidak ada yang bisa memahami diri kita yang sedang putus asa, kecewa, dsb. Dari sanalah kita berperan memahami diri kita sendiri. Begitu pun penyair, ia berangkat dari dalam diri, lalu temuan-temuannya itu bisa dikaitkan dengan ikhwal di luar atau di dalam dirinya. Penyair hanya memilih beberapa temuan-temuannya dari sekian banyak temuan. Temuan yang p...

Kita Menua Bersama Puisi

Lampu kota terbangun ketika kita datang suara-suara roda pula klakson teriak di luar sana. Sementara kita menunggu pesanan datang; satu cinta untukmu dan satu rindu untuk dibawa pulang. Di atas meja. Matamu menikam degupku yang kurahasiakan darimu. Sesaat setelah matamu terbenam dalam mataku, mendadak luruh dan beterbangan puisi-puisi yang menyangga pertemuan kita. Malam ini kau adalah sajak yang meniduri pelupuk mataku, menepuk cintaku di ujung pintu. Kau seperti ombak yang meninggi dan segera menghempas dan aku batu karang yang akan menyambut ombak rasa sakitmu. Malam ini. Di atas meja bundar kau berkisah tentang kasih. Lalu, beberapa menit kemudian pesanan datang "Cinta ini, untuk siapa?" katamu ketus. "Untukmu dan rindu yang akan kau bawa pulang." Gumamku. Kau segala definisi dalam puisi yang kucintai, segala  waktu yang memeluk tubuhku  ketika menguraimu jadi kalimat indah. Ah kau. Mengapa lama-lama sekali? Peganglah tanganku dan kita ...