Skip to main content

ANTOLOGI PUISI MENCATAT DEMAM BERADA DI JALAN RAMAI

pada batas rasa kehilangan ini,
aku biru.
PUISI seperti sebuah arsip dari sesuatu yang abstrak ke bentuk yang konkret atau bentuk yang dapat menggugah indera. Sesuatu yang abstrak itu, kemudian dituliskan dengan rangkaian kata yang memiliki estetika bunyi dan bermakna. Penyair adalah seseorang yang menangkap keabstrakan tersebut, dan kemudian membawanya ke tengah pembaca sebagai sebuah tawaran menikmati sesuatu yang sudah ada maupun sesuatu yang baru.
Keberangkatan awal penyair mencari sesuatu yang abstrak dimulai dari yang paling dekat dengan dirinya, yaitu diri sendiri. Kita mungkin pernah merasa kalau orang-orang di sekeliling tidak ada yang bisa memahami diri kita yang sedang putus asa, kecewa, dsb. Dari sanalah kita berperan memahami diri kita sendiri. Begitu pun penyair, ia berangkat dari dalam diri, lalu temuan-temuannya itu bisa dikaitkan dengan ikhwal di luar atau di dalam dirinya.
Penyair hanya memilih beberapa temuan-temuannya dari sekian banyak temuan. Temuan yang paling mewakili dirinya saat itu dan  paling berkesan. Buku antologi puisi Mencatat Demam[1] (2018) karya Willy Fahmi Agiska (selanjutnya saya sebut Willy) merupakan arsip-arsip yang mewakili sesuatu yang abstrak seperti murung, gelisah, cinta, gelisah, kalut, dsb. Terhitung hanya ada 22 puisi yang dipilih Willy dalam buku pertamanya ini, yang dianggap dapat mewakili dirinya.
Aku yang demam dan biru
Melihat bentuk fisik antologi puisi Mencatat Demam (selanjutnya disingkat MD) dengan warna sampul yang gelap, suram dan kelabu, ditambah dengan sampul bergambar seseorang yang memejamkan mata dan seolah sedang merasakan sakit. MD seakan menggiring interpretasi pembaca tentang hal-hal yang tidak menyenangkan. Sebagaimana pembuka tulisan ini dengan nukilan puisi “Sajak Biru” (hlm. 3), sebuah puisi yang cukup membuat bayang-bayang keadaan keadaan demam yang sesungguhnya, seperti mengigil dan depresi.
Dalam puisi “Sajak Biru” dapat kita temukan diksi yang memiliki kolokasi tentang kemurungan. Puisi pertama ini seakan tidak memberikan celah kebahagiaan bagi aku lirik ataupun kita (pembaca). Hentakan pertama yang menyaratkan di puisi-puisi lainnya pun menyuarakan hal-hal serupa. Diksi-diksi yang berkolokasi kemurungan tersebut ialah ‘sepi’, ‘kehilangan’, ‘biru’, ‘pulang’, ‘terkapar’ dan ‘mataku’.
Diksi ‘sepi’ menggambarkan sebuah suasana ketika segalanya kehilangan bunyi atau sesuatu yang terasa tak ada. Aku lirik merasa ‘kehilangan’ dengan segalanya yang ia dapat pertahankan, dan ketika pelan-pelan menghilangan aku lirik menjadi sangat terpukul atau ‘biru’. Hanya bayang-bayang yang ‘pulang’ ke dalam kepalanya. Pada akhirnya aku lirik terkepung oleh kesepian, dengan dinding yang ‘mengigil’ sebagai penjara. Aku lirik hanya ‘terkapar’meratapi segalnaya, dan diksi ‘mataku’ menyimbolkan jika kemurungan itu hanya ia yang merasakannya.   
Begitulah kira-kira pintu masuk puisi Willy, melalui kata-kata yang dapat dijadikan sebagai tanda. Hasan Aspahani mengatakan posisi penyair lebih sering atau bahkan selalu sebagai pemberi tanda. Lewat sajak-sajaknya, si penyair melepaskan tanda-tanda yang ia susun dalam puisinya, agar ditangkap oleh pembaca[2]. Ketika ruang gelap puisi sukar dimasuki, pastilah ada tanda yang sengaja ditinggal penyair melalui kata. Sebab penyair adalah seorang yang pandai bermain dengan tanda, dan kita mesti melihat celah tanda yang diberikannya.
Apakah pengalaman hidup penyair sangat berbeda dengan kita yang bukan penyair? Jelas tidak. Penyair tetaplah individu biasa yang mengalami kesedihan, kebahagiaan, makan, minum, dsb. Namun yang membuat segalanya terasa asing dan beda adalah sudut pandang atau cara kita menyikapi sesuatu yang datang dan pergi itu. Simbol atau tanda berfungsi untuk menjadi sesuatu yang abstrak menjadi konkret, dan yang konkret menjadi lebih konkret.
Lantas bagaimana jika kita gagal membaca tanda yang dimaksudkan penyair? Itulah puisi. Sesuatu yang dimaksudkan oleh penyair dapat menjadi hal yang berbeda. Puisi menciptakan kemungkinan-kemungkinan tafsir yang berbeda-beda. Jika saya bayangkan hal apa yang memantiknya menulis puisi “Sajak Biru”, yakni kenangan tentang lanskap laut. Laut bukanlah hal yang terasa asing dalam kehidupan kita. Laut oleh Willy dibawa sedekat-dekatnya dengan kita.
Diksi ‘biru’ pada judul puisi, cukup mengacu kepada pantai atau hamparan laut. Sedang kata’sajak’ adalah metafor dari sesuatu yang ditangkap indera. Seandainya judul tersebut tidak menggunakan metafor mungkin akan jadi begini ‘Laut Biru’, jelas tidak menarik dan tidak ada daya gugah.  Dalam puisi “Sajak” (hlm. 5) memantik ingatan kita  tentang pengalaman mendengarkan dan melihat seseorang membacakan sebuah puisi.Tetapi bukan puisi namanya kalau tidak mendramatisir sesuatu yang ditangkap penyair dan ditautkan dengan hal-hal lain.
Seseorang/ membacakan sebuah sajak/ seperti jerit hutan-hutan kesepian,/deru mesin di jalan-jalan,// gemuruh rumah-rumah terbakar,/ dan tangis manusia habis kata.//. Satu peristiwa sederhana dalam puisi ini, melahirkan sederet metafor yang menyakitkan, gelisah, dan pilu. Coba bayangkan bagaimana gelisahnya seseorang yang dihadirkan dalam puisi, ketika rumah yang ia miliki terbakar? Segala seakan-akan menjauh dari harapan. Kegelisahan itu akan terus menggaung sebagaimana ‘jerit hutan-hutan kesepian’. Semakin sepi semakin dekat gaungnya, riuh di dalam kepala. Pada akhirnya kita menyerah ‘dan tangis manusia habis kata’. Aku lirik yang hadir secara implisit merasakan apa yang diarasakan seseorang tersebut. Ia seakan-seakan menjadi orang yang akan menerima kesedihan selanjutnya, /dan dalam kepala,//sajak pun jadi anjing-anjing galak// yang liurnya kental,// menetas bagai/ ajal./
Penyair adalah orang yang harus yakin bahwa apa yang ia bicarakan dalam puisinya berelevansi dengan sebanyak-banyaknya ihwal. Setidaknya bisa dibuat penting oleh pembaca[3]. Dua puisi di atas setidaknya merupakan hal yang begitu dekat dengan kita. Penyair dengan puisinya menyadarkan kita, ada sesuatu yang tidak kita acuhkan selama ini, menjadi suatu bagian yang berharga. Dan sekali lagi, penyair adalah seorang yang menangkap sesuatu di sekitarnya.
Semakin ke dalam beberapa puisi lainnya, kita memasuki wilayah yang lebih intens terhadap monolog-monolog aku lirik. Dalam 22 puisi yang dipilih Willy lebih banyak duduk sebagai orang pertama, baik itu dimunculkan secara eksplisit maupun implisit. Puisi-puisi tersebut seperti suara-suara lirih sebagai pengaduan dan pengakuan aku lirik. Sebagaimana judul yang dipilihnya, semakin terbawa dalam kondisi yang tidak menyenangkan seperti halnya demam. Ketika demam kita akan mengingat peristiwa-peristiwa terbaik perlahan menjauh, dan seakan-akan maut sudah menunggu kita di sisi ranjang. Apa yang bisa kita lakukan, selain mengadu dan mengakui diri kita sendiri? Dalam  kondisi seperti itu, tidak mungkin kita menyombongkan diri dan bersengketa soal takdir.
Puisi “Rajah Batu” (hlm. 4) aku lirik ditempatkan pada posisi yang pasrah, lemah, dan menyadari kekuatan Tuhan. Manusia merupakan individu yang tidak pernah merasa puas atas pencapaian, atau kadangkala manusia lupa jika ada tangan Tuhan bekerja dalam kehidupannya. Sebab itu, puisi “Rajah Batu” dibuka dengan larik  /Tuhan, aku batu./. Batu dianggap sebanding dengan sikap dan perilaku manusia.
Dalam kehidupan sehari-hari kita sering mendengar kata ‘batu’ untuk mengungkapkan seseorang yang sudah diberi nasihat atau larangan, tapi tetap saja melalukan kesalahan yang sama. Lalu diakhir semua itu hanyalah sebuah penyesalan dan pengakuan-pengakuan kesalahan /Pada kata-kata yang hilang ucap/ kutemukan diriku sebegini kaku./. Tetapi, Aku lirik menyadari penyesalan dan pengakuan kesalahannya itu tidak diperlukan lagi Tuhan, /Teriakku hanya milik palumu/ yang selalu meretak-retak aku/, namun ia tetap membutuhkan Tuhan dan segenap ampunan /dan kembali kusampaikan kepadamu/sebagai doa atau semacam aplogia/ atas seluruh cinta yang remaja./.
Aku lirik di hadapan Tuhan benar-benar tidak berdaya, tidak punya kuasa apapun. Di titik terendah penyesalan, ketika segalanya telah diutarakan, hanya sebuah tangis dan tangis. Aku lirik hanya makluk lemah dan /Tuhan, aku batu./ Dari dingin juga angin/ yang mengental:/ di mana aku berasal.//. Kata ‘dingin’ dan ‘angin’  seperti kiasan bahwa aku lirik berasal dari sesuatu yang tidak ada harganya, jika berada di hadapan Tuhan semata.
Puisi lain yang menggambarkan tentang penyesalan-penyesalan antara manusia dengan Tuhan di antaranya, “Apologia Tengah Malam” (hlm. 16) /Tiba-tiba aku telanjang dan dungu/ di bawah tatap lampu-lampu/ setelah kisah-kisah kemualiaanmu./..., “Mencatat Demam” (hlm. 11-12) /Tuhan adalah bisik-bisik./ Dan aku insan yang tertidur/ menyimaknya./..., dan “Aku Ingin Tidur” (hlm. 27-28) /Aku ingin tidur/ di atas sajak-sajak/ yang membangunkan seseorang/ dari kesedihan dan putus asa./
Terlepas dari tafsir-tafsir makna, Willy merupakan penyair yang memperhatikan efesiensi diksi dan bunyi. Sejumlah kata dimanfaatkan untuk mengucapkan sesuatu, dan membangun pergolakan yang kompleks. Tidak jarang penyair yang berada di jalan lirik seperti ini, kerap melakukan bongkar-pasang kata, tujuannya agar mendapatkan sebuah pengucapan yang indah dan menjaga keutuhan rima.
Seperti pada beberapa puisi-puisi yang termaktub dalam MD yang menunjukkan rentang masa bongkar-pasang kata yang cukup lama, yakni titimangsa 2012-2017 (“Sajak Biru”), 2013-2017 (“La Llorona”), 2013-2018 (“Rajah Batu”, “Sajak”,  dan “Si Gimbal”), 2014-2018 (“Mencatat Demam”), 2014-2015 (“Jam Pasir”), 2016-2018 (“Madah Mencintaimu”), 2017-2018 (“Jika Aku Tak Jatuh Cinta”, “Aku Ingin Tidur”).
Mari kita cermati larik-larik pada puisi “Si Gimbal” (hlm. 8) yang memiliki kurun waktu hampir 6 tahun.  /Pada rambutku/ hari-hari kian berjejal/ kusut dan gatal-gatal.// Waktu mungkin telah menetaskan kutu-kutu/ yang pelan-pelan merenggutmu/ dari pikiranku.// Aku mau lepas kepalaku.// Pergi ke malam-malam/ ke bulan, ke matamu.// Kemudian kulihat diriku/ juga derita/berjalan bersama-sama/ saling menertawakan/ sepuas-puasnya.//
Ada dua diksi yang agaknya terasa tidak biasa dalam puisi-puisi lirik yaitu ‘gatal-gatal’ dan ‘kutu-kutu’. Namun ketidakbiasaan itu menjadi sangat lazim atau tidak aneh dan tidak dibuat-buat, karena tertutupi oleh bunyi rima yang saling berasosiasi. Di sinilah fungsi rima muncul sebagai penyimbang antara bunyi kata yang terasa aneh dengan kata yang sudah menjadi konvensi bersama. Selain itu, rima hadir untuk membantu membangun suasana-suasana tertentu dalam teks.
Pada larik-larik awal rima yang muncul adalah rima kokofoni atau rima yang memiliki bunyi yang tidak merdu. Kokofoni dalam puisi tersebut menyatakan keadaan yang kacau, ketika hari semakin hari berganti tetapi aku lirik belum sempat menyusun rencana atau bahkan sebuah mimpi dan segalanya berjalan dengan cepat. Sedangkan larik-larik lain sampai pada larik penutup yakni efoni atau rima yang memiliki kombinasi bunyi yang merdu. Efoni menyatakan suasana sikap keterbukaan atau sebuah penerimaan dari apa yang datang dan pergi. Aku lirik ingin seluruh hal yang tidak menyenangkan dapat berjalan seiring dan tidak melulu dieluh-eluhkan sebagai sesuatu yang sangat mengecewakan.
Dari beberapa rentang waktu pada titi mangsa yang cukup lama itu, seperti sebuah petunjuk pribadi Willy sebagai penyair kehadapan pembaca dalam buku pertamanya ini. Pertama, ia bukan penyair yang cepat puas setiap puisinya berhasil digubah dan sekaligus menandakan penyair yang ragu jika puisinya sudah sampai pada uncak estetika. Kedua, penyair yang terus menggali kemungkinan kata di luar konvensi puisi lirik masuk ke dalam puisinya. Ketiga, Willy adalah seorang deklamator, jadi tidak menutup kemungkinan kalau ia membayangkan bunyi puisinya saat dibacakan.
Anugerah Hari Puisi Indonesia 2019
Pemantik saya bersemangat membuat tulisan ini adalah Kemenangan Willy Fahmi Agiska dengan buku pertamanya Mencatat Demam (2018) dalam sayembara Anugerah Hari Puisi Indonesia (HPI) 2019. Walaupun saya yakin tulisan ini tidak seramai berita kemenangan Willy, dan tidak akan menyamai rupiah yang didapatkannya.
Selama beberapa minggu setelah pengumuman pemenang buku puisi terbaik Anugerah HPI 2019 pada bulan Oktober 2019, ramai muncul pemberitaan kemenangan Willy  di media sosial, grup-grup WhatsApp, dan diskusi-diskusi sastra. Responsnya pun bermacam-macam mulai dari terkejut, bangga, heran, tidak wajar, atau bahkan biasa saja. Lebih menariknya lagi ketika muncul sebuah kritik menukik yang dilayangkan Narudin Pituin dalam akun Facebook miliknya, kemudian dibalas kritik tersebut oleh Yana Risdiana.
Setiap ditetapkan seseoarang sebagai peraih penghargaan di dalam ataupun di luar kesastraan, pro dan kontra selalu muncul di mana-mana Apalagi jika penetapan tersebut bukan dari sebuah angka mutlak, seperti perlombaan bola, voly, atau olimpiade matematika. Penetapan peraih penghargaan dalam sastra, memang tidak ada acuan yang mutlak, dan tidak berdasarkan angka, maka wajar saja jika kontoversi dan konsekuensi juri bermunculan.
Kita tetap perlu mengapresiasi kerja juri dalam penetapan para menenang, sebab di antara “kualitas buku puisi yang ikut Sayembara Buku Puisi Yayasan Hari Puisi Tahun 2019 ini, relatif sejajar dan tidak ada satu buku puisi yang dipandang cukup menonjol”[4] juri harus melihat lebih teliti lagi melihat keunggulan karya-karya meskipun keunggulan dari satu karya dengan karya lain sangat tipis. Kemudian dari hasil kerja itu ditetapkan Mencatat Demam sebagai Buku Puisi Terbaik Anugerah Hari Puisi Indonesia 2019.
Ada satu poin yang perlu kita soroti dari 4 poin kriteria penilaian lainnya, yaitu kebaruan (inovasi). Mengapa demikian? Karena karya-karya lain pasti memiliki keterbacaan (legibilitas), kepaduan (koherensi), kedalaman (kompleksitas), apalagi keaslian (orisinalitas). Dengan ditetapkannya MD berarti dengan kata lain puisi-puisi Willy memiliki kebaruan-baruan yang segar, ketimbang karya lainnya seperti Buka Pintu Kiri (Afrizal Malna), Jikalau Laut Dinyalakan (Abdul Kadir Ibrahim), dan penyair lainnya.
Puisi lirik merupakan puisi yang paling banyak digarap lahannya. Penyair yang berada di jalan ini sebisa mungkin menciptakan puisi yang tidak terjerumus pada keklisean. Willy dianggap berhasil lepas dari keklisean tersebut, walaupun piranti atau bahan yang digunakannya untuk mengucapkan sesuatu sudah banyak digarap penyair lain seperti laut, hutan, jurang, mercusuar, omba, perahu, dsb. Atau misalnya  puisi “La Llorona” (hlm. 9-10) yang menautkan nama Frida Kahlo, tokoh tersebut sudah pernah dipuisikan oleh beberapa penyair sebut saja salah satunya Goenawan Mohamad berjudul “Untuk Firda Kahlo”.
Penyair yang baik adalah pencipta kemungkinan-kemungkinan ragam bahasa di dalam puisinya[5]. Meskipun piranti atau bahan puisinya cenderung itu-itu saja, Willy mampu mencipatakan kesegaran bahasa dan kiasan dari sudut-sudut yang lain, yang menggugah pembaca yang membaca berulang-ulang, dan mengutipnya di berbagai media sosial.
Sebetulnya ada dua hal mengapa menetapan Willy sebagai peraih Anugerah Buku Terbaik Hari Puisi 2019, mengejutkan dan panas dalam beberapa golongan. (1) Jumlah puisi yang dipilih Willy yang termaktub dalam MD hanya 22 puisi. 22 puisi tersebut adalah puisi lirik yang hemat kata, tidak seperti puisi naratif yang panjang lebar. Dengan sejumlah 22 puisi tersebut dapat meraih penghargaan. (2) Jumlah rupiah yang didapat Willy tidak sedikit. Siapa yang tidak sensitif ketika bersingungan dengan rupiah? Seandainya hadiah yang didapat Willy hanya sebuah piagam dan plakat, atau bahkan sebuah tepuk tangan serempak dalam satu  Graha Bakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, pasti tidak akan sepanas apa pun.
Lalu untuk menjaga tidur kita tetap nyaman dari pertanyaan “Mengapa Willy bisa meraih Anugerah Buku Terbaik Hari Puisi Indonesia 2019?”. Maka dapat kita jawab begini, karena telah merelakan hidupnya untuk menjadi penyair daripada menteri[6].
 Subang, 2019


Daftar Bacaan
[1] Willy Fahmi Agiska. 2018. Mencatat Demam. Ciamis: Kentja Press
[2] Hasan Aspahani. 2018. Menyentuh Jantung Bahasa Meraih Hati Puisi.Yogyakarta: Penerbit JBS. Hlm. 10.
[3] Ibid. Hlm. 53
[4] Hari Puisi. Pertanggungjawaban Juri Sayembara Buku Puisi HPI 2019. Diakses melalui http://www.haripuisi.info/2019/10/pertanggungjawaban-juri-sayembara-buku.html, pada tanggal 20 Desember 2019.
[5] Aspahani, Hasan. Op. cit. Hlm. 27
[6] Pringadi As. Kebudayaan dalam Bungkus Tusuk Gigi: Pidato Kebudayaan Seno Gumira Ajidarma. Diakses melalui http://catatanpringadi.com/kebudayaan-dalam-bungkus-tusuk-gigi-pidato-kebudayaan-seno-gumira-ajidarma/amp/, pada tanggal 21 Desember 2019

Comments

Post a Comment

Terima kasih atas apresiasinya.

Popular posts from this blog

Analisis Buku Teks Bahasa Indonesia Kelas XI Kurikulum 2013

ANALISIS BUKU TEKS BAHASA INDONESIA KELAS XI KURIKULUM 2013 Diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah Telaah Kurikulum dan Buku Teks Dosen pengampu Slamet Triyadi S.Pd.,M.Pd. Disusun oleh: kelompok   (4D/ PBSI) Eni Nadia Pega 1610631080062 Irvan Syahril 1610631080093 Kiki Dwi Yulianti 1610631080100 Novia Windi Hastuti 1610631080142 Siska Krisnawati 1610631080191 Yulan Nurul Istiqomah 1610631080226 PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SINGAPERBANGSA KARAWANG 2018 KATA PENGANTAR Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas terselesaikannya makalah “Analisis Buku Teks Bahasa Indonesia Kelas XI Kurikulum 2013”. Semoga makalah ini menjadi makalah yang bermanfaat bagi orang-orang yang membacanya. Tidak lupa kami juga mengucapkan banyak terima kasih atas bantuan dari pihak yan...

Kita Menua Bersama Puisi

Lampu kota terbangun ketika kita datang suara-suara roda pula klakson teriak di luar sana. Sementara kita menunggu pesanan datang; satu cinta untukmu dan satu rindu untuk dibawa pulang. Di atas meja. Matamu menikam degupku yang kurahasiakan darimu. Sesaat setelah matamu terbenam dalam mataku, mendadak luruh dan beterbangan puisi-puisi yang menyangga pertemuan kita. Malam ini kau adalah sajak yang meniduri pelupuk mataku, menepuk cintaku di ujung pintu. Kau seperti ombak yang meninggi dan segera menghempas dan aku batu karang yang akan menyambut ombak rasa sakitmu. Malam ini. Di atas meja bundar kau berkisah tentang kasih. Lalu, beberapa menit kemudian pesanan datang "Cinta ini, untuk siapa?" katamu ketus. "Untukmu dan rindu yang akan kau bawa pulang." Gumamku. Kau segala definisi dalam puisi yang kucintai, segala  waktu yang memeluk tubuhku  ketika menguraimu jadi kalimat indah. Ah kau. Mengapa lama-lama sekali? Peganglah tanganku dan kita ...