Penyair atau siapa pun memiliki suatu hal yang membuat dirinya tergerak untuk menulis. Ungkapan Sitor Situmorang dalam esai Angkatan 45, “Konsepsi Seni Angkatan 45” Siasat, nomor 3 tahun 1949, bahwa kegelisahan tanda hidup. Kegelisahan dianggap sebagai motor penggerak untuk terus menciptakan, kegelisahan diri, kegelisahan lingkungan sosial, maupun kegelisahan terhadap tuhan.
Tak ada kata pensiun bagi penyair selama kegelisah masih tumbuh sumbur dan nyawa belum melayang. Sebab penyair tidak akan bisa lepas dari hal-hal yang melingkupi kehidupannya. Karena itu pulalah kita kadang dapat merasakan suasana kegelisahan yang cukup kuat dalam suatu karya sastra khususnya puisi. Jika geliat kegelisahan semakin besar maka daya cipta itu pun semakin kuat, sejatinya penyair ingin suara-suaranya didengar pembaca.
Penulis juga sadar, tulisan esai pendek ini dimotori oleh kegelisahan yang terus tumbuh subur . Ketika mengetahui kalau ternyata penyair yang termaktub dalam antologi Karawang Abadi dalam Puisi diperbolehkan mengikuti lomba tulis esai apresiasi ini. Seharusnya penyair yang termaktub tidak diperbolehkan menjadi sebagai peserta tulis esai apresiasi. Penyair terlihat seperti menguliti dirinya sendiri, membicarakan dan menilai diri dihadapan cermin kosong.
Persoalan ini mungkin dianggap sederhana dan sepele. Tapi walau bagaimana pun penyair harus menghargai pembacanya, penyair harus menganggap adanya pembaca. Sampai titik ini siapa yang harus disalahkan, panitia atau penyair yang termaktub? Apa pun alasannya penyair tetap menjadi bagian dari tubuh antologi tersebut dan harusnya panitia menyadarinya. Terlepas dari kegelisahan, penulis tetap berusaha mengupas puisi-puisi yang memiliki kegelisahan antara penyair, diri, dan kota.
Dalam kepala penyair kegelisahan yang telah dikontemplasikan matang akan menghasilkan sajak utuh dan luar biasa. Penyair berusaha mengaitkan unsur-unsur yang melingkup proses kreatif menulis seperti keadaan sosial, suasana batin, dan hubungan antar sesama, menjadi kesatuan bangun yang padu. Penyair diberi ruang kebebasan menggunakan piranti puitika untuk mencapai tingkatan klimaks terhadap gagasan yang ia rancang.
Antologi Karawang Abadi Dalam Puisi seperti sehimpun kegelisahan dan semangat hidup yang dirasakan ataupun pengamatan yang dilakukan penyair. Saya akan mencoba mencari dan mengupas puisi-puisi yang memiliki kegelisahan tersebut. Mari kita mulai dengan penggalan puisi karya Dillah Rismawati ini.
citarum dulu dan kini tak lagi sama
sepuluh tahun lalu
suara-suara canda itu masih terdengar merdu
nyanyian bambu masih terdengar syahdu
gemericik air masih berdendang sendu
(“Citarum, 2010”, halaman 19)
Penyair nampak ingin membuka pandangan pembaca dan putar balik pada masa lalu. Sebelum peradaban begitu maju seperti sekarang, Citarum merupakan sumber kehidupan. Segala aktivitas yang menyenangkan bisa dimulai dari Citarum dalam larik /suara-suara canda itu masih terdengar merdu/, dan sebelum sebagian manusia lupa menjaga kelestarian lingkungan sungai Citarum.
Penggalan paragraf pertama tersebut cukup jelas, kegelisahan yang dianggap paling utama oleh penyair adalah ketika alam tidak lagi diperlakukan sebagaimana mestinya. Menggambarkan sungai Citarum sebagai objek merupakan suatu yang sangat cerdik dilakukan oleh Dillah Rismawati sebagai penyairnya. Sebab ketika hampir semua puisi mengangkat kegelisahan dalam diri yang bersifat personal, Dillah Rismawati muncul membawa suara penyadaran lingkungan sekitar atau sastra ekologi.
Latar sangat penting dalam sajak karena memberikan suasana yang sangat diperlukan dalam usaha kita menafsirkan puisi .
Latar membantu pembaca mudah mengasosiasikan sajak dengan konteks kegelisahan yang ada di dalamnya. Sajak karya Fuad Farizi yang berlatar Karawang dan segala perkembangan industri 4.0. Mari simaklah paragraf awal yang bagi saya merupakan kegelisahan utama yang membawa penyairnya ke dalam sebuah puisi.
sahabatku bercerita dari dirinya
tentang apa yang dilihatnya
untuk buminya, semua tulus bercerita
sekelumit kesah tersirat dari sebuah kata
lihatlah bola matanya yang malang
terlihat gedung-gedung megah, tegak menjulang
seribu pabrik tak terkalahkan, kokoh, dan kuat
(“Dari Seorang Sahabat”, halaman 31-32)
Penyair sangat kuat menggambarkan latar Karawang yang kian maju. Seiring bergulirnya waktu Karawang tidak bisa lepas dari modernitas yang amat kapitalis. Penyair menyadari bahwa kota yang sedang diamatinya mengalami banyak perubahan, melalui aku lirik gambaran-gambaran tersebut dibuat seperti cermin kenyataan dan tamparan keras kepada pemabaca.
Frasa “gedung-gedung megah” dan “seribu pabrik tak terkalahkan” menggambarkan situasi kegelisahan aku lirik melihat pembangunan-pembangunan yang sedang terjadi. suatu keadaan yang miris dan seakan manusia bertindak semaunya. Kalau kita cermati sajak tersebut dan dikomparasikan dengan keadaan saat ini, memiliki kesamaan.
Karawang upahnya naik,
masih banyak buruh tercekik.
Karawang upah paling tinggi,
bagi sebagian itu hanya mimpi.
Karawang tandang makalang
Sekarang hampir hilang.
(“Buruh Karawang: sesak oleh pendatang”, halaman 40)
Setelah kemajuan demi kemajuan dialami oleh Karawang, mau tidak mau Karawang dan penduduk aslinya bersiap menerima serbuan para pendatang. Fenomena sosial inilah yang berusaha diangkat oleh Lukman Nulhakim dalam puisinya di atas, ia pun tentunya telah sadar mengangkat hal-hal yang teramat dekat dengan lingkungan sekitar merupakan bagian terpenting, untuk menyelamatkan kesadaran kelangsungan hidup.
Karawang tandang makalang//sekarang hampir hilang// larik ini seolah menghayutkan pembaca kepada keadaan Karawang ketika semakin banyak orang-orang berdatangan. Kegelisahan yang mencuat dan fenomena yang tak bisa terbendung lagi. Akibatnya ketenteraman dan kesejahteraan Karawang hanya bisa dirasakan oleh sebagian kalangan atau bahkan dirasakkan oleh pendatang /Karawang upahnya naik,//masih banyak buruh yang tercekik/
Keyakinan para penyair romantik menempatkan dirinya ke tengah masyarakat menyatakan penyair adalah pembawa suara tuhan. Pernyataan penyair romantik tersebut seoalah segalanya tidak bisa merasakan dan mendengar alam dan lingkungan sosial, penyairlah orang yang suaranya akan berpengaruh terhadap kehidupan. Sajak karya Meisa Nuda Rahma sesuai dengan pernyataan di atas, bacalah penggalan sajaknya secara seksama.
kawanan air memekik menghantam kebisuan
mengalir deras dalam kali tanpa nama
menjalar di antara dua tanah gersang
di ujung timur Cilamaya kulihat pekat
desir air yang merengek
di atasnya ramai sampah berlalu lalang
(“Kali Hitam Cilamaya”, Halaman 42)
Apa yang ingin dikatakan oleh penyair sudah cukup terang, bahwa ada suatu kali atau sungai yang tidak terawat dan banyak sekali sampah sehingga warnanya berubah menjadi hitam pekat. Penyair telah mencapai keklimaksan menyampaikan suara-suara yang terlewatkan banyak orang.
Apresiasi sama halnya dengan memberikan nilai penghargaan kepada sebuah karya yang patut dihargai. Ketiga karya yang saya bahas merupakan karya yang dianggap memiliki nilai dan harga kegelisahan yang cukup kuat sebagai pondasi awal terbentuknya sajak tersebut. Dan terlihat dari kegelisahan terhadap suatu yang sama dan semangat hidup yang sama juga, para penyair cerdik mengolahnya dan membawakan ke khalayak banyak, khususnya Karawang.
Serpihmipi, 2018.
Comments
Post a Comment
Terima kasih atas apresiasinya.