Drama
bagi saya merupakan suatu pementasan
ide-ide atau gagasan yang timbul dari gejala sosial dan gejala batin yang
membutuhkan tempat/panggung sebagai wadah eksplorasi. Karena itu, tidak aneh
ketika kita menonton suatu pementasan drama secara tidak sadar imajinasi dan
perasaan dipermainkan oleh tokoh, latar, alur, dan bahasa. Bisa saja setelah
kita menonton suatu pementasan drama ada hal-hal yang mendadak kita ingat
kembali seperti masa kecil, masa pubertas, masa perjuangan bangsa Indonesia,
ataupun problematika yang sedang dan yang telah terjadi.
Dalam
naskah drama yang dipentaskan oleh teater Rintis mengangkat suatu kesaksian
seorang pembantu kepada jaksa ketika rumah majikannya dijarah oleh maling.
Cerita diawali si maling mengendap-endap masuk ke dalam rumah yang
ditinggalakan pemiliknya, si maling melemparkan batu, membuka pintu dengan
keras hingga menirukan suara kucing untuk memastikan apakah masih tersisa orang
atau tidak.
Namun, si maling sangat terkejut
ketika ada suara anjing yang mengonggong kepadanya lantas maling melompat
keluar. Si maling tak patah arang dia kembali lagi membawa sebungkus daging
untuk si anjing agar tidak lagi mengonggong kepadanya. Tapi ternyata setelah ia
melongok keluar anjing itu bukan anjing penjaga rumah tersebut melainkan anjing
yang sedang diajak jalan-jalan.
Si maling masuk dan sigap menjarah
segala barang-barang berharga. Namun saat menjarah barang konsentrasi si maling
terganggu, dengan kesal maling mengangkat telpon. Selepas mengangkat telpon si
maling bergegas keluar, tapi telpon kembali berbunyi, maling mengangkat
telponnya dan terkejut ternyata yang menelpon ke rumah tersebut adalah petugas
PLN yang sudah berada di depan pintu.
Si maling menjadi gusar, akhirnya si
maling memilih untuk berpura-pura menjadi si pemilik rumah, Pak sombu. Si
maling hanya mampu mengiyakan setiap pertanyaan yang mengarah kepadanya. Lalu
tiba-tiba ketika si maling terkejut bahwa petugas PLN mengaku sebagai Pak Sombu
yang asli. Dan si maling kemudian pingsan dipukul oleh asisten petugas PLN dari
belakang.
Barang-barang yang sudah dimasukkan
oleh si maling diambil oleh petugas PLN yang ternyata adalah komplotan penjarah
rumah-rumah kosong. Dan kurang dari 24 jam maling-maling tertangkap dan
dipenjara.
Ada lima tokoh yaitu maling, dua
petugas PLN gadungan, pembantu rumah tangga (sebagai narator cerita), dan
hakim. Watak tokoh maling cerdik, tapi bodoh dalam mengambil keputusan. Watak
tokoh petugas PLN pintar mengelabui dan pandai bercakap. Watak pembantu rumah
tangga dan hakim protagonis. Toko-tokoh yang dipentaskan dengan yang dalam
naskah ada perbedaan, letak perbedaannya jika di dalam naskah tidak ada tokoh
pembantu rumah tangga (penarator cerita) namun dalam pementasan ditambahkan
tokoh tersebut.
Tidak hanya tokoh unsur-unsur drama lainnya pun mengalami perubahan seperti dalam pengaluran, jika di naskah pengaluran ceritanya maju yaitu menceritakan proses maling menjarah rumah tersebut. Tetapi jika di pementasan, alur yang digunakan adalah alur mundur yaitu penonton seperti diajak melihat kejadia yang sudah terjadi oleh si narator.
Tidak hanya tokoh unsur-unsur drama lainnya pun mengalami perubahan seperti dalam pengaluran, jika di naskah pengaluran ceritanya maju yaitu menceritakan proses maling menjarah rumah tersebut. Tetapi jika di pementasan, alur yang digunakan adalah alur mundur yaitu penonton seperti diajak melihat kejadia yang sudah terjadi oleh si narator.
latar
tempat yang digunakan sangat sederhana dan hanya ada dua yaitu latar di dalam
rumah dan latar persidangan, kemudian menggunakan latar waktu siang dan malam.
Namun jika pada naskah ada beberapa latar tambahan yaitu jalanan tempat si
anjing dan berjalan-jalan dengan tuannya.
Sejak awal pementasan dimulai
sepertinya teater Rintis ingin mengajak membuka pikiran, perasaan dan kepekaan
penonton terhadap problematika yang sedang dan telah terjadi di Tanah-Air.
Pengemasan pementasan yang apik dan segar berhasil membawa penonton ke alur
cerita yang sebenarnya membosankan. Ada sihir, ada imajinasi dari musik dan
properti yang digunakan, perpaduan yang klop antara aksen, parodi dan peran.
Hal-hal itulah yang membuat pementasan tidak terasa garing.
Pada bagian pembuka seluruh
pemeran bersifat netral, artinya pemeran belum memerankan tokoh dalam naskah
tersebut. Lalu, asing-masing dari pemeran menyebutkan beberapa problematik yang
ada di Indonesia seperti Saya ingin jadi menteri yang tidak gonta-ganti
kurikulum, Saya ingin menjadi ibu rumah tangga yang tidak merebut lelaki orang.
Penyebutan problematik ini seolah penonton harus sadar, peka dan mau membuka
pikirannya kalau Indonesia sedang tidak baik-baik saja.
Pementasan naskah drama
"Maling" karya Putu Wijaya ini penuh dengan semiotik atau tanda.
Pertama, adegan si maling masuk ke dalam rumah kosong yang ditinggalkan
pemiliknya. Rumah kosong saya anggap sebagai petanda suatu negara atau bangsa
yang sudah dilupakan oleh masyarakatnya karena menganggap bangsa atau negara
lain lebih hebat dari Tanah-Air sendiri. Maling adalah orang yang ingin menghabisi
bangsa atau negaranya sendiri.
Kedua, adegan si maling
menirukan suara kucing yang kemudian dia bertengkar dengan anjing, lalu untuk
bisa mengelabui anjing si maling membawa sebungkus daging. Hal ini seperti
ingin menggambarkan kondisi Tanah-Air kita yang masih membudayakan suap kepada
aparatur pemerintah supaya tidak terjerat hukum atau pidana. Miris. Saya
gambarkan maling adalah rakyat biasa sedangkan anjing adalah aparatur negara.
Ketiga, ketika si maling
mengangkat telpon, dan kurang lebih dia berbicara seperti ini "Maaf, tidak
ada orang di rumah, saya pembantu di sini habis ngepel saya pergi," si
maling menyebutkan pembantu kata tersebut berhasil menampar ingatan saya
dan mendadak teringat oleh pahlawan-pahlawan bangsa kita yang sudah tiada yang
jasa dilupakan, serta yang masih hidup kehidupannya tidak diperhatikan. Inilah
kondisi yang nyatanya terjadi seorang majikan pasti tidak akan mengingat-ingat
siapa yang telag membersihkan, membuat nyaman dan merapikan rumahnya.
Terakhir, adegan ketika si
maling bertemu dengan petugas PLN gadungan yang juga sebagai maling, saling
tipu-menipu yang pada akhirnya si maling kalah oleh petugas PLN gadungan. Jika
dirunut, ini merupakan klimaksnya sadar atau tidak Tanah-Air kita ini banyak
yang ingin memiliki (penjajahan) baik dari rakyaknya sendiri ataupun oleh
bangsa lain. Yang akan terjadi adalah siapa yang paling hebat tipu-menipu akan
berhasil mendapatkan sesuatu yang sangat berharga dan Tanah-Air kita akan
kopong dan hilang.
Jadi selama pementasan
berlangsung sebenarnya kita sedang menonton keadaan Tanah-Air kita sendiri,
aksi saling suap-menyuap, maling-memaling, tipu-menipu, sampai jarah-menjarah.
Namun, dengan model pementasan yang diparodikan atau dilawakkan kita hanyut
dalam cerita dan menerima pesan yang secara tersurat saja.
Di tangan teater Rintis,
problematik Tanah-Air yang keras, menjadi lunak dan tak perlu dipermasalahkan
dengan serius. Kita perlu tertawa sejenak, dan yang perlu kita tertawakan
adalah permasalahan yang sepertinya tidak ada ujungnya atau tidak ada orang
yang mau menyelesaikannya. Lantas timbul pertanyaan kapan kita serius
menanggapi permasalahan yang ada? Ketika Tanah-Air kita sudah kopong dan
hilang, hahahaha.
Sihir yang berusaha
disampaikan berikutnya adalah bahwa kita tidak usah bersikeras dalam ikut
campur masalah, kalau pengetahuan dan wawasan kita belum siap, sebab masih ada
orang yang tepat untuk membereskan. Di akhir adegan ada seorang hakim yang
menjelaskan sebab perampokan itu terjadi dan mengapa orang-orang tersebut
merampok. Srkarang kita tinggal berdoa saja semoga hakim kita adalah orang yang
serius, aamiin.
Lepas dari makna, simbol,
pesan dan gaya pemarodian cerita. Tentunya, masih banyak yang harus diperbaiki
oleh teater Rintis dalam pementasan selanjutnya. Ada satu adegan membelakangi
penonton yaitu ketika pembukaan dialog saat bernyanyi menyebutkan cita-cita.
Walaupun semua pemeran menggunakan mimik dan gestur tubuh sebagai wujud
ekplorasinya. Namun sayang, tidak terlihat oleh penonton. Seolah hanya ada
ekpresi punggung dan suara sedangkan penonton butuh makna yang disampaikan melalui
mimik dan gestur tubuh yang jelas.
Properti dan busana yang
teramat sederhana, bagi saya sesederhana apapun suatu pementasan segalanya
harus didukung secara maksimal. Karena seumpama busana tidak cocok atau pas
dengan peran yang maka penonton sulit menebak peran apalagi yang tidak membaca
naskah. misalkan tokoh Jaksa, tokoh yang hanya menggunakan pakaian putih dan
celana panjang hitam. Sekilas penampialnya bagi saya adalah seorang yang
pencari lowongan kerja, bukan jaksa. Maksud saya, harus ada batasan peran
busana yang jelas antara jaksa dan yang lainnya. Kemudian penarator yang
berbusana pakai jas biru laluberganti daster, yang timbul adalah siapakah si
narator tersebut ibu rumah tangga, pembantu, pengurus kebun, atau istri jaksa?
Tidak jelas. Properti yang cuma ada meja kayu dan telpon rumah membingungkan
penonton untuk membedakan antara seting rumah dan kantor jaksa, sekali lagi
batasannya kurang jelas.
Adanya beberapa adegan yang
berbeda waktu tapi ditampilkan dalam satu waktu, misalnya pada adengan si
narator masuk ke arena lakon kemudian ada jaksa duduk di atas meja, narator
seperti bicara kepasa si jaksa. Tapi di sisi lain panggung si maling melakukan
suatu gerakan tanpa suara (pantomim) yang menurut saya tidak ada kaitannya
dengan apa yang dibicarakan oleh si narator sebab si maling hanya
menggerak-gerakkan tangammya saja menekuk badan ke kiri dan kanan saja, tidak
ada ditemukan relasi yang jelas.
Terakhir, para aktor belum
bisa memerankan tokoh. Yang saya lihat adalah para aktor hanya berpura-pura
menjadi orang lain dan mengucap ulang kalimat yang ada di dalam naskah. Karena,
saya tidak bisa membedakan diri seorang aktor
yang sedang berperan dan tidak berperan, sama saja. Mungkin, para aktor
belum mampu menguasai panggung dan menaklukkan mata para penonton, hal ini yang
mendasari mereka terlihat hanya berpura-pura bukan berperan. Serta masih ada
beban ketakutan kegagalan, yang artinya para aktor belum bisa bebas dan
menjalankan perannya dengan ikhlas.
Dari semua spekulasi dari
saya, teater Rintis harus menambah jam latihan dan jam terbang. Supaya mampu
lebih baik lagi dan lebih maksimal di pementasan yang lain. Segala faktor
pendukung pementasan mesti benar-benar diperhatikan tidak asal-asalan. Karena
penonton tidak mau rugi, penonton tidak mau tahu keadaan yang ada di luar dan
di atas panggung. Penonton hanya ingin menonton pertunjukan yang mampu
menggerakkan hatinya ke hal-hal yang berada di luar hatinya. Misalkan, dalam
pementasan tersebut ada amanat jaga anak dan didik anak dengan baik yang disampaikan
secara verbal, maka hasil dari yang ditontonnya penonton secara tidak sadar
akan melakukan hal-hal untuk menjaga dan mendidik anaknya.
Tidak ada pementasan yang
buruk, kecuali pementasan tersebut untuk dipentaskan tanpa ada tujuan dan
dampak yang besar bagi penonton. Dan tak ada aktor yang hebat sebelum merasakan
sakit dan terus berlatih untuk menjadi hebat. Terima kasih.
Comments
Post a Comment
Terima kasih atas apresiasinya.