Seumpama saja ada mesin waktu yang mampu mengantarkan kita pada masa lampau atau masa ketika masyarakat belum mengenal betul bahasa tulis, lalu kita tantang satu penulis hebat pada masa sekarang yang telah menerbitkan beberapa buku untuk berada di masa lampau dan membuat karya sebanyak-banyaknya dengan mengandalkan ingatan dan lisan.
Bisa kita tebak, pengarang tersebut tidak akan mampu menciptakan karya sebanyak yang telah dia terbitkan di masa sekarang. Mungkin perumpaan tersebut dapat membuka wawasan kita tentang perbedaan pengarang zaman sekarang dengan zaman dahulu.
Pada zaman dahulu pengarang menggunakan tradisi lisan sebagai media berkarya dengan mengandalkan segenap ingatan. Karena itu, kita mengenal puisi lama yang memiliki banyak sekali aturan main. Misalkan, pantun yang memiliki aturan pola a-b-a-b, suku kata 8-12 dan 1 bait berisi 4 larik. Aturan main ini merupakan cara agar pengarang mudah mengingat karya yang sudah dibuat.
Lalu, bagaimana dengan dongeng, legenda dan mitos yang memiliki rangkaian cerita panjang mampu bertahan sampai sekarang? jawaban dari pertanyaan tersebut dapat kita dekati seperti ini, karena tradisi lisan yang masih diteruskan dari anak-cucu hingga sekarang dan diperkuat dengan tulisan. Dan yang paling terpenting tradisi lisan mengkhususkan diri untuk merawat pengetahuan dari cerita-cerita zaman dulu.
Puisi Rizki Andika berjudul “Anggrainim” merupakan usaha merawat pengetahuan zaman dulu, cerita yang berusaha dilanggengkan dengan bentuk yang berbeda. Pada zaman sekarang setelah kita mengenal bahasa tulis tidak menutup kemungkinan kalau cerita-cerita yang ada di masyarakat mengalami beberapa perubahan atau sampai mengalami transformasi.
Puisi “Anggrainim” merupakan puisi yang bertolak dari kisah legenda Putri Ular Pematangsiantar. Dalam tradisi lisan lebih mengandalkan pragmatika atau kenyamanan pembicaranya, maka susuna alur atau bahkan ceritanya pun akan mengalami perubahan. Sebelum beranjak ke legenda Putri Ular Pematangsiantar, mari kita longok sebentar legenda Tangkuban Perahu yang ada di Jawa Barat. Legenda Tangkuban Perahu hingga sekarang memiliki banyak banyak versi cerita seperti si Tumang yang diusir ke hutan, si Tumang yang di bunuh, dan si Tumang yang dimakan oleh si Dayang Sumbi.
Legenda Putri Ular Pematangsiantar pun demikian, banyak versi tentang legenda tersebut seperti, wajah cantik Anggrainim rusak karena sebatang kayu yang menancap di hidungnya, rusak karena dipatuk oleh burung, dan rusak karena ranting yang jatuh. Lantas, manakah yang benar kisahnya? Semua kisah yang ada adalah benar, sebab dalam tradisi lisan kita tidak akan mengetahui siapa pengarangnya dan tidak ada larangan untuk siapapun mengubah cerita dari tradisi lisan.
Maka beruntunglah Dika, dia tidak akan dipenjara karena sudah mengubah legenda Putri Ular sesuai imajinasinya sendiri. Karena ada kebebasan mentransformasi cerita, alangkah tidak elok kalau kita hanya terpaku ke legendanya saja. Kita akan mencoba menelusuri gambaran sosok Anggarainim di tangan seorang penyair yang berasal dari Karawang.
“Anggrainim” merupakan satu di antara puisi-puisi yang berada satu himpun buku berjudul Anggrainim, Tugu dan Rindu. Puisi yang ditulisnya tersebut merupakan puisi naratif yang masih terpengaruh konsep tradisi lisan pada suatu cerita rakyat yaitu kerajaan, sayembara, dan makhluk-makhluk gaib.
Diksi-diksi yang digunakan adalah diksi yang mudah dipahami dan terbuka sehingga pembaca tidak akan merasa ngejelimet tentang diksi-diksi yang dipilihnya, contohnya diksi “sayembara”, “pesta”, “matahari” dsb. Ketika diksi-diksi yang digunakan dekat dengan pembaca, hal ini membuat pembaca tidak usah kembali membuka kamus atau internet untuk mengartikan tiap diksi.
Namun dalam penyusunan setiap lariknnya atau mengejawantahkan larik, Dika seperti ingin menyuguhkan cara membaca yang berbeda dan seligus mempermainkan imajinasi pembaca, seperti di fragmen pertama.
perasaan hati berdengung
menggema bunyi parascantik anggrainim bergelantungan
Untuk memudahkan penafsiran maka coba kita ubah larik tersebut menjadi satu kalimat seperti ini perasaan hati berdengung,menggema bunyi, paras cantik anggrainim bergelantungan. Dari satu kalimat ini dapat kita tafsir maknanya yaitu aku lirik yang sedang bahagia mendengar sayembara yang dilakukan raja Damanik dan si aku lirik terbayang oleh kecantikan sosok Anggrainim.
Bentuk typografi puisi Dika memiliki 3 fragmen, dan setiap fragmen seperti bentuk alur cerita, orientasi, persoalan-klimaks, dan penyelesaian. Bentuk-bentuk alur sangat nampak menceritakan dari awal sampai akhir, tidak berawal dari tengah, ataupun belakang. Transformasi yang yang dilakukan hanya memodifikasi pada penambahan tokoh pangeran ular. Sebab, beberapa versi cerita tidak ada legenda Putri Ular yang menyebutkan atau menggunakan tokoh pengeran yang mencintai Angrainim.
/selepas kabar sayembara// raja damanik terdengar// di tanah nusantara// larik ini jelas menggambarkan cerita dengan jelas dimulai selepas adanya sayembara. //di kepala membayangkan riang//tarian manotor bersama putri// diksi “membayangkan” menandakan sesuatu yang diyakinin oleh aku lirik, dalam bait pertama fragmen ke 1 aku lirik membayangkan kemenangan atau keberhasilan mendapatkan Anggrainim.
Bait ke dua, aku lirik mulai tampak secara eksplinsit //aku datang dengan kereta kuda// membawa syair yang kutangkap// aku lirik mendatangi istana dengan segenap perasaannya, diksi “syair” adalah diksi yang mempertegas aku lirik datang tidak dengan alat perangnya tetapi aku lirik membawa seluruh perasaannya atau siap berkorban demi seseorang yang diinginkannya. Frasa “perasaan matahari”, “musim bumi”, “kepak burung”, “buih abadi” dan “angin tenang” merupakan metafora-metafora yang memperkuat kedalaman dari diksi sebelumnya. //aku ingin engkau juga menyimpan// aku lirik ingin perjuangan yang dilakukannya tidak sia-sia dan ingin menjalin kehidupan dengan Anggrainim.
Fragmen ke dua mulai muncul permasalahan, seperti dalam konsep tradisi lisan seorang tokoh utamanya akan mengalami kekalahan terlebih dahulu. Fragmen ke dua secara utuh menggambarkan perasaan aku lirik yang sangat tercabik-cabik dan sangat terpukul /jatuh ke lubang hitam genangan/, / habis aku dijatuhi air hujan/, /rasa hilang dikuras kenyataan/, larik-larik tersebut menunjukan perasaan dan harapan yang hancur lebur.
Frasa “menunggangi badai” memiliki makna konotatif aku lirik merasakan seisi tubuhnya adalah kekecewaan, setiap ia melangkah tidak dapat lepas dari kekecewaan yang sedang menderanya. Pada akhirnya aku lirik pada bait ke 2 memilih untuk berdiam diri dalam suatu tempat gelap yaitu gua. Namun, dalam kekecewaannya aku lirik tetap mengharapkan Anggrainim jatuh kepelukannya.
Fragmen ke 3 bercerita Aggrainim yang gelisah karena kecantikkannya hilang tiba-tiba karena ranting menimpa wajahnya /sedang kilau berkelebat cepat dilangit//menghantam pohon dekat puan menangis duduk// patahlah ranting menimpa wajah kelabu// kemudian Anggrainim lari ke arah gua. /sembunyiku hampir sia-sia saat ini/ larik ini menggambarkan pertemuan antara aku lirik dengan Anggrainim, bisa kita beri ungkapan yang cocok untuk sosok Aku lirik “Orang sabar rezekinya lebar”. Ada gaya bahasa retorika atau gaya bahasa yang berupa kalimat tanya tetapi sebetulnya tidak perlu dijawab.
menangis yang sedang luka?
sementara aku sama jatuh juga
tanya kepada dinding kelam
Gaya bahasa di atas menggambarkan kesamaan perasaan yang sedang merasa terluka. /cepat-cepat kupeluk tubuh itu dengan ekor/ secara implinsit yang diyakini oleh aku lirik atau mungkin penyairnya, segala permasalahan yang ada di dalam diri bisa mereda melalui pelukan ataupun pelukan adalah cara sederhana untuk meredakan gejolak batin. Namun secara ekplinsi, larik tersebut merupakan gambaran wujud sebenarnya aku lirik. /kucabut sisik cokelat di dada/, /merah mengucur//dari tubuhku//dan mati// merupakan gambaran bahwa aku lirik melakukan pengorbanan demi Anggrainim agar luka yang dialami sembuh.
//anggrainim mewarisi darah//juga bentuk tubuhku//puan putri ular abadi saat ini// dari tiga larik ini jelas bahwa si aku lirik merupakan sosok ular yang selama ini menginginkan Anggarainim. Setelah pengorbanan yang dilakukan aku lirik maka Anggrainim menjelma sosok putri ular yang abadi.
Terlepas dari unsur yang membangun puisi Dika menjadi satu kesatuan cerita yang utuh, tranformasi yang dilakukan oleh Dika adalah transformasi modifikasi. Yaitu dengan adanya penambahan tokoh pangeran ular dan ternyata dalam imajinasi Dika, Anggrainim adalah sosok perempuan cantik namun sayang kecantikannya hilang karena sebatang ranting kemudian Anggrainim menjadi sesosok manusia ular bukan karena sumpah atau kutukan tetapi disebabkan oleh pengorbanan yang dilakukan aku lirik demi kesembuhan Anggrainim.
Dan sekali lagi, puisi “Anggrainim” merupakan salah satu usaha Dika untuk melanggengkan ilmu-ilmu pengetahuan zaman dahulu. Walaupun gaya penulisan Dika sangat dipengaruhi oleh tradisi lisan yang artian tidak ada akrobatik alur, tapi karya ini menjadi sangat berharga karena Dika memonumenkan cerita rakyat, dan mengembangkan cerita tersebut dengan imajinasi liar. Hal yang mempengaruhi transformasi Dika adalah pengalam menulis dan pengalaman membaca.
Comments
Post a Comment
Terima kasih atas apresiasinya.