Skip to main content

Perempuan Peretas Konstruksi Sosial dalam Masyarakat


Kedudukan perempuan dalam kehidupan selalu menjadi kaum kelas dua, diperlakukan,
dipandang lebih rendah dari kaum laki-laki. Perempuan hampir tidak memiliki hak dan
kesempatan yang leluasa, selalu ada perhitungan-perhitungan yang tidak logis ketika perempuan
ingin meraih posisi kedudukan sama dengan laki-laki. Keadaan semacam itu tidak dapat
terhindarkan dari waktu ke waktu dan masyarakat menganggap bahwa hal tersebut memang
sudah mestinya terjadi.

Semakin banyaknya diskriminasi atau pembatasan ruang gerak perempuan untuk meraih sesuatu
dalam masyarakat, timbullah gerakan yang membawa suara kesetaraan hak dan kesempatan bagi
kaum perempuan yaitu gerakan feminisme. Gerakan ini menolak pandangan jika perempuan
selalu berada di bawah tingkat laki-laki baik dianggap sebagai kodrat lahir.

Dalam karya sastra perempuan pun kadang diperlakukan sebagai sosok yang lemah dan tidak
berdaya. Lain hal jika karya sastra tersebut membawa suara-suara feminisme, yakni adanya
usaha pematahan konstruksi masyarakat sebagai upaya penyadaran bahwa perempuan berhak
mendapatkan kesempatan hidup dan meraih segala yang dapat diraihnya sendiri. Seperti tokoh
Latifa dalam cerpen “Daun-daun Beluntas” karya Tjak S. Parlan yang diterbitkan oleh Media
Indonesia pada tanggal 28 Mei 2017.

Cerpen tersebut bercerita tentang tokoh Latifa yang menghidupi anaknya yang gemar makan
botok tempe daun beluntas seorang diri, Marsinah. Hidup di tengah keluarga yang
mengucilkannya selepas ia bekerja di negara Petrodolar, ia tak lagi memiliki kehormatan sebagai
perempuan oleh sosok iblis yang tak mampu dilawannya. Latifa berjuang keras agar ia tak
menggugurkan niatnya merusak janin tersebut sampai akhirnya lahirlah Marsinah yang dianggap
sebagai aib keluarga yang membuat Ayah Latifa meninggal. Namun, saat Marsinah tumbuh
menjadi anak gadis cantik, para saudaranya ingin mengadopsinya dengan alasan kehidupan

anaknya akan lebih baik. Tetapi Latifa tetap seorang ibu yang bertanggung jawab kepada
anaknya, ia menolak pengadopsian dan membawa pergi Marsinah.
Tokoh Latifa mulanya tetap digambarkan sebagai perempuan yang lemah dan tidak berdaya di
atas kekuasaan laki-laki dan hukuman-hukuman lingkungan sosial akibat dihilangkan
kehormatannya. Konstruksi sosial itulah yang sampai saat ini masih ada di masyarakat,
perempuan yang kehilangan kehormatan tidak pantas lagi melanjutkan hidup bersama dan laki-
laki sebagai kaum superior tidak pernah salah. Tetapi tokoh Latifa mengalami perkembangan
hingga ia bisa diterima dan melawan konstruksi masyarakat tersebut.

Ada suara pergeseran konstruksi sosial yang berusaha diciptakan oleh tokoh Latifa, yakni ketika
seorang perempuan lumrahnya malu memiliki janin dari laki-laki yang tidak bertanggung jawab
kemungkinan besar ia akan menggugurkan janinnya. Tokoh Latifa berusaha menyadarkan bahwa
posisi perempuan dapat dikembalikan seperti sediakala, ia pun dapat hidup seperti laki-laki yang
bebas berkeliaran tanpa beban hukum masyarakat dan memosisikan diri sebagai ibu dengan cara
tetap mengurus anak yang kerap mengingatkannya dengan kejadian masa lalu.

Kesetaraan hak dan kesempatan berusaha ia pertahankan dengan penuh sabar di tengah
guncangan moral yang diterimanya. Tokoh Latifa berlindung dari guncangan itu dengan cara
mempertahankan kebiasaannya memasak botok tempe daun beluntas kegemaran Marsinah. Hal
ini pun bukti jika nilai-nilai keibuan tetap kuat dalam diri tokoh Latifa. Tokoh lain yang
mengubah konstruksi ialah tokoh Ibu dan Bibi Rahma yang menerima kehadiran Marsinah
sebagai bagian dari keluarga yang utuh.

Walau sejatinya tokoh Latifa tidak bisa lepas dari cengkeraman bayang-bayang laki-laki yang tak
diinginkan. Ia tetap menyatakan diri mampu menyekolahkan dan melindungi Marsinah dengan
caranya sendiri. Menyekolahkan dan melindungi adalah sesuatu yang mestinya dilakukan oleh
laki-laki sebagai kaum superior. Tokoh Latifa semacam melakukan penolakan secara tersirat
bahwa ia bukan perempuan selalu berada di bawah tingkat laki-laki baik dianggap sebagai kodrat
lahir dan pembatasan ruang gerak sebagai kaum kelas kedua.

Puncak dari pergeseran konstruksi sosial dan mencapai kesetaraan dengan laki-laki yang tak
diinginkan itu. Tokoh Latifa memilih untuk pergi dari lingkup kehidupan keluarga besarnya
bersama Marsinah. Ia telah merasa jika dirinya mampu berperan ganda menjadi ibu dan ayah

Marsinah. Tokoh Latifa bukan lagi tokoh yang kaku terhadap konstruksi sosial yang
menuntutnya patuh dengan hal-hal yang diperhitungkan tidak logis dan ia membawa suara
gerakan feminisme.

Comments

Popular posts from this blog

Analisis Buku Teks Bahasa Indonesia Kelas XI Kurikulum 2013

ANALISIS BUKU TEKS BAHASA INDONESIA KELAS XI KURIKULUM 2013 Diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah Telaah Kurikulum dan Buku Teks Dosen pengampu Slamet Triyadi S.Pd.,M.Pd. Disusun oleh: kelompok   (4D/ PBSI) Eni Nadia Pega 1610631080062 Irvan Syahril 1610631080093 Kiki Dwi Yulianti 1610631080100 Novia Windi Hastuti 1610631080142 Siska Krisnawati 1610631080191 Yulan Nurul Istiqomah 1610631080226 PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SINGAPERBANGSA KARAWANG 2018 KATA PENGANTAR Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas terselesaikannya makalah “Analisis Buku Teks Bahasa Indonesia Kelas XI Kurikulum 2013”. Semoga makalah ini menjadi makalah yang bermanfaat bagi orang-orang yang membacanya. Tidak lupa kami juga mengucapkan banyak terima kasih atas bantuan dari pihak yan...

ANTOLOGI PUISI MENCATAT DEMAM BERADA DI JALAN RAMAI

pada batas rasa kehilangan ini, aku biru. PUISI seperti sebuah arsip dari sesuatu yang abstrak ke bentuk yang konkret atau bentuk yang dapat menggugah indera. Sesuatu yang abstrak itu, kemudian dituliskan dengan rangkaian kata yang memiliki estetika bunyi dan bermakna. Penyair adalah seseorang yang menangkap keabstrakan tersebut, dan kemudian membawanya ke tengah pembaca sebagai sebuah tawaran menikmati sesuatu yang sudah ada maupun sesuatu yang baru. Keberangkatan awal penyair mencari sesuatu yang abstrak dimulai dari yang paling dekat dengan dirinya, yaitu diri sendiri. Kita mungkin pernah merasa kalau orang-orang di sekeliling tidak ada yang bisa memahami diri kita yang sedang putus asa, kecewa, dsb. Dari sanalah kita berperan memahami diri kita sendiri. Begitu pun penyair, ia berangkat dari dalam diri, lalu temuan-temuannya itu bisa dikaitkan dengan ikhwal di luar atau di dalam dirinya. Penyair hanya memilih beberapa temuan-temuannya dari sekian banyak temuan. Temuan yang p...

Kita Menua Bersama Puisi

Lampu kota terbangun ketika kita datang suara-suara roda pula klakson teriak di luar sana. Sementara kita menunggu pesanan datang; satu cinta untukmu dan satu rindu untuk dibawa pulang. Di atas meja. Matamu menikam degupku yang kurahasiakan darimu. Sesaat setelah matamu terbenam dalam mataku, mendadak luruh dan beterbangan puisi-puisi yang menyangga pertemuan kita. Malam ini kau adalah sajak yang meniduri pelupuk mataku, menepuk cintaku di ujung pintu. Kau seperti ombak yang meninggi dan segera menghempas dan aku batu karang yang akan menyambut ombak rasa sakitmu. Malam ini. Di atas meja bundar kau berkisah tentang kasih. Lalu, beberapa menit kemudian pesanan datang "Cinta ini, untuk siapa?" katamu ketus. "Untukmu dan rindu yang akan kau bawa pulang." Gumamku. Kau segala definisi dalam puisi yang kucintai, segala  waktu yang memeluk tubuhku  ketika menguraimu jadi kalimat indah. Ah kau. Mengapa lama-lama sekali? Peganglah tanganku dan kita ...