Skip to main content

JURUS JITU 4 KALI TINJU TERSIAR DI MEDIA CETAK DAN ONLINE


Setiap penulis memiliki jurus jitu masing-masing agar karyanya tersiar di media cetak dan online atau bahkan dibukukan. Ibarat seorang pahlawan atau super hero yang akan mengalahkan musuh-musuhnya di medan perang. Seandainya menulis sudah menjadi hobi, apalagi menjadi suatu kebutuhan, keinginan untuk menyiarkan karya akan semakin besar. Tujuan menyiarkan karya pun bermacam-macam seperti ingin mengetahui reaksi pembaca, dikenal banyak orang, promosi diri, memperbaiki ekonomi, atau agar diakui sebagai penulis.
Lantas apa manfaat menyiarkan karya ke media cetak dan online bagi diri kita sendiri? Hal yang paling sederhana yaitu karya kita ikut meragamkan bacaan, nama kita tercatat di suatu media, dan mendapat “pengakuan” sebagai penulis dari pembaca. Ketika nama kita sering seliweran di media lokal hingga nasional,  tidak hanya soal pengakuan sebagai penulis, tetapi kita juga mendapatkan honorarium dari media yang menyiarkan mulai dari Rp 50.000 – Rp 750.000 atau bahkan lebih. Jadi, kamu masih enggan mengirimkan karyamu ke media cetak atau online? Coba pikir-pikir lagi. Berikut adalah jurus jitu yang bisa kita tiru agar tersiar di media cetak.
1.      Percaya Diri
Modal awal mengirimkan ke media adalah percaya diri. Yaps, kita harus percaya diri kalau karya yang sudah kita tulis, mampu bersaing dengan karya-karya lain. Saat pengiriman karya jangan peduli terhadap istilah ‘senior-junior’, istilah tersebut tidak ada dan bukan pula menjadi tolok ukur untuk sebuah kesuksesan dalam menulis. Baiknya, kita harus tetap fokus dan memberi keyakinan kepada karya yang telah dibuat, kalau ia akan berhasil di mata redaktur. Kita sebagai penulisnya mesti yakin mampu menembus seuatu media cetak dan online. Kalau kita tidak percaya dengan diri sendiri, bagaimana pembaca yakin kalau yang dibacanya adalah karya kita.

2.      Memahami Karakteristik Media
Seorang pahlawan atau super hero sebelum mengalahkan musuhnya ia memahami karakteristiknya terlebih dulu, agar serangan yang dilancarkan tepat sasaran. Hal ini memang tidak mudah dan memerlukan proses panjang. Begitu pun dengan menulis untuk dikirimkan ke media cetak dan online. Setiap media memiliki karakteristik karya yang berbeda, contohnya media cetak Republika dan media online Pojokpim.com  yang berkarakteristik relegiusitas. Jadi, karya yang akan dikirim ke media tersebut hendaknya bernuansa relegius atau hubungan antara manusia dengan Tuhan. Sebagai penulis yang cerdik kita harus tahu apa yang diinginkan media.
Bagaimana caranya kita bisa memahami karakteristik media? Kuncinya adalah membaca karya-karya yang pernah tersiar. Karena dengan membaca terus-menerus karya yang tersiar di media yang kita targetkan, lambat laun kita tanpa sadar akan memahami karakteristiknya sendiri. Kapan media cetak dan online menyiarkan karya sastra?Setiap hari jumat sampai minggu banyak media cetak maupun online menyiarkan karya sastra.

3.      Matang dan Orisinalitas
Puisi-puisi yang hendak dikirim mestinya sudah matang dan siap hidang. Kita anggap pembaca adalah seseorang yang sedang haus dan lapar, kita sebagai koki masakan dan minumannya. Kita perhatikan betul bagaimana kematangan, bumbu, dan rasa. Sebagai koki kita  tentunya tak ingin pelanggan kita kecewa, kita ingin pelanggan puas atas pelayanan, dan kembali esok hari untuk masakan dan minuman kita. Puisi yang matang adalah puisi yang eselesai. Jangan sesekali mengirim puisi masih setengah jadi, apalagi belum jadi. Kirimlah ketika kita betul-betul merasa yakin dan karya tersebut selesai dituliskan.
Terpenting dari yang paling penting adalah karya milik sendiri. Jangan coba-coba mengambil karya orang lain dan mengakui itu karyamu sendiri. Memang redaksi itu kadang-kadang menerbitkan karya yang tidak orisinil, misalnya Pikiran Rakyat kasus puisi Taufik Ismail. Bukan  berarti kurator tidak bekerja serius, melainkan bisa jadi kurator ingin memberimu pelajaran dan mendapat hukuman sosial. Ingat! Tidak ada pembaca yang bodoh. Tulis karya kita sendiri ya.

4.      Mencari Kemungkinan dari Sudut Pandang Lain.
Karya-karya yang terbit di media cetak atau online, dapat dibilang karya yang memiliki kebaruan dalam segi pengucapan, tema, gaya, dsb. Walaupun tema yang diangkat masih “itu-itu” saja. Kita harus memiliki perspektif lain dalam memandag sesuatu, dan mengetahui tema-tema apa yang sudah pernah terbit. Kita boleh mengulangi tema, tapi dengan cara yang berbeda. Redaksi selalu mencari karya-karya yang dianggapnya segar dan tidak monoton. Mulai sekarang beranilah eksplorasi imajinasi kita. Banyak mencoba. Banyak memulai sesuatu kemungkinan.

Subang, 2020.

Comments

Popular posts from this blog

Analisis Buku Teks Bahasa Indonesia Kelas XI Kurikulum 2013

ANALISIS BUKU TEKS BAHASA INDONESIA KELAS XI KURIKULUM 2013 Diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah Telaah Kurikulum dan Buku Teks Dosen pengampu Slamet Triyadi S.Pd.,M.Pd. Disusun oleh: kelompok   (4D/ PBSI) Eni Nadia Pega 1610631080062 Irvan Syahril 1610631080093 Kiki Dwi Yulianti 1610631080100 Novia Windi Hastuti 1610631080142 Siska Krisnawati 1610631080191 Yulan Nurul Istiqomah 1610631080226 PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SINGAPERBANGSA KARAWANG 2018 KATA PENGANTAR Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas terselesaikannya makalah “Analisis Buku Teks Bahasa Indonesia Kelas XI Kurikulum 2013”. Semoga makalah ini menjadi makalah yang bermanfaat bagi orang-orang yang membacanya. Tidak lupa kami juga mengucapkan banyak terima kasih atas bantuan dari pihak yan...

ANTOLOGI PUISI MENCATAT DEMAM BERADA DI JALAN RAMAI

pada batas rasa kehilangan ini, aku biru. PUISI seperti sebuah arsip dari sesuatu yang abstrak ke bentuk yang konkret atau bentuk yang dapat menggugah indera. Sesuatu yang abstrak itu, kemudian dituliskan dengan rangkaian kata yang memiliki estetika bunyi dan bermakna. Penyair adalah seseorang yang menangkap keabstrakan tersebut, dan kemudian membawanya ke tengah pembaca sebagai sebuah tawaran menikmati sesuatu yang sudah ada maupun sesuatu yang baru. Keberangkatan awal penyair mencari sesuatu yang abstrak dimulai dari yang paling dekat dengan dirinya, yaitu diri sendiri. Kita mungkin pernah merasa kalau orang-orang di sekeliling tidak ada yang bisa memahami diri kita yang sedang putus asa, kecewa, dsb. Dari sanalah kita berperan memahami diri kita sendiri. Begitu pun penyair, ia berangkat dari dalam diri, lalu temuan-temuannya itu bisa dikaitkan dengan ikhwal di luar atau di dalam dirinya. Penyair hanya memilih beberapa temuan-temuannya dari sekian banyak temuan. Temuan yang p...

Kita Menua Bersama Puisi

Lampu kota terbangun ketika kita datang suara-suara roda pula klakson teriak di luar sana. Sementara kita menunggu pesanan datang; satu cinta untukmu dan satu rindu untuk dibawa pulang. Di atas meja. Matamu menikam degupku yang kurahasiakan darimu. Sesaat setelah matamu terbenam dalam mataku, mendadak luruh dan beterbangan puisi-puisi yang menyangga pertemuan kita. Malam ini kau adalah sajak yang meniduri pelupuk mataku, menepuk cintaku di ujung pintu. Kau seperti ombak yang meninggi dan segera menghempas dan aku batu karang yang akan menyambut ombak rasa sakitmu. Malam ini. Di atas meja bundar kau berkisah tentang kasih. Lalu, beberapa menit kemudian pesanan datang "Cinta ini, untuk siapa?" katamu ketus. "Untukmu dan rindu yang akan kau bawa pulang." Gumamku. Kau segala definisi dalam puisi yang kucintai, segala  waktu yang memeluk tubuhku  ketika menguraimu jadi kalimat indah. Ah kau. Mengapa lama-lama sekali? Peganglah tanganku dan kita ...