Setiap penulis memiliki
jurus jitu masing-masing agar karyanya tersiar di media cetak dan online atau bahkan dibukukan. Ibarat
seorang pahlawan atau super hero yang akan mengalahkan musuh-musuhnya di medan
perang. Seandainya menulis sudah menjadi hobi, apalagi menjadi suatu kebutuhan,
keinginan untuk menyiarkan karya akan semakin besar. Tujuan menyiarkan karya
pun bermacam-macam seperti ingin mengetahui reaksi pembaca, dikenal banyak
orang, promosi diri, memperbaiki ekonomi, atau agar diakui sebagai penulis.
Lantas apa manfaat
menyiarkan karya ke media cetak dan online
bagi diri kita sendiri? Hal yang paling sederhana yaitu karya kita ikut
meragamkan bacaan, nama kita tercatat di suatu media, dan mendapat “pengakuan”
sebagai penulis dari pembaca. Ketika nama kita sering seliweran di media lokal
hingga nasional, tidak hanya soal
pengakuan sebagai penulis, tetapi kita juga mendapatkan honorarium dari media
yang menyiarkan mulai dari Rp 50.000 – Rp 750.000 atau bahkan lebih. Jadi, kamu
masih enggan mengirimkan karyamu ke media cetak atau online? Coba pikir-pikir lagi. Berikut adalah jurus jitu yang bisa
kita tiru agar tersiar di media cetak.
1.
Percaya
Diri
Modal awal mengirimkan
ke media adalah percaya diri. Yaps,
kita harus percaya diri kalau karya yang sudah kita tulis, mampu bersaing
dengan karya-karya lain. Saat pengiriman karya jangan peduli terhadap istilah
‘senior-junior’, istilah tersebut tidak ada dan bukan pula menjadi tolok ukur
untuk sebuah kesuksesan dalam menulis. Baiknya, kita harus tetap fokus dan
memberi keyakinan kepada karya yang telah dibuat, kalau ia akan berhasil di
mata redaktur. Kita sebagai penulisnya mesti yakin mampu menembus seuatu media
cetak dan online. Kalau kita tidak
percaya dengan diri sendiri, bagaimana pembaca yakin kalau yang dibacanya
adalah karya kita.
2.
Memahami
Karakteristik Media
Seorang pahlawan atau
super hero sebelum mengalahkan musuhnya ia memahami karakteristiknya terlebih
dulu, agar serangan yang dilancarkan tepat sasaran. Hal ini memang tidak mudah
dan memerlukan proses panjang. Begitu pun dengan menulis untuk dikirimkan ke media
cetak dan online. Setiap media
memiliki karakteristik karya yang berbeda, contohnya media cetak Republika dan media online Pojokpim.com yang
berkarakteristik relegiusitas. Jadi, karya yang akan dikirim ke media tersebut
hendaknya bernuansa relegius atau hubungan antara manusia dengan Tuhan. Sebagai
penulis yang cerdik kita harus tahu apa yang diinginkan media.
Bagaimana caranya kita
bisa memahami karakteristik media? Kuncinya adalah membaca karya-karya yang
pernah tersiar. Karena dengan membaca terus-menerus karya yang tersiar di media
yang kita targetkan, lambat laun kita tanpa sadar akan memahami
karakteristiknya sendiri. Kapan media cetak dan online menyiarkan karya sastra?Setiap
hari jumat sampai minggu banyak media cetak maupun online menyiarkan karya sastra.
3.
Matang
dan Orisinalitas
Puisi-puisi yang hendak
dikirim mestinya sudah matang dan siap hidang. Kita anggap pembaca adalah
seseorang yang sedang haus dan lapar, kita sebagai koki masakan dan minumannya.
Kita perhatikan betul bagaimana kematangan, bumbu, dan rasa. Sebagai koki kita tentunya tak ingin pelanggan kita kecewa, kita
ingin pelanggan puas atas pelayanan, dan kembali esok hari untuk masakan dan
minuman kita. Puisi yang matang adalah puisi yang eselesai. Jangan sesekali
mengirim puisi masih setengah jadi, apalagi belum jadi. Kirimlah ketika kita
betul-betul merasa yakin dan karya tersebut selesai dituliskan.
Terpenting dari yang
paling penting adalah karya milik sendiri. Jangan coba-coba mengambil karya
orang lain dan mengakui itu karyamu sendiri. Memang redaksi itu kadang-kadang
menerbitkan karya yang tidak orisinil, misalnya Pikiran Rakyat kasus puisi Taufik Ismail. Bukan berarti kurator tidak bekerja serius,
melainkan bisa jadi kurator ingin memberimu pelajaran dan mendapat hukuman
sosial. Ingat! Tidak ada pembaca yang bodoh. Tulis karya kita sendiri ya.
4.
Mencari
Kemungkinan dari Sudut Pandang Lain.
Karya-karya
yang terbit di media cetak atau online,
dapat dibilang karya yang memiliki kebaruan dalam segi pengucapan, tema, gaya,
dsb. Walaupun tema yang diangkat masih “itu-itu” saja. Kita harus memiliki
perspektif lain dalam memandag sesuatu, dan mengetahui tema-tema apa yang sudah
pernah terbit. Kita boleh mengulangi tema, tapi dengan cara yang berbeda. Redaksi
selalu mencari karya-karya yang dianggapnya segar dan tidak monoton. Mulai sekarang
beranilah eksplorasi imajinasi kita. Banyak mencoba. Banyak memulai sesuatu
kemungkinan.
Subang, 2020.
Comments
Post a Comment
Terima kasih atas apresiasinya.