“Kenapa dulu saya se-ceria itu menceritakan kesedihan?”, “Kenapa saya senang melihat orang tertawa?”, dan “Kenapa saya bisa berdamai dengan kekurangan, untuk diceritakan kepada orang lain?”. Sejumlah pertanyaan itulah yang kerap kali muncul dalam benak saya, namun hingga sampai saat ini saya belum menemukan jawabannya.
Sabtu seru
Cerita ini mungkin dapat menjadi start awal pengalaman saya menulis. Semasa SMA saya bisa dikatakan tidak tertarik dengan buku-buku, apalagi menulis. Dari Senin sampai Sabtu saya lebih banyak mengabiskan waktu berorganisasi. Saya termasuk siswa yang jarang hadir di kelas, terlebih jika pada hari itu jam mata pelajaran matematika dan Bahasa Inggris. Eist, tapi saya tidak pernah melawan guru.
Pada suatu jam istirahat yang mengenyangkan, tidak ada angin dan tidak ada pasangan hidup, saya diminta untuk menemui Kesiswaan. Dalam pikiran saya waktu itu hanya sebatas ah, paling juga mau ngomongin Osis. Tidak lama melangkah keluar kelas, saya melihat Pak Kesiswaan sedang berjalan ke arah saya. Tanpa pikir panjang langsung saya hampiri.
“Van, Sabtu ini kamu pengisi acara stand up ya.”
Kata-kata itu cepat melesat dari teliga kanan, membetur jantung. Saya cuma bisa mlongo.
“Bapak percaya sama kamu, kamu kan orangnya suka bercanda. Bisa kan? Bisa dong.”
“Jangan saya deh, Pak. Enggak sanggup. Malu.”
“Enggak apa-apa, Bapak percaya sama kamu. Bisa pasti.” Ucap Pak kesiswaan sambil menepuk-nepuk punggung saya.
Momen yang begitu kilat itu mengharuskan saya bekerja keras—mencari kawan stand up dan mencari ganti—tapi memang sudah nasib saya ber-stand up, nasi sudah menjadi lontong bersatu dengan kuah dan kerupuk. Satu sisi saya merasa takut gagal, di sisi lain saya merasa agak tenang, sebab ada teman yang bersedia ber-stand up.
Hal yang pertama saya lakukan yaitu menonton sebanyak-banyak video stand up comedy dari beberapa komika seperti Uus, Ge Pamungkas, Awe, Radit, dst. Saya mulai rajin memegang buku dan pulpen. Mencatat hal-hal yang menarik di lingkungan sekitar, dan saya mencari ke dalam diri apa yang bisa diungkapkan. Setelah itu, saya membaca beberapa referensi dari internet bagaimana cara membuat naskah stand up comedy.
Satu hari pertama saya amat kesusahan menuliskan satu baris. Sulit sekali. Serius. Apalagi saya dikejar jam tayang. Hanya ada waktu dua hari. Saya mencoba tidak menulis, langsung mempraktikkan, eh, yang terjadi malah saya tidak tahu apa yang akan saya bicarakan. Menulis beberapa kalimat, setelah itu saya sobek. Menulis itu sulit, sesulit mencintai yang tak ada di hati ini, eaa.
Setelah berpikir panjang akhirnya ada cahaya menerobos awan mendung dalam kepala. Saya tahu dan saya bisa. Saya memilih jalan Kakasi sebagai ninja peniru, Punchline yang saya ingat dari hasil menonton para komika, saya tulis ulang. Selanjutnya apa? Sabar dong. Setelah segalanya ditulis ulang, saya meniru cara para komika itu menulis dari setup kalimat sampai punchline. Walaupun ketika saya sampai pada perbatasan kreatifitas, saya meniru beberapa setup kalimat dan punchline milik komika lain, hehehe, sedikit kok. Sumpah. Cuma awalan sama akhir. Sumpah. Hehehe. PiiiiiSSSSSSSS.
Sabtu pun tiba, siswa dari kelas X sampai XII berkumpul di lapangan. Hoalah.
Assaaaalaaaaaaamualaaaikum, selamaat paaaagi jomlbo. Wiih ternyata populasi jomblo semakin meningkat. Kenalin nama gua irvan, gua dari XII Ipa 1....
Sejak hari Sabtu itu saya keterusan mengisi stand up comedy bersama beberapa teman. Kebetulan pada saat itu pula acara Stand up Comedy Academi (SUCA) sedang naik daun. Selang beberapa lama, saking seriusnya kami berstandup terpikirlah membentuk komunitas, yakni Sacila Comica Community (SCC), kalian bisa mencari jejak digitalnya di Facebook dan Twitter (ini mah takut kalian tidak percaya).
Dalam komunitas itu kami memiliki nama panggung masing-masing. Nama panggung yang saya gunakan waktu itu, Irvan Odot. Tambahan nama Odot tersebut saya dapat dari kotak amal di dalam kelas XII Ipa 1—lihat, betapa kreatifnya saya kan, huehehe—Odot adalah kepanjangan dari One Day One Thounsand. Betapa bangganya saya mengenakan nama itu, dan betapa merasa lucunya dengan gelar Odot.
Menemui puisi yang sepi
Hingga sampai saat ini saya pun tidak mengerti, kenapa waktu itu semester 2 di bangku perkuliahan saya menulis puisi. Tidak ada bisikan gaib, ataupun bisikan rupiah. Padahal awal masuk perkuliahan saya masih mencari kumpulan orang-orang stand up comedy. Saya pun masih berpikir di kampus yang luas ini, pasti ada gerombolan stand up comedy dan saya akan belajar banyak di dalamya.
Seingat saya hal yang mendorong menulis puisi yaitu lomba cipta puisi “Sail Puisi Cimanuk” tahun 2016 yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Indramayu. Ambisi yang terus saya besarkan tidak lain ingin menjadi juara. Jika menilik kebelakang ambisi tersebut tidak mungkin, hanya 0000000,1%, bahkan angka 1 itupun tidak mungkin. Pasalnya, saya hampir tidak pernah menulis puisi. Terhitung saya menulis puisi hanya 3 kali dan 1 kali menulis cerpen—itupun tugas mata pelajaran Bahasa Indonesia—kemungkinan tidak menang mestinya sudah saya sadari.
Dari kekalahan itu saya bertekad untuk kembali mengikuti perlombaan tersebut tahun depan dan menjadi juara. Sejak saat itu pula saya mulai membeli buku puisi dan meminjam buku. Di Hadapan Rahasia karya Adimas Immanuel merupakan buku puisi pertama yang saya miliki. Buku tersebut pula lah yang mengagetkan saya tentang bentuk puisi—Hou puisi tuh kaya gini—sebab sejauh yang saya tahu pada waktu itu, bentuk puisi selalu berima a-b-a-b ataupun aa-bb, selalu terikat bunyi rima akhiranya dan jumlah larik pada setiap baitnya pun terdiri dari 4 larik, tidak kurang dan tidak lebih.
Bermula buku tersebut saya semakin sering membaca dan menulis puisi. Membicarakan puisi ke sana-ke mari, hingga tercetus komunitas Gubuk Benih Pena (GBP). Semakin dalam terseret ke perpuisian, saya semakin lupa tentang stand up comedy. Saya sempat mencoba menulis naskah stand up comedy tapi gagal. Stand up comedy saya tinggalkan dan berusaha masuk ke dunia puisi yang sepi. Sejak saya merasa nyaman dengan puisi, saya merasa tidak ada hal lain lagi yang bisa ditertawakan. Meskipun saya tahu ada puisi yang menggambarkan suatu hal dengan lucu, namun saya tidak bisa melucu dengan puisi.
Cara pandang
Antara stand up comedy dan puisi memiliki perbedaan dari cara pandang. Bagi saya stand up comedy memiliki cara pandang bagaimana suatu hal yang datang atau yang sudah ada dalam diri menjadi sesuatu yang lucu. Kelucuan ini membentuk stereotip bahwa kesedihan sekali pun masih pantas untuk dibicarakan kepada orang banyak. Kekurangan dan kesedihan bukan lagi momok yang mesti disembunyikan, tetapi hal tersebut menjadi sesuatu yang bikin kita lebih dekat satu dengan yang lain. Keduanya pula bukan sesuatu yang harus terus menjadi hal yang sensitif. Dengan saya berani membicarakan kekuragan dan kesedihan untuk orang lain tertawa, itu sama halnya dengan berdamai dengan diri sendiri.
Sedangkan puisi, memiliki jalan pengungkapan yang liris. Apakah ini dan apakah itu. Puisi cenderung pada penghayatan terhadap kehidupan dan mempertanyakan hakikat diri sendiri sebagai manusia. Dari segi kalimat, puisi lebih interpretatif antara satu orang dengan yang lain. Suatu hal yang datang maupun yang sudah ada dalam diri manusia disampaikan menjadi suatu hal yang merekfleksikan diri ataupun lainnya. Setiap menulis puisi saya kerap dihadang pertanyaan “Saya ingin bicara A, tapi bagaimana cara mengungkapkan melalui B?”. Kekurangan dan kesedihan jika sudah menjadi puisi cenderung dirasakan atau dimiliki banyak orang, meskipun kekurangan dan kesedihan tersebut kerap kali milik personal penyairnya.
Serpihmimpi, 2021
Comments
Post a Comment
Terima kasih atas apresiasinya.