Skip to main content

Orang-Orang Kalah

Hari minggu yang amat sangat pendek ini, saya mulai dengan membaca Macan—Kumpulan Cerpen Pilihan Kompas 2020—Niatnya sih cuma mau membaca saja tanpa memikirkan sesuatu yang membuat hari-hari pandemi semakin berat. Namun sialnya hari ini ada salah satu cerpen yang sengaja dibaca bikin pagi-pagi harus mikir. Daripada pikiran itu menghambat hari minggu yang singkat, maka saya tulis ini. Oh iya hampir lupa, judul cerpennya “Mengantar Benih Padi Terakhir ke Ladang” karya Silvester Petera Hurit (hlm. 39-47).

Judul cerpen tersebut sekilas menggambarkan apa yang akan diceritakan. Pilihan kata “Terakhir” pada judul, seperti rambu-rambu bahwa kita akan membayangkan situasi yang tragis, menyedihkan, dan kehilangan. Biasanya seperti itu. Eh iya, saya engga mau ceritain isi cerpennya, biar kamu nanti beli bukunya dan baca.

Cerpen dimulai dengan membangun sudut pandang atau pola pikir orang kota dalam benak pembaca. Sadar atau tidak, kita pelan-pelan menganggap bahwa kehidupan kota adalah kehidupan yang paling sempurna. Dan hidup di kota semacam keharusan, tidak boleh tidak. Bahkan tingkat kebahagian kita saat ini, diukur di kota mana seseorang tinggal. Tentu sebaliknya, desa adalah kehidupan yang paling tertinggal. Kuno. Engga gaul. Coba deh pasti kita sering mendengar anggapan seseorang yang tinggal di kota, taraf hidupnya sudah “mapan”. Wes pokoe keren di mata orang-orang di desa. 

Tak hanya berhenti di sana, terkadang orang kota lebih dianggap memiliki pola pikir yang lebih maju, realistis, dan modern. Anggapan itulah yang kadangkala membuat seseorang yang tinggal di kota, enggan beradaptasi atau menyesuaikan diri ketika bertemu dengan orang desa. Orang kota semacam ini akan terlalu sensitif dan “alergi” tentang segala pola pikir orang desa yang tidak ditemui di kota. Butuh banyak waktu agar orang kota bisa memahami dan menerima sesuatu yang dibilang “kuno”. Seperti tokoh Nara dalam cerpen ini. 

Pola pikir orang kota cenderung lebih mempercayai segala hal yang terlihat dalam realitas kehidupannya, apa yang terlihat itulah yang disebut mereka realistis. Berseberangan dengan orang desa, mereka mempercayai bahwa hidup berdampingan dengan apa yang terlihat dan tidak terlihat. Orang desa memiliki cara hidup bergantung pada semua aspek kehidupan, tidak hanya manusia. Alam dan seisinya adalah bagian penting kehidupan di desa. 

Kedua hal yang amat kontras tersebut memang tidak ada masalah, damai-damai saja, selagi masih di dalam tempatnya masing-masing. Perpecahan akan terjadi ketika keduanya bertubrukan, orang kota ikut campur dengan perspektifnya memaksa orang desa, atau bisa sebaliknya. Tapi nyatanya, orang kota selalu ingin menduduki tempat paling atas, menguasai kehidupan desa, dan mengganggap mereka lemah dan primitif. Menghegemoni bahasa kerennya mah.

Dalam cerpen ini diceritakan orang kota menebang, mentraktor, meracuni dan membakar seluruh pohon besar yang ada di desa. Alasannya sepele, pohon besar itu dianggap sarang kuntilanak, kurcaci, roh jahat, tempat orang menyembah, bertapa, jadi tukang sihir, santet dan semacamnya.

Kemudian tetua adat desa dihukum karena dianggap mendirikan agama baru, yang pada akhirnya membuat tradisi berladang di desa tempat tinggal Nara musnah. Hal ini menunjukan orang kota kerap kali seenaknya sendiri mengendalikan kultur yang merawat kehidupan desa.

Mereka seolah mempunya privilese, yang entah disepakati oleh siapa, untuk melakukan hal demikian. Kedatangan Nara pun pada awalnya ialah menolak hal-hal yang dilakukan orang-orang desa, padahal ia lahir di dalamnya. Perspektif orang kota melekat utuh dalam dirinya. 

Sisi lain kita bisa melihat orang desa yang sabar dan berusaha memberikan pengertian dan penjelasan kepada “orang baru” seperti kedua orangtua Nara kepada Nara. Tentang segala hal yang orang desa lakukan itu memiliki saling keterkaitan dalam hidup. Yap, di desa bukan hanya soal finansial yang dijaga tetapi ekosistem simbiosis di antara manusia dan semesta diperhatikan. 

Lambat laun akhirnya Nara menerima dan mengerti lingkungannya. Namun keadaan yang semula normal, orang desa Nara melakukan kebiasaan adatnya. Menjadi huru hara yang pecah, ketika tiba-tiba orang kota masuk, menganggap tanah leluhur mereka sudah dibeli dan dilarang melakukan adat tradisi berladang. Desa itu akan dibangun hotel berbintang.

Sampai titik ini saya merasa orang desa selalu digambarkan sebagai golongan di bawah, terhegemoni dan tidak pernah ada kemenangan untuk orang desa. Persepktif kehidupan, pola kehidupan dan cara berbikir orang desa menjadi hal yang remeh-temeh. Dan mereka selalu dianggap tidak mempunyai kekuatan yang cukup. Bahkan cenderung lemah. Kehidupam kota adalah kerajaan yang harus segara dibangun, apapun alasannya itu keharusan. Selagi masih ada yang bisa dikalahkan, kenapa harus bertarung dengan yang sesama kuat, begitu kira-kira.


Terima kasih.

Serpihmimpi, 2021.



Comments

Popular posts from this blog

Analisis Buku Teks Bahasa Indonesia Kelas XI Kurikulum 2013

ANALISIS BUKU TEKS BAHASA INDONESIA KELAS XI KURIKULUM 2013 Diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah Telaah Kurikulum dan Buku Teks Dosen pengampu Slamet Triyadi S.Pd.,M.Pd. Disusun oleh: kelompok   (4D/ PBSI) Eni Nadia Pega 1610631080062 Irvan Syahril 1610631080093 Kiki Dwi Yulianti 1610631080100 Novia Windi Hastuti 1610631080142 Siska Krisnawati 1610631080191 Yulan Nurul Istiqomah 1610631080226 PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SINGAPERBANGSA KARAWANG 2018 KATA PENGANTAR Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas terselesaikannya makalah “Analisis Buku Teks Bahasa Indonesia Kelas XI Kurikulum 2013”. Semoga makalah ini menjadi makalah yang bermanfaat bagi orang-orang yang membacanya. Tidak lupa kami juga mengucapkan banyak terima kasih atas bantuan dari pihak yan...

ANTOLOGI PUISI MENCATAT DEMAM BERADA DI JALAN RAMAI

pada batas rasa kehilangan ini, aku biru. PUISI seperti sebuah arsip dari sesuatu yang abstrak ke bentuk yang konkret atau bentuk yang dapat menggugah indera. Sesuatu yang abstrak itu, kemudian dituliskan dengan rangkaian kata yang memiliki estetika bunyi dan bermakna. Penyair adalah seseorang yang menangkap keabstrakan tersebut, dan kemudian membawanya ke tengah pembaca sebagai sebuah tawaran menikmati sesuatu yang sudah ada maupun sesuatu yang baru. Keberangkatan awal penyair mencari sesuatu yang abstrak dimulai dari yang paling dekat dengan dirinya, yaitu diri sendiri. Kita mungkin pernah merasa kalau orang-orang di sekeliling tidak ada yang bisa memahami diri kita yang sedang putus asa, kecewa, dsb. Dari sanalah kita berperan memahami diri kita sendiri. Begitu pun penyair, ia berangkat dari dalam diri, lalu temuan-temuannya itu bisa dikaitkan dengan ikhwal di luar atau di dalam dirinya. Penyair hanya memilih beberapa temuan-temuannya dari sekian banyak temuan. Temuan yang p...

Kita Menua Bersama Puisi

Lampu kota terbangun ketika kita datang suara-suara roda pula klakson teriak di luar sana. Sementara kita menunggu pesanan datang; satu cinta untukmu dan satu rindu untuk dibawa pulang. Di atas meja. Matamu menikam degupku yang kurahasiakan darimu. Sesaat setelah matamu terbenam dalam mataku, mendadak luruh dan beterbangan puisi-puisi yang menyangga pertemuan kita. Malam ini kau adalah sajak yang meniduri pelupuk mataku, menepuk cintaku di ujung pintu. Kau seperti ombak yang meninggi dan segera menghempas dan aku batu karang yang akan menyambut ombak rasa sakitmu. Malam ini. Di atas meja bundar kau berkisah tentang kasih. Lalu, beberapa menit kemudian pesanan datang "Cinta ini, untuk siapa?" katamu ketus. "Untukmu dan rindu yang akan kau bawa pulang." Gumamku. Kau segala definisi dalam puisi yang kucintai, segala  waktu yang memeluk tubuhku  ketika menguraimu jadi kalimat indah. Ah kau. Mengapa lama-lama sekali? Peganglah tanganku dan kita ...