Skip to main content

Membaca Matias Menerawang Rote

Karya sastra di tengah masyarakat bukan sekadar hiburan semata, tetapi sekaligus pula sebagai cerminan kehidupan. Walau bagaimana pun karya sastra yang diciptakan pengarang tidak akan lepas dari segala sesuatu yang melingkupinya. Bahasa, budaya, adat istiadat dan kebiasaan masyarakat akan memengaruhi penciptaan karya sasrta.
Berkaca terhadap cerpen "Matias Akankari" karya Gerson Poyk (Gerson), bahwa karya sastra mampu mengangkat dua sosiologi masyarakat yang berbeda, sosiologi masyarakat Irian Jaya dan Jakarta. Kedua sosiologi ini merupakan suatu yang sangat kontras, bagaimana "Cawat" dipandang hidup high class masyarakat Irian Jaya, tetapi bagi masyarakat Jakarta merupakan hal yang lumrah.
Gerson melalui tokoh Matias merepresentasi sosiologi masyarakat Irian Jaya yang belum bisa menggunakan bahasa Indonesia, tidak terbiasa modernitas, dan terganggu dengan hegemoni budaya di Jakarta. Menurut Gerson mungkin ini yang akan terjadi apabila sosiologi masyarakat yang masih asri berada di masyarakat glamor modrn.
Hubungan antara karya sastra dan sosiologi masyarakat adalah saling merawat. Artinya karya sastra mampu menjadi dokumentasi ketika suatu entitas akan ditinggalkan dan sosiologi masyarakat mempertahankan karya sastra  tetap ada dengan menstimulus respons pengarangnya. Mengapa "Matias Akankari" ada? Karena pengarang merespons sosiologi masyarakatnya, sedang karya sastra mendokumentasikan hal tersebut.
Bertolak dari latar belakang pegarangnya, Gerson merupakan wartawan yang lahir di Pulau Rote, Timor,  tahun 1931. Selain seorang wartawan, Gerson pun pengarang karya sastra yang sadar bahwa tugas pengarang tidak hanya menulis dan menuangkan kefiktifan dalam teks, tetapi ikut serta melanggengkan sosial masyarakat. Karena itu nuansa ketimuran dapat dengan mudah ditemui dalam karyanya.
Sejak kecil Gerson gemar membaca karya sastra dan ikut ayahnya bertugas sebagai seorang mantri kesehatan. Hal ini memungkinkan karya-karya yang diciptakannya mencerap dari berbagai lingkungan yang sempat disinggahi. Tidak mungkin bisa Gerson menampakkan Jakarta dalam karyanya kalau bukan hasil manifestasi pengembaraan. Karena, pada dasarnya menciptakan karangan tulis maupun lisan adalah mengulang kembali rekaman-rekaman indra ke dalam bentuk yang lain.
Latar belakang penulis dengan latar belakang cerpennya tersebut terlihat selaras. Dua entitas sosiologi masyarakat, Gerson sebagai seorang dari Irian Jaya yang dicengkeram tradisional dan pekerjaannya sebagai wartawan yang harus merasakan modernitas di suatu tempat. Komparasi sosiologi masyarakat tersebut ditampakkan gamblang melalui tokoh Matias, Pemuda, dan Parasutis.
Terlepas dari hal-hal yang melingkup terciptanya cerpen "Matias Akankari" Gerson membawa suara tradisional ke atas permukaan modrnitas sebagai alat komparasi sosiologi masyarakat. Karya sastra dan pengarangnya satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan, kecerdikan pengarang mengolah segala sesuatu yang ada di sekitarnya adalah modal utama.
Selain hal itu Gerson seolah ingin menyampaikan kepada pembaca bahwa kehidupan high class tidak harus dipandang satu arah. Setiap masyarakat berhak atas sudut pandang yang dimilikinya serta modernitas harus diselaraskan dengan kebutuhan dan nilai-nilai kemasyarakatan yang dibawa sejak lahir mesti tetap dijaga.
Modernitas kadang menuntut manusia atau masyarakat tertentu untuk mengikuti arus yang dibuat. Seperti yang dialami oleh tokoh Matias ketika ia merasa tersiksa memakai sepatu hingga kakinya terluka ketimbang di hutan dan rimba yang banyak duri dan onak, kakinya tidak terluka sama sekali. Penggambaran situasi ini jelas jika modernitas seperti tidak ada toleransi bagi siapa pun.
Pembaca merefleksikan diri sebagai satuan kolektif hidup yang harus berdampingan. Tidak mengutamakan kepentingan dan keputusan berlandas ego. Masyarakat yang telah mengenal modernitas tidak serta merta mengganggap masyarakat yang masih cengkeraman tradisonal dianggap primitif, atau sebaliknya yang sudah mengenal modernitas dianggap perusak alam semesta dibanding masih tradisional yang mengutamakan alam adalah gantungan hidup.
Karya sastra dan masyarakat pembaca saling memiliki keterkaitan. Karya sastra membutuhkan pembaca supaya tetap bermunculan ada karya baru yang terus bertambah jumlahnya sebagai konsumsi baca. Sedang masyarakat pembaca membutuhkan pengetahuan-pengetahuan dan pelajaran moral yang tidak dapat dijangkau oleh materil, waktu dan tempat. Sebab sebaik-baiknya karya sastra memberikan stimulus baru agar seseorang atau kelompok berpikir.

Comments

Popular posts from this blog

Analisis Buku Teks Bahasa Indonesia Kelas XI Kurikulum 2013

ANALISIS BUKU TEKS BAHASA INDONESIA KELAS XI KURIKULUM 2013 Diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah Telaah Kurikulum dan Buku Teks Dosen pengampu Slamet Triyadi S.Pd.,M.Pd. Disusun oleh: kelompok   (4D/ PBSI) Eni Nadia Pega 1610631080062 Irvan Syahril 1610631080093 Kiki Dwi Yulianti 1610631080100 Novia Windi Hastuti 1610631080142 Siska Krisnawati 1610631080191 Yulan Nurul Istiqomah 1610631080226 PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SINGAPERBANGSA KARAWANG 2018 KATA PENGANTAR Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas terselesaikannya makalah “Analisis Buku Teks Bahasa Indonesia Kelas XI Kurikulum 2013”. Semoga makalah ini menjadi makalah yang bermanfaat bagi orang-orang yang membacanya. Tidak lupa kami juga mengucapkan banyak terima kasih atas bantuan dari pihak yan...

ANTOLOGI PUISI MENCATAT DEMAM BERADA DI JALAN RAMAI

pada batas rasa kehilangan ini, aku biru. PUISI seperti sebuah arsip dari sesuatu yang abstrak ke bentuk yang konkret atau bentuk yang dapat menggugah indera. Sesuatu yang abstrak itu, kemudian dituliskan dengan rangkaian kata yang memiliki estetika bunyi dan bermakna. Penyair adalah seseorang yang menangkap keabstrakan tersebut, dan kemudian membawanya ke tengah pembaca sebagai sebuah tawaran menikmati sesuatu yang sudah ada maupun sesuatu yang baru. Keberangkatan awal penyair mencari sesuatu yang abstrak dimulai dari yang paling dekat dengan dirinya, yaitu diri sendiri. Kita mungkin pernah merasa kalau orang-orang di sekeliling tidak ada yang bisa memahami diri kita yang sedang putus asa, kecewa, dsb. Dari sanalah kita berperan memahami diri kita sendiri. Begitu pun penyair, ia berangkat dari dalam diri, lalu temuan-temuannya itu bisa dikaitkan dengan ikhwal di luar atau di dalam dirinya. Penyair hanya memilih beberapa temuan-temuannya dari sekian banyak temuan. Temuan yang p...

Kita Menua Bersama Puisi

Lampu kota terbangun ketika kita datang suara-suara roda pula klakson teriak di luar sana. Sementara kita menunggu pesanan datang; satu cinta untukmu dan satu rindu untuk dibawa pulang. Di atas meja. Matamu menikam degupku yang kurahasiakan darimu. Sesaat setelah matamu terbenam dalam mataku, mendadak luruh dan beterbangan puisi-puisi yang menyangga pertemuan kita. Malam ini kau adalah sajak yang meniduri pelupuk mataku, menepuk cintaku di ujung pintu. Kau seperti ombak yang meninggi dan segera menghempas dan aku batu karang yang akan menyambut ombak rasa sakitmu. Malam ini. Di atas meja bundar kau berkisah tentang kasih. Lalu, beberapa menit kemudian pesanan datang "Cinta ini, untuk siapa?" katamu ketus. "Untukmu dan rindu yang akan kau bawa pulang." Gumamku. Kau segala definisi dalam puisi yang kucintai, segala  waktu yang memeluk tubuhku  ketika menguraimu jadi kalimat indah. Ah kau. Mengapa lama-lama sekali? Peganglah tanganku dan kita ...